Minggu, 25 Oktober 2020

Pengaruh Revolusi Industri Eropa pada Wilayah-Wilayah Koloni

 

Memasuki abad ke-18, Eropa telah memanfaatkan tenaga mesin sebagai alat produksi di pabrik–pabrik menggantikan tenaga manusia, ekonomi yang sebelumnya berorientasi pada agraria beralih menjadi industri. Perubahan inilah yang kemudian disebut sebagai Revolusi industri. Revolusi Industri ini membawa dampak signifikan dalam kehidupan masyarakat baik itu dalam ekonomi, politik, maupun sosial budaya.

Revolusi industri membuat negara-negara Eropa semakin membutuhkan wilayah koloni. Karena Revolusi Industri meningkatkan kapasitas produksi negara-negara Barat, maka terjadi kebutuhan yang sangat besar akan bahan mentah demi memenuhi permintaan, sementara wilayah yang luas juga membuat permintaan pasar semakin besar pula. Dengan demikian, negara-negara industri memperluas koloni di mana terdapat bahan mentah berlimpah sebagai impor bahan baku produksi dan mengekspornya kembali ke wilayah koloni sebagai barang jadi. Koloni menyediakan negara industri pasar yang siap pakai untuk membeli barang-barang mereka, karena masyarakat di koloni kurang lebihnya tidak memiliki kemampuan signifikan dalam menghasilkan produk mereka sendiri. Menguasai banyak wilayah memberi kemampuan untuk menekan kemampuan mereka dalam memproduksi barang dan menciptakan outlet pasar untuk produk mereka sendiri.

Dengan kata lain, penyebaran pengaruh dari Revolusi Industri ini menyebabkan pergeseran dalam strategi perdagangan dengan daerah koloni. Ketika sebelumnya negara Eropa menjadi pembeli utama produk kolonial (impor), pasca Revolusi Industri negara-negara industri menjadi penjual (ekspor) dengan memanfaatkan wilayah koloni sebagai pasar untuk meningkatkan volume produksi. Sejalan dengan hal ini, terjadi pergeseran permintaan komoditas yang diproduksi di daerah kolonial. Rempah-rempah, gula, dan budak menjadi kurang diminati seiring dengan kemajuan industrialisasi, digantikan dengan mulai meningkatnya permintaan bahan mentah industri (misalnya kapas, wol, bahan pewarna, dan lain sebagainya) dan komoditas perkebunan (gandum, teh, kopi, coklat, dan lain sebagainya).

Afrika pada abad ke-19 misalnya, negara Eropa menyebabkan pengaruh yang besar pada pertanian tradisional dan praktik penggembalaan. Selama berabad-abad, petani lokal telah beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan dengan kondisi tersebut. Namun, orang Eropa menganggap teknik pertanian seperti itu sia-sia dan tidak sesuai dengan tanaman ekspor yang ingin mereka tanam. Di seluruh benua Afrika, kaum imperialis mengambil alih tanah dan mengarahkan produksinya menjadi tanaman komersial untuk diekspor: seperti kapas, kopi, tebu, dan kakao. Salah satu akibat langsung dari hal ini adalah produksi pangan untuk mayoritas penduduk koloni terabaikan, dan perekonomian lokal mengalami penurunan.

Pergeseran pola perdagangan ini juga menyebabkan perubahan jangka panjang dalam kebijakan politik dan praktik pemerintahan kolonial serta akuisisi wilayah koloni.  Berbagai peninjauan ulang kebijakan juga terjadi sebagai bagian dari konflik politik nasional dari tiap negara-negara industri Eropa. Seperti misalnya monopoli perdagangan British East India Company. Berbagai ekspor komoditas yang sebelumnya diberikan hak monopoli kemudian dianggap sebagai hambatan bagi pengembangan pasar untuk produksi Inggris, sehingga pada akhirnya, kekuasaan-kekuasaan perusahaan dagang di wilayah koloni melemah dan wilayah-wilayah tersebut diambil alih secara langsung oleh negara. Keinginan untuk menciptakan pasar dan tekanan kebutuhan bahan baku dan komoditas baru tercermin dalam praktik kebijakan koloni, yang berusaha untuk menyesuaikan daerah kolonialnya dengan prioritas baru industri. Adaptasi ini akhirnya juga ikut melibatkan perubahan besar dalam sistem sosial dari berbagai wilayah-wilayah koloni Eropa di seluruh dunia.

Kemudian, akibat dari hal tersebut terjadi pergeseran total antara penduduk dan sistem kehidupan sosial budaya masyarakat pribumi menjadi sistem yang mirip dengan masyarakat Eropa. Contoh yang paling jelas terdapat pada koloni di benua Amerika. Perubahan sosial budaya masyarakat pribumi dapat terjadi karena salah satu atau gabungan dari dua alasan. Pertama, masyarakat pribumi tersisih dan terusir (dalam beberapa peristiwa tertentu, dibasmi) sehingga memberikan ruang bagi pemukim dari Eropa untuk mengakuisisi wilayah dan tanah hingga ke pedalaman dan mengembangkan industri pertanian dan perkebunan tanah-tanah ini di bawah sistem sosial yang diimpor dari negara-negara penjajah. Atau kedua, masyarakat pribumi “terpaksa” menyesuaikan dengan perubahan yang dibawa oleh negara-negara tersebut.

