Rodrigo Diaz de Vivar merupakan seorang panglima perang dari spanyol
pada masa kekuasaan muslim dan Reconquista.
Ia lebih dikenal dengan sebutan
El Cid oleh kelompok muslim (kemungkinan dari “al-sayyid”) dan Campeador
oleh umat kristiani (“the Champion”).
Rodrigo lahir pada tahun 1047 di
Vivar (sekarang dekat Burgos, Spanyol) dari ibu seorang aristokrat, sedangkan ayahnya
merupakan birokrat dan prajurit bernama Diego Lainez. Ia mengabdi pada putra
raja Ferdinand I dari Castille, Sancho II hingga ia naik tahta pada tahun 1065.
Sebelumnya Ferdinand I memutuskan akan membagikan wilayah kekuasaan pada
anak-anaknya, dalam hal ini, Sancho mendapatkan kerajaan Castille, Alfonso di
Leon, dan Garcia di Galicia, sementara kedua putrinya, Urraca dan Elvira
mendapat masing-masing di Zamora dan Toro. Hal ini kemudian berujung Pada 1072,
raja Sancho II dan saudaranya, Raja Alfonso VI dari Leon, bertempur di
Golpejera. Dalam pertempuran itu, Alfonso dikalahkan dan diasingkan. Garcia II
dari Galicia juga dikalahkan di Santarem kemudian.
Rodrigo ikut serta dalam setiap
kampanye militer Sancho II hingga ia menyatukan kerajaan ayahnya. sayangnya, di
tahun yang sama ketika Sancho mengepung Zamora yang dipimpin oleh saudarinya
Urraca (setelah sebelumnya menaklukkan Toro pimpinan Elvira dengan mudah), ia
terbunuh oleh Bellido Dolvos, seorang bangsawan Zamora dengan berpura pura
membelot dan masuk ke kamp Sancho II. Alfonso VI yang sebelumnya diasingkan
kemudian kembali dan mewarisi tahta saudaranya. Rodrigo sendiri mengabdi pada
Alfonso setelah memaksanya bersumpah tak terlibat dalam pembunuhan Sancho II.
![]() |
| Alfonso VI (jubah merah) disumpah di Santa Gadea, Rodrigo menjadi saksi di depannya |
Pada 1074, Rodrigo menikahi
Jimena (kemungkinan sepupu Alfonso VI). Lima tahun kemudian, tahun 1079 ia
ditunjuk sebagai perwakilan menuju Sevilla pimpinan al-Mutamid untuk menarik upeti. Di saat yang sama, emir Abdallah ibn Bulughin dari
Granada, didukung oleh Garcia Ordonez yang juga sesama bawahan Alfonso VI,
menyerang Sevilla. Menanggapi hal ini, Rodrigo yang bertugas di Sevilla juga
ikut serta mempertahankan wilayah pimpinan al-Mutamid tersebut dalam
Pertempuran Cabra, dimana ia berhasil mengalahkan dan menangkap Garcia. Atas
perbuatannya dalam bertempur melawan sesamanya sendiri (dan beberapa alasan
politik yang tidak pasti), pamornya dalam lingkup kerajaan Castille turun,
puncaknya (kemungkinan) pada 1081, ia diasingkan.
Sebagai seorang prajurit, Rodrigo
sebelumnya menawarkan pelayanan pada Berenguer II di Barcelona, dan ditolak. Ia
kemudian mengabdi pada pemimpin muslim di Zaragoza bernama Yusuf al Mu’taman.
Pada 1084, pasukan Zaragosa pimpinan Rodrigo berhasil mengalahkan pasukan
Aragon dalam pertempuran Morella. Atas perannya dalam memimpin pasukan muslim,
ia mendapat julukan El Cid (beberapa sumber juga mengatakan bahwa julukan El
Cid ia dapat ketika memimpin Valencia).