Ada juga kemajuan baru dalam bidang kedokteran, di bidang kesehatan semakin banyak obat-obatan ditemukan dan ilmu kedokteran berkembang menghasilkan upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan yang semakin baik. yang memungkinkan orang Eropa untuk lebih tahan terhadap penyakit-penyakit tertentu di wilayah asing, seperti malaria atau demam kuning. Dengan demikian, Revolusi industri memberikan bangsa Eropa kemampuan untuk memperluas wilayahnya lebih cepat, dengan begitu juga mempengaruhi keadaan politik di kawasan-kawasan tersebut.

Selama abad ke-18, dan semakin terlihat jelas pada abad ke-19 dan ke-20, kesenjangan antara negara-negara yang berteknologi maju dan daerah-daerah terbelakang terus meningkat meskipun teknologi modern telah menyebar ke daerah-daerah koloni. Aspek terpenting dari perbedaan ini adalah keunggulan persenjataan, karena keunggulan ini memungkinkan bangsa Eropa mampu menekan kekuasaannya pada penduduk kolonial meskipun berjumlah jauh lebih besar. Dan bersama dengan hal ini, muncul pandangan dari kekuasaan minoritas orang asing tentang rasisme dan superioritas bangsa Eropa yang memandang koloninya sebagai bangsa yang lebih inferior, hal ini juga menjadi salah satu penyebab bergesernya sistem sosial budaya pada masyarakat pribumi, seperti yang telah disebutkan diatas.

Adapun dalam beberapa masa tersebut, Ekspansi kolonial mengakibatkan perlawanan dari bangsa yang dijajah. Disisi negara koloni juga terjadi persaingan pengaruh wilayah kekuasaan hingga terjadi konflik, misalnya perang dunia. Melihat persaingan antara kekuatan penjajah ini, beserta berbagai faktor faktor lain seperti perkembangan pendidikan, kemudian timbul kesadaran berbangsa dan bernegara yang semakin kuat, sehingga memunculkan gerakan-gerakan kemerdekaan di berbagai wilayah koloni.

Bisa dikatakan, revolusi industri ini merupakan pendorong utama di balik proses globalisasi. Dalam masyarakat tradisional, seseorang atau sekelompok masyarakat dapat hidup mandiri dalam memenuhi sebagian besar kebutuhan mereka. Makanan dan pakaian dapat diambil sebagian besar dari tanah atau hewan. Pasca revolusi industri, segala bentuk kebutuhan ini baru didapatkan melalui berbagai perdagangan regional dan global yang luas dan saling mempengaruhi berbagai aspek-aspek kehidupan. Revolusi industri ini jugalah yang mempengaruhi (dan dipengaruhi) berbagai paham-paham ekonomi, seperti kapitalis-liberal atau sosialis-komunis, yang mana berbagai paham-paham ini juga akan mempengaruhi berbagai sistem politik, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat hingga beberapa dekade kedepannya.

 

Referensi

1.      Parvanova, D. (2017). The industrial revolution was the force behind the New Imperialism. ESSAI, 15(2), 95-99.

2.      Davut, A. T. E. Ş. (2008). INDUSTRIAL REVOLUTION: Impetus Behind the Globalization Process. YÖNETİM VE EKONOMI, 15(2) 31-48.

3.      Fajariah, M., & Suryo, D. (2020). Sejarah Revolusi Industri di Inggris Pada Tahun 1760-1830. HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, 8(1), 77-94.

4.      Baiquni, M. (2009). Revolusi industri, ledakan penduduk dan masalah lingkungan. Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan, 1(1), 38-59.

5.      Britannica. “European Expansion Since 1763”. <https://www.britannica.com/topic/Western-colonialism/European-expansion-since-1763> (diakses pada 13 Oktober 2020).

6.      Industrial Revolution Reference Library. "Social and Political Impact of the First Phase of the Industrial Revolution". <https://www.encyclopedia.com/history/encyclopedias-almanacs-transcripts-and-maps/social-and-political-impact-first-phase-industrial-revolution> (diakses pada 14 Oktober 2020).

 

p.s: iseng kuapload, ini sebenarnya cuma salah satu tugas kuliah dari almarhum dosen favoritku

Share:

Negara Kota Italia dalam Renaisans

Renaisans (kelahiran kembali) merupakan gerakan yang memengaruhi kehidupan intelektual Eropa di awal abad 14-15. Dimulai di Italia dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa pada abad ke-16, pengaruhnya dapat dilihat dalam seni, arsitektur, filsafat, sastra, musik, sains & teknologi, politik, agama, dan aspek intelektual lainnya. tokoh-tokoh Renaisans mencari realisme dan emosi manusia dalam seni menggunakan metode humanisme (dan umumnya sekuler) dalam studinya.

Pada masa Renaisans, Italia diperintah oleh sejumlah negara kota dengan perekonomian yang cukup berpengaruh di Eropa. Negara kota merupakan wilayah yang berdiri secara mandiri, dimana kota tersebut umumnya memiki kedaulatan sendiri dalam menentukan sistem politiknya. Kebanyakan orang yang tinggal di negara kota saat itu adalah pengrajin dan pedagang sebagai kelas masyarakat yang berkembang selama Renaissance. beberapa diantara yang berpengaruh dalam perkembangan Renaissans antara lain Florence, Milan, Venesia, dan Roma, tetapi beberapa lainnya di Italia juga memiliki peran yang cukup signifikan. Sebagai suatu entitas perekonomian yang cukup besar, negara-negara kota ini memainkan peran penting dalam perkembangan Renaisans. Kekayaan negara tersebut memungkinkan keluarga terkemuka untuk mendukung seniman, ilmuwan, dan filsuf dalam memacu ide-ide baru.

Florence

Florence berkembang di bagian utara semenanjung Italia, dikelilingi perbukitan dengan Sungai Arno di tengahnya. Dengan demikian, wilayah Florence berkembang di lembah perbukitan dan di sekitar sungai.

Secara ekonomi, Industri terbesar dan terkuat di kota itu adalah perbankan. Dimana tokoh-tokoh dari kota tersebut merupakan bankir terkenal dengan cabang-cabang perbankan Florentine yang tersebar di kota-kota besar Eropa. Kota ini juga menciptakan Florin, mata uang utama yang ada pada saat itu. Florence juga didukung oleh industri wol. Mereka memiliki hubungan komersial dengan Inggris dan mendapatkan wol utuh dari sana. Mereka menenun dan mewarnai wolnya sehingga produk tersebut menjadi jauh lebih berharga untuk diekspor.

Secara politis, wilayah Florence merupakan wilayah republik yang pada praktiknya menjadi persaingan beberapa keluarga saudagar-saudagar yang memegang kuat perekonomian, semisal Strozzi, Albizzi, Medici, dan lain-lain. Diantara keluarga-keluarga tersebut Medici menjadi salah satu yang paling berpengaruh dalam perkembangan Renaisans. Melalui Medici Bank, yang pertama kali dibuat pada 1397 dan berkembang menjadi yang terbesar di Eropa selama Renaisans, memungkinkan mereka untuk memegang kendali politik dan ekonomi di Eropa. keluarga Medici memperoleh kendali politik atas Florence pada tahun 1430-an, yang pada akhirnya mengarah pada berakhirnya Republik Florence dan memimpin pemerintahan mereka sebagai raja atas negara kota tersebut.

Cosimo de Medici (27 September 1389 - 1 Agustus 1464) merupakan anggota keluarga Medici pertama yang mengendalikan Florence. Meskipun Florence masih dianggap sebagai sebuah republik pada awal pemerintahan Medici, kekayaan dan kekuasaan dari Medici memungkinkan Cosimo de Medici dapat secara efektif menguasai wilayah tersebut. Hal ini membuat Cosimo de Medici mampu mendukung seni dan humanisme Renaisans awal di Florence yang membantu membuat negara kota itu sebagai pusat Renaisans Eropa. Misalnya, dia membangun banyak bangunan cikal bakal Renaisans seperti perpustakaan, gereja, dan akademi, salah satu pencapaian arsitektur awal Renaisans adalah kubah besar di Katedral Florence. Selain itu, dia menengahi negosiasi Perjanjian Lodi 1454. Perjanjian ini mengakhiri perang antara Florence dan negara kota lain seperti Venesia, Milan, Roma, dan Napoli. Cosimo juga mengoleksi buku yang menjadi Perpustakaan Medici (disebut juga Perpustakaan Laurentian) yang kemudian dikembangkan oleh Lorenzo.

Cosimo de Medici digantikan oleh putranya Piero di Cosimo de Medici (1416 - 2 Desember 1469) dan kemudian cucunya Lorenzo de Medici (1 Januari 1449 – 8 April 1492). Lorenzo de Medici melanjutkan kekuasaan kakeknya dan mensponsori beberapa seniman dan pematung Renaisans terkenal, kekuasan Lorenzo mencakup seniman seperti Piero dan Antonio del Pollaiuolo, Andrea del Verrocchio, Leonardo da Vinci, Sandro Botticelli, Domenico Ghirlandaio dan Michelangelo Buonarroti, yang berperan penting dalam pencapaian Renaisans abad ke-15. Meskipun Lorenzo tidak membuat banyak karya sendiri, dia membantu para seniman ini untuk mendapatkan komisi dari pelanggan lain.

Setelah kematian Lorenzo pada tahun 1492, putranya Piero mewarisi kekuasaan di Florence, namun kemudian diasingkan pasca invasi Charles VIII dari Perancis, dan kekuasan Medici atas Florence berakhir dengan dipulihkannya Republik. Meski begitu, pengaruh Medici masih cukup kuat di Florence, hal ini dapat dilihat melalui buku “Il Principe” (Sang Pangeran/the Prince) karya tokoh politik Renaisans dari Florence pada saat itu, Niccolo Machiavelli yang dalam bukunya masih memiliki kaitan dengan keluarga Medici.