Tahun 1086, pasukan Almoravids
pimpinan Yusuf ibn Tashfin, menyerbu Spanyol demi membantu pasukan muslim
lainnya mempertahankan Andalusia dari Alfonso VI. Menanggapi hal ini, Alfonso
VI kemudian memanggil kembali Rodrigo pada 1087.
Pada tahun 1092, al-Qadir,
penguasa Valencia (dibawah kekuasaan Alfonso VI) dibunuh oleh Ibn Jahhaf yang
pro-Almoravid, membuat Valencia rentan oleh serangan. Saat itu, Valencia
merupakan titik vital di Iberia, Yusuf sendiri berniat menjadikan kota itu
sebagai basis pendaratan pasukan Almoravid (sumber muslim menyebutnya
al-Murabithun). Sementara itu, Berenguer Ramon II dari Barcelona bersama dengan
sekutu muslimnya dari lerida, yang berniat menguasai kota itu dua tahun
sebelumnya, dikalahkan oleh Rodrigo pada pertempuran Tevar, dengan itu
mengurangi ancaman dan mengkonsolidasi kekuatannya di timur Iberia.
![]() |
| Pedang Tizona |
Pasukan Rodrigo, yang terdiri
dari gabungan tentara kristiani dan muslim, mulai mengepung Valencia, setelah
sebelumnya merebut wilayah wilayah kecil di sekitarnya seperti El Puig dan
Quart de Poblet. Setelah melalui pengepungan selama 2 tahun, Valencia berhasil
ditaklukkan pada bulan Mei 1094. Rodrigo kemudian mengambil alih kekuasaan di
Valencia, yang terdiri dari penduduk kristiani dan muslim pada saat itu
(termasuk juga dalam ketentaraan dan pemerintahan). Ibn Jahhaf, setelah
beberapa waktu dibawah kekuasaan Rodrigo, dieksekusi. Secara resmi, Rodrigo
memimpin Valencia dibawah kekuasaan Alfonso VI, tetapi kenyataannya Rodrigo
memimpin atas kekuasaanya sendiri.
Selama kekuasaannya di Valencia, kota
itu mendapat tekanan dari Almoravid, dibuktikan dari serangan pada 1094 dan
1097, dimana ia berhasil mengalahkan keduanya dan mempertahankan kedudukannya
dalam “kepangeranan” Valencia hingga akhir hayatnya, pada 10 Juli 1099. Kota
Valencia kemudian dipimpin oleh Jimena Diaz, istrinya. Setelahnya, Valencia
dikepung kembali oleh tentara Almoravid, Alfonso VI yang merasa Valencia tak
dapat dipertahankan, kemudian memerintahkan untuk meninggalkannya. Valencia
jatuh ke tangan Almoravid pada tahun 1102, yang terus menguasainya hingga tahun
1238.
![]() |
| makam Rodrigo dan Jimena |
Terdapat legenda yang mengatakan
bahwa setelah kematian Rodrigo, Jimena menempatkan jasadnya diatas kuda
perangnya, Bavieca, dengan memakaikan baju perang lengkap dengan pedang “Tizona”
di tangannya. Hal ini dilakukan demi menjaga moril pasukan dalam mempertahankan
Valencia. Adapula di cerita yang lain, Jasad Rodrigo dan kuda perangnya bersama
dengan pasukan berkuda lain pernah memenangkan pertarungan melawan musuh.
Yang pasti pada tahun 1101,
Jimena, bersama dengan jasad Rodrigo dan sisa pasukannya, mundur ke Burgos,
Castille. Jasadnya dimakamkan di biara San Pedro de Cardena, dekat Burgos,
kemudian makamnya (bersama dengan makam istrinya) dipindahkan lagi ke Katedral
Burgos. Kuda perangnya, Bavieca juga dimakamkan di area yang sama. sementara
pedangnya, Tizona, saat ini diklaim tersimpan di Museum Burgos.




0 comments:
Posting Komentar