Milan

Milan berkembang di bagian utara semenanjung Italia, dekat Pegunungan Alpen. Di Milan, ketika keluarga Sforza memegang kekuasaan, Mereka membawa kedamaian ke wilayah tersebut pasca perang Lombard (sejalan dengan perjanjian Lodi), dan dengan kedamaian muncul ide dan seni baru dari Renaisans.

kekuasaan Sforza atas Milan terjadi antara 1450 hingga 1519 dan merupakan puncak negara tersebut selama Renaisans. Pada masa ini, kota ini makmur secara ekonomi memanfaatkan letak geografisnya di Italia utara, Milan mampu mengendalikan sebagian besar perdagangan darat yang terjadi di wilayah sekitarnya melalui lokasinya di sepanjang jalan sutra, dan posisi dekat wilayah tersebut dengan Mediterania. Dari Jalur Sutra tersebut, Milan mengimpor rempah-rempah, sutra, dan pewarna, komoditas tersebut kemudian mendongkrak status ekonomi Milan. Milan juga mengekspor barang mewah saat itu, semacam tekstil, topi, dan produk sutra lainnya.

Pertumbuhan ekonomi ini memungkinkan keluarga Sforza untuk mendukung pertumbuhan Milan melalui artistik juga. Diantaranya, keluarga Sforza mendukung pembangunan Castello Sforzesco (Kastil Sforza) dan Santa Maria delle Grazie (Gereja 'Holy Mary of Grace') pada abad ke-15. Santa Maria delle Grazie adalah pusat pembelajaran di Milan, mereka mengajarkan trivium dan quadrivium. Trivium adalah seni liberal tingkat bawah, yang diterima sebagian besar atau semua orang seperti tata bahasa, logika, dan retorika. Quadrivium diajarkan kepada kebanyakan orang, tetapi tidak semua. Termasuk aritmatika, geometri, musik, dan astronomi. Quadrivium adalah topik persiapan untuk studi filsafat dan teologi.

Keluarga Sforza terkait erat dengan keluarga Medici di Florence dan hubungan ini memberi kesempatan Sforza menugaskan seniman Renaisans terkenal Leonardo da Vinci. Misalnya, da Vinci menawarkan jasanya kepada Sforza sebagai penemu untuk membantu mereka merancang dan menggunakan berbagai jenis penemuan untuk perang. Walau begitu, hubungannya dengan Milan paling baik dicontohkan dalam lukisan, yaitu ‘perjamuan terakhir’.

‘perjamuan terakhir’ adalah salah satu lukisan paling terkenal sepanjang periode waktu Renaisans. Dilukis oleh da Vinci pada 1490-an dan saat ini disimpan di Santa Maria delle Grazie di Milan. Lukisan itu dipesan oleh Ludovico Sforza yang merupakan Adipati Milan pada saat itu. Keluarga Sforza menyewa da Vinci untuk menyelesaikan pekerjaan berdasarkan rekomendasi dari Medici di Florence. Pada saat Sforza mendirikan Santa Maria delle Grazie sebagai mausoleum keluarga mereka (makam keluarga), mereka ingin ‘perjamuan terakhir’ menjadi pusat mausoleum. Hari ini, itu tetap menjadi bagian utama dalam sejarah seni Renaisans Milan.

Venesia

Venesia berkembang di sepanjang pantai bagian timur laut semenanjung Italia di Laut Adriatik. Venesia menjadi negara kota yang kuat melalui perdagangan dengan Timur Jauh melalui dominasi maritim di sekitar Adriatik dengan mengimpor produk seperti rempah-rempah dan sutra.

Kekayaan dan kekuasaan yang diperoleh Venesia selama Abad Pertengahan dan Renaisans, membantu menumbuhkan kelas saudagar yang kuat yang memperoleh keuntungan besar dari perdagangan. Para saudagar ini menggunakan kekayaan mereka untuk membuat karya seni dan mendukung seniman, yang menjadi dampak utama Renaisans di Italia.

Aspek penting lainnya dari kehidupan Venesia adalah Scuole Grandi, yang diterjemahkan menjadi 'Sekolah Besar'. Scuole Grandi dikenal sebagai organisasi amal dan religius yang beroperasi sebagai bagian penting dari struktur sosial Venesia. Misalnya, Scuole Grandi mengizinkan anggota dari semua kelas di masyarakat Venesia. Karena Dewan Agung yang hanya terdiri dari keluarga-keluarga kaya aristokrat Venesia, kebanyakan memandang Scuole Grandi lebih representatif karena memungkinkan orang-orang dari kelas bawah untuk mempengaruhi negara tersebut. Sebagai bagian dari fungsinya, Scuole Grandi dikenal melakukan beberapa kegiatan berbeda, termasuk mensponsori perayaan di Venesia, membagikan makanan dan pakaian kepada anggota yang lebih miskin, melakukan penguburan orang miskin, dan administrasi rumah sakit di negara itu.

Banyak orang penting muncul dari Venesia antara masa Pertengahan dan Renaisans. Salah satu tokoh penting tersebut adalah penjelajah terkenal Marco Polo (1254 - 8–9 Januari 1324), ia terkenal karena perjalanannya ke Tiongkok dan tulisan tentang petualangannya. Dalam tulisannya, dia berbicara tentang kehidupan di Asia termasuk Jalur Sutra.

Genoa

            Genoa berkembang di sepanjang pantai bagian barat laut semenanjung Italia di sebelah Laut Liguria. Kota Genoa terletak di sepanjang pantai di antara Laut Mediterania dan Pegunungan Apennine, berhadapan langsung dengan pulau Corsica, yang juga selama beberapa waktu menjadi wilayah Genoa.

Kekuatan Genoa sebagai negara kota Renaisans naik pada abad ke-15, melalui munculnya bank-bank di Genoa, seperti Bank of Saint George (dikenal sebagai Banco San Giorgio dalam bahasa Italia). Didirikan pada 1407, Bank of Saint George awalnya didanai dan didirikan oleh beberapa keluarga terkaya dan terkuat di Genoa.

Tokoh paling berpengaruh di Genoa adalah Andrea Doria. Doria merupakan seorang Laksamana yang memimpin Genoa dibawah pengaruh Spanyol sekaligus Kaisar Romawi Suci Charles V pada tahun 1528. Bank besar Genoa memainkan peran penting dalam sejarah Spanyol, Misalnya, mereka mendanai Charles V dan upayanya menuju ‘Dunia Baru’, dengan kata lain memiliki pengaruh pada ekspedisi penjelajah selama Zaman Eksplorasi.

Banyak orang penting muncul dari Genoa pada Abad Pertengahan hingga Renaisans. Salah satu tokoh penting tersebut adalah Christopher Columbus. Ia lahir pada tahun 1451 di Genoa, meskipun ia tidak tinggal lama di negara itu dan menjadi terkenal di tempat lain. Ia terkenal karena perjalanannya pada tahun 1492 yang memulai migrasi besar-besaran orang Eropa ke Amerika selama Zaman Eksplorasi. Kemunculan Columbus dari Genoa begitu penting karena menunjukkan berpengaruhnya pelayaran negara kota pada saat itu.

Roma

Roma berkembang di wilayah tengah semenanjung Italia, terletak di dekat Sungai Tiber. Sebagai negara teokrasi, Paus memerintah baik Gereja Katolik maupun negara kota Roma (Papal States). Roma menjadi pendukung seni dan Renaisans melalui dukungan kepada seniman seperti Raphael dan Michelangelo. Michelangelo bekerja sebagai arsitek di Basilika Santo Petrus dan melukis langit-langit Kapel Sistina.

Renaisans di Roma berkembang melalui kepemimpinan beberapa Paus sepanjang abad ke-15 dan ke-16. Seperti pada masa Martin V misalnya, Donatello pergi ke Roma untuk mempelajari seni klasik dan menggali reruntuhan Romawi kuno,  membantu Donatello mengembangkan pemahaman tentang patung klasik yang akan membantu membentuk dan memengaruhi seninya sendiri, dia tetap di Roma sampai 1433. Selain itu, seniman Renaisans terkenal Masaccio melakukan perjalanan ke Roma pada tahun 1423, bersama dengan mentornya Masolino.

Paus Martin V setelah kematiannya pada tahun 1431 digantikan oleh Paus Eugenius IV. Meski kepausannya merupakan masa yang cukup sulit bagi Roma, tetapi masih memiliki beberapa kontribusi besar pada Renaisans. Misalnya, dia menugaskan pematung Florentine Antonio Averulino untuk membuat dua pintu perunggu Basilika Santo Petrus, yang dia selesaikan pada tahun 1445. Paus Eugenius IV meninggal pada tahun 1447 dan digantikan oleh Paus Nicholas V Hingga 1455. Nicholas V paling dikenang dari karyanya dengan Leon Battista Alberti, yang merupakan seorang arsitek, penulis, sarjana humanis, dan penyair Italia. Karena banyak bakatnya, sejarawan menganggapnya sebagai contoh konsep Manusia Renaisans. Bersama-sama, Nicholas V dan Alberti membuat rencana untuk membangun beberapa proyek besar di Roma termasuk banyak gereja.

Paus berikutnya yang terkait dengan perkembangan Renaisans di Roma adalah Paus Sixtus IV, anggota keluarga Della Rovere yang mengabdi dari tahun 1471 hingga 1484. Beberapa seniman Renaisans terkemuka dipekerjakan untuk menyelesaikan lukisan dinding di bagian dalam kapel sistina, seperti Sandro Botticelli, Pietro Perugino, Pinturicchio, Domenico Ghirlandaio dan Cosimo Rosselli. Pada 1508 hingga 1512, Michelangelo dipekerjakan untuk mengecat langit-langit Kapel Sistina. Langit-langit Kapel Sistina telah menjadi salah satu pencapaian artistik yang paling dikenal. Ia juga mendirikan koleksi seni publik tertua di dunia yang sekarang menjadi bagian utama museum Capitoline, dan ia juga secara signifikan meningkatkan perpustakaan Vatikan hingga menjadikannya area publik.

Paus lain yang penting bagi Renaisans di Roma adalah Leo X. Ia adalah Paus dari Maret 1513 hingga kematiannya pada 1521. Paus Leo X lahir sebagai Giovanni di Lorenzo de Medici dan merupakan putra dari Lorenzo de Medici, dari keluarga Medici Florence yang telah disebutkan sebelumnya. Dia adalah pendukung seni selama Renaisans dan terkait erat dengan seniman Renaissance terkenal Raphael.

Napoli

Napoli berkembang di bagian barat daya semenanjung Italia, kota Napoli terletak di pantai semenanjung di samping Teluk Napoli, yang merupakan bagian dari Laut Tyrrhenian. Negara kota Napoli (Naples) menguasai sebagian besar Italia selatan pada masa Renaisans. Pada 1443 setelah Alfonso I menaklukkan wilayah tersebut, Dia mendukung seniman, penulis, dan filsuf Renaissance.

Alfonso I (1396 - 27 Juni 1458) adalah Raja Aragon (dikenal sebagai Alfonso V dari Aragon) di Semenanjung Iberia (sekarang Spanyol) dan dianggap sebagai tokoh signifikan dalam transformasi Napoli menjadi pusat Renaisans Italia. Dia menyukai sastra klasik dan sering mengundang para sarjana ke istananya untuk berpartisipasi dalam debat terbuka. Selain itu, dia mempromosikan dan memesan lukisan minyak, yang menjadikan negara kota itu sebagai pusat seni Renaisans. Misalnya seniman seperti Laurana, da Messina, Sannazzaro dan Poliziana. Ia terkenal membantu mendirikan Akademi Napoli, dia juga membantu mendirikan museum dan perpustakaan di seluruh kota yang sejalan dengan upaya renaisans saat itu. Pada puncak kekuasaannya, Alfonso menguasai sebagian besar wilayah di Eropa, termasuk seluruh Italia selatan, sehingga membantu memperluas pengaruh Napoli di wilayah lain.

Urbino

Urbino adalah Kota perbukitan kecil yang menjadi asal kepemimpinan adipati Federico da Montefeltro (7 Juni 1422 - 10 September 1482), ahli strategi militer handal di zaman Renaisans. Sebagai Condottieri (atau pada umumnya, tentara bayaran), ia memanfaatkan pengaruh dan pendapatan yang diperoleh dari konflik bersenjata untuk membangun kotanya menjadi pusat pembelajaran dan budaya humanis. Bangunan dan ruang publik yang dia hasilkan kepada Urbino menggambarkan arsitektur kuno yang diciptakan kembali oleh Renaisans.

Perpustakaan yang dibangun Federico adalah salah satu yang paling mengesankan di seluruh Italia abad ke-15. Stafnya diantaranya empat guru tata bahasa, logika, dan filsafat dan empat sebagai transkrip naskah yang bekerja di perpustakaan istana. Dibangun pula dua area (studioli) di mana dia dapat menikmati kegiatan humanisnya, salah satu di istana Urbino, yang lainnya di kota terdekat Gubbio, studiolo ini berisi manuskrip dan buku yang suka dibaca Federico da Montefeltro. Sehingga, bukannya digambarkan di monumen berkuda seperti condottieri pada umumnya, Federico justru lebih digambarkan sebagai seorang sastrawan.


Referensi

1.      “Renaissance: Italian City-States”. ducksters.com. diakses pada 17 September 2020. <https://www.ducksters.com/history/renaissance/italian_city-states.php>

2.      CrashCourse. “Florence and the Renaissance: Crash Course European History #2” youtube.com. 19 April 2019. diakses pada 18 September 2020. <https://www.youtube.com/watch?v=tecocKSclwc&t=638s&ab_channel=CrashCourse>

3.      CrashCourse. “The Renaissance: Was it a Thing? - Crash Course World History #22”. youtube.com. 21 Juni 2012. diakses pada 18 September 2020. <https://www.youtube.com/watch?v=Vufba_ZcoR0&t=77s&ab_channel=CrashCourse>

4.      Josh. “The Most Influential City-State of the Renaissance”. prezi.com. 10 November 2015. diakses pada 21 September 2020. <https://prezi.com/ghxbdxka28tc/the-most-influential-city-state-of-the-renaissance/>

5.      Extra Credits. "Urbino - The Light of Italy: Federico da Montefeltro - Extra History". youtube.com. 16 Juli 2016. diakses pada 21 September 2020. <https://www.youtube.com/watch?v=kAfNQ_XiPjQ&t=347s&ab_channel=ExtraCredits>

6.      Huynh, Brandon. "Italian City-States". prezi.com. 10 Desember 2014. diakses pada 21 September 2020. <https://prezi.com/ye4crltxr4rn/italian-city-states/>

7.      Hahn, Hunter. "Renaissance". prezi.com. 20 Oktober 2016. diakses pada 21 September 2020. <https://prezi.com/zkhjbxlebfyp/renaissance/>

8.      The School of Life. "HISTORY OF IDEAS - The Renaissance". youtube.com. 6 November 2015. diakses pada 22 September 2020. <https://www.youtube.com/watch?v=fI1OeMmwYjU&t=710s&ab_channel=TheSchoolofLife>

9.      "Milan in the Renaissance". historycrunch.com. 18 Agustus 2018. diakses pada 22 September 2020. <https://www.historycrunch.com/milan-in-the-renaissance.html#/>

10.  "Genoa in the Renaissance". historycrunch.com. 18 Agustus 2018. diakses pada 22 September 2020. <https://www.historycrunch.com/genoa-in-the-renaissance.html#/>

11.  "Venice in the Renaissance". historycrunch.com. 18 Agustus 2018. diakses pada 22 September 2020. <https://www.historycrunch.com/venice-in-the-renaissance.html#/>

12.  "Rome in the Renaissance". historycrunch.com. 18 Agustus 2018. diakses pada 22 September 2020. <https://www.historycrunch.com/rome-in-the-renaissance.html#/>

13.  "Naples in the Renaissance". historycrunch.com. 18 Agustus 2018. diakses pada 22 September 2020. <https://www.historycrunch.com/naples-in-the-renaissance.html#/>

14.  “The Renaissance Period”. aboutroma.com. diakses pada 22 September 2020. <http://www.aboutroma.com/history-of-rome/renaissance.html>

15.  "Florence in the Renaissance". historycrunch.com. 18 Agustus 2018. diakses pada 22 September 2020. <https://www.historycrunch.com/florence-in-the-renaissance>

16.  "Milan during the Renaissance". prezi.com. 4 November 2015. diakses pada 23 September 2020. <https://prezi.com/mzxx1u5ynewy/milan-during-the-renaissance/>

17.  “Urbino”. italianrenaissanceresources.com. diakses pada 23 September 2020. http://www.italianrenaissanceresources.com/units/unit-8/essays/urbino/ (diakses pada 23 September 2020)

18.  Lindsey-Gonzales, Dominique. “Rome & Renaissance 1300's - 1500's”. 14 Juli 2015. diakses pada 23 September 2020 <https://prezi.com/8f4dte8egjz_/rome-renaissance-1300s-1500s/>

       19.  “The library of duke Federico da Montefeltro at Urbino”. Diakses pada 23 September 2020.                 <https://staikoslibraries.gr/en/renaixement/the-library-of-duke-federico-da-montefeltro-at-                        urbino.html> 



p.s: iseng kuapload, ini sebenarnya cuma salah satu tugas kuliah dari almarhum dosen favoritku

Share:

Rabu, 14 Oktober 2020

Rodrigo Diaz de Vivar, Pemimpin Pasukan Kristiani dan Muslim


Rodrigo Diaz de Vivar merupakan seorang panglima perang dari spanyol pada masa kekuasaan muslim dan Reconquista. Ia lebih dikenal dengan sebutan El Cid oleh kelompok muslim (kemungkinan dari “al-sayyid”) dan Campeador oleh umat kristiani (“the Champion”).

Rodrigo lahir pada tahun 1047 di Vivar (sekarang dekat Burgos, Spanyol) dari ibu seorang aristokrat, sedangkan ayahnya merupakan birokrat dan prajurit bernama Diego Lainez. Ia mengabdi pada putra raja Ferdinand I dari Castille, Sancho II hingga ia naik tahta pada tahun 1065. Sebelumnya Ferdinand I memutuskan akan membagikan wilayah kekuasaan pada anak-anaknya, dalam hal ini, Sancho mendapatkan kerajaan Castille, Alfonso di Leon, dan Garcia di Galicia, sementara kedua putrinya, Urraca dan Elvira mendapat masing-masing di Zamora dan Toro. Hal ini kemudian berujung Pada 1072, raja Sancho II dan saudaranya, Raja Alfonso VI dari Leon, bertempur di Golpejera. Dalam pertempuran itu, Alfonso dikalahkan dan diasingkan. Garcia II dari Galicia juga dikalahkan di Santarem kemudian.

Rodrigo ikut serta dalam setiap kampanye militer Sancho II hingga ia menyatukan kerajaan ayahnya. sayangnya, di tahun yang sama ketika Sancho mengepung Zamora yang dipimpin oleh saudarinya Urraca (setelah sebelumnya menaklukkan Toro pimpinan Elvira dengan mudah), ia terbunuh oleh Bellido Dolvos, seorang bangsawan Zamora dengan berpura pura membelot dan masuk ke kamp Sancho II. Alfonso VI yang sebelumnya diasingkan kemudian kembali dan mewarisi tahta saudaranya. Rodrigo sendiri mengabdi pada Alfonso setelah memaksanya bersumpah tak terlibat dalam pembunuhan Sancho II.

Alfonso VI (jubah merah) disumpah di Santa Gadea, Rodrigo menjadi saksi di depannya

Pada 1074, Rodrigo menikahi Jimena (kemungkinan sepupu Alfonso VI). Lima tahun kemudian, tahun 1079 ia ditunjuk sebagai perwakilan menuju Sevilla pimpinan al-Mutamid untuk menarik upeti. Di saat yang sama, emir Abdallah ibn Bulughin dari Granada, didukung oleh Garcia Ordonez yang juga sesama bawahan Alfonso VI, menyerang Sevilla. Menanggapi hal ini, Rodrigo yang bertugas di Sevilla juga ikut serta mempertahankan wilayah pimpinan al-Mutamid tersebut dalam Pertempuran Cabra, dimana ia berhasil mengalahkan dan menangkap Garcia. Atas perbuatannya dalam bertempur melawan sesamanya sendiri (dan beberapa alasan politik yang tidak pasti), pamornya dalam lingkup kerajaan Castille turun, puncaknya (kemungkinan) pada 1081, ia diasingkan.

Sebagai seorang prajurit, Rodrigo sebelumnya menawarkan pelayanan pada Berenguer II di Barcelona, dan ditolak. Ia kemudian mengabdi pada pemimpin muslim di Zaragoza bernama Yusuf al Mu’taman. Pada 1084, pasukan Zaragosa pimpinan Rodrigo berhasil mengalahkan pasukan Aragon dalam pertempuran Morella. Atas perannya dalam memimpin pasukan muslim, ia mendapat julukan El Cid (beberapa sumber juga mengatakan bahwa julukan El Cid ia dapat ketika memimpin Valencia).

Tahun 1086, pasukan Almoravids pimpinan Yusuf ibn Tashfin, menyerbu Spanyol demi membantu pasukan muslim lainnya mempertahankan Andalusia dari Alfonso VI. Menanggapi hal ini, Alfonso VI kemudian memanggil kembali Rodrigo pada 1087.

Pada tahun 1092, al-Qadir, penguasa Valencia (dibawah kekuasaan Alfonso VI) dibunuh oleh Ibn Jahhaf yang pro-Almoravid, membuat Valencia rentan oleh serangan. Saat itu, Valencia merupakan titik vital di Iberia, Yusuf sendiri berniat menjadikan kota itu sebagai basis pendaratan pasukan Almoravid (sumber muslim menyebutnya al-Murabithun). Sementara itu, Berenguer Ramon II dari Barcelona bersama dengan sekutu muslimnya dari lerida, yang berniat menguasai kota itu dua tahun sebelumnya, dikalahkan oleh Rodrigo pada pertempuran Tevar, dengan itu mengurangi ancaman dan mengkonsolidasi kekuatannya di timur Iberia.

Pedang Tizona
Pasukan Rodrigo, yang terdiri dari gabungan tentara kristiani dan muslim, mulai mengepung Valencia, setelah sebelumnya merebut wilayah wilayah kecil di sekitarnya seperti El Puig dan Quart de Poblet. Setelah melalui pengepungan selama 2 tahun, Valencia berhasil ditaklukkan pada bulan Mei 1094. Rodrigo kemudian mengambil alih kekuasaan di Valencia, yang terdiri dari penduduk kristiani dan muslim pada saat itu (termasuk juga dalam ketentaraan dan pemerintahan). Ibn Jahhaf, setelah beberapa waktu dibawah kekuasaan Rodrigo, dieksekusi. Secara resmi, Rodrigo memimpin Valencia dibawah kekuasaan Alfonso VI, tetapi kenyataannya Rodrigo memimpin atas kekuasaanya sendiri.

Selama kekuasaannya di Valencia, kota itu mendapat tekanan dari Almoravid, dibuktikan dari serangan pada 1094 dan 1097, dimana ia berhasil mengalahkan keduanya dan mempertahankan kedudukannya dalam “kepangeranan” Valencia hingga akhir hayatnya, pada 10 Juli 1099. Kota Valencia kemudian dipimpin oleh Jimena Diaz, istrinya. Setelahnya, Valencia dikepung kembali oleh tentara Almoravid, Alfonso VI yang merasa Valencia tak dapat dipertahankan, kemudian memerintahkan untuk meninggalkannya. Valencia jatuh ke tangan Almoravid pada tahun 1102, yang terus menguasainya hingga tahun  1238.

makam Rodrigo dan Jimena
Terdapat legenda yang mengatakan bahwa setelah kematian Rodrigo, Jimena menempatkan jasadnya diatas kuda perangnya, Bavieca, dengan memakaikan baju perang lengkap dengan pedang “Tizona” di tangannya. Hal ini dilakukan demi menjaga moril pasukan dalam mempertahankan Valencia. Adapula di cerita yang lain, Jasad Rodrigo dan kuda perangnya bersama dengan pasukan berkuda lain pernah memenangkan pertarungan melawan musuh.

Yang pasti pada tahun 1101, Jimena, bersama dengan jasad Rodrigo dan sisa pasukannya, mundur ke Burgos, Castille. Jasadnya dimakamkan di biara San Pedro de Cardena, dekat Burgos, kemudian makamnya (bersama dengan makam istrinya) dipindahkan lagi ke Katedral Burgos. Kuda perangnya, Bavieca juga dimakamkan di area yang sama. sementara pedangnya, Tizona, saat ini diklaim tersimpan di Museum Burgos.
  
Daftar Pustaka 



Share: