Rabu, 14 Oktober 2020

Rodrigo Diaz de Vivar, Pemimpin Pasukan Kristiani dan Muslim


Rodrigo Diaz de Vivar merupakan seorang panglima perang dari spanyol pada masa kekuasaan muslim dan Reconquista. Ia lebih dikenal dengan sebutan El Cid oleh kelompok muslim (kemungkinan dari “al-sayyid”) dan Campeador oleh umat kristiani (“the Champion”).

Rodrigo lahir pada tahun 1047 di Vivar (sekarang dekat Burgos, Spanyol) dari ibu seorang aristokrat, sedangkan ayahnya merupakan birokrat dan prajurit bernama Diego Lainez. Ia mengabdi pada putra raja Ferdinand I dari Castille, Sancho II hingga ia naik tahta pada tahun 1065. Sebelumnya Ferdinand I memutuskan akan membagikan wilayah kekuasaan pada anak-anaknya, dalam hal ini, Sancho mendapatkan kerajaan Castille, Alfonso di Leon, dan Garcia di Galicia, sementara kedua putrinya, Urraca dan Elvira mendapat masing-masing di Zamora dan Toro. Hal ini kemudian berujung Pada 1072, raja Sancho II dan saudaranya, Raja Alfonso VI dari Leon, bertempur di Golpejera. Dalam pertempuran itu, Alfonso dikalahkan dan diasingkan. Garcia II dari Galicia juga dikalahkan di Santarem kemudian.

Rodrigo ikut serta dalam setiap kampanye militer Sancho II hingga ia menyatukan kerajaan ayahnya. sayangnya, di tahun yang sama ketika Sancho mengepung Zamora yang dipimpin oleh saudarinya Urraca (setelah sebelumnya menaklukkan Toro pimpinan Elvira dengan mudah), ia terbunuh oleh Bellido Dolvos, seorang bangsawan Zamora dengan berpura pura membelot dan masuk ke kamp Sancho II. Alfonso VI yang sebelumnya diasingkan kemudian kembali dan mewarisi tahta saudaranya. Rodrigo sendiri mengabdi pada Alfonso setelah memaksanya bersumpah tak terlibat dalam pembunuhan Sancho II.

Alfonso VI (jubah merah) disumpah di Santa Gadea, Rodrigo menjadi saksi di depannya

Pada 1074, Rodrigo menikahi Jimena (kemungkinan sepupu Alfonso VI). Lima tahun kemudian, tahun 1079 ia ditunjuk sebagai perwakilan menuju Sevilla pimpinan al-Mutamid untuk menarik upeti. Di saat yang sama, emir Abdallah ibn Bulughin dari Granada, didukung oleh Garcia Ordonez yang juga sesama bawahan Alfonso VI, menyerang Sevilla. Menanggapi hal ini, Rodrigo yang bertugas di Sevilla juga ikut serta mempertahankan wilayah pimpinan al-Mutamid tersebut dalam Pertempuran Cabra, dimana ia berhasil mengalahkan dan menangkap Garcia. Atas perbuatannya dalam bertempur melawan sesamanya sendiri (dan beberapa alasan politik yang tidak pasti), pamornya dalam lingkup kerajaan Castille turun, puncaknya (kemungkinan) pada 1081, ia diasingkan.

Sebagai seorang prajurit, Rodrigo sebelumnya menawarkan pelayanan pada Berenguer II di Barcelona, dan ditolak. Ia kemudian mengabdi pada pemimpin muslim di Zaragoza bernama Yusuf al Mu’taman. Pada 1084, pasukan Zaragosa pimpinan Rodrigo berhasil mengalahkan pasukan Aragon dalam pertempuran Morella. Atas perannya dalam memimpin pasukan muslim, ia mendapat julukan El Cid (beberapa sumber juga mengatakan bahwa julukan El Cid ia dapat ketika memimpin Valencia).

Tahun 1086, pasukan Almoravids pimpinan Yusuf ibn Tashfin, menyerbu Spanyol demi membantu pasukan muslim lainnya mempertahankan Andalusia dari Alfonso VI. Menanggapi hal ini, Alfonso VI kemudian memanggil kembali Rodrigo pada 1087.

Pada tahun 1092, al-Qadir, penguasa Valencia (dibawah kekuasaan Alfonso VI) dibunuh oleh Ibn Jahhaf yang pro-Almoravid, membuat Valencia rentan oleh serangan. Saat itu, Valencia merupakan titik vital di Iberia, Yusuf sendiri berniat menjadikan kota itu sebagai basis pendaratan pasukan Almoravid (sumber muslim menyebutnya al-Murabithun). Sementara itu, Berenguer Ramon II dari Barcelona bersama dengan sekutu muslimnya dari lerida, yang berniat menguasai kota itu dua tahun sebelumnya, dikalahkan oleh Rodrigo pada pertempuran Tevar, dengan itu mengurangi ancaman dan mengkonsolidasi kekuatannya di timur Iberia.

Pedang Tizona
Pasukan Rodrigo, yang terdiri dari gabungan tentara kristiani dan muslim, mulai mengepung Valencia, setelah sebelumnya merebut wilayah wilayah kecil di sekitarnya seperti El Puig dan Quart de Poblet. Setelah melalui pengepungan selama 2 tahun, Valencia berhasil ditaklukkan pada bulan Mei 1094. Rodrigo kemudian mengambil alih kekuasaan di Valencia, yang terdiri dari penduduk kristiani dan muslim pada saat itu (termasuk juga dalam ketentaraan dan pemerintahan). Ibn Jahhaf, setelah beberapa waktu dibawah kekuasaan Rodrigo, dieksekusi. Secara resmi, Rodrigo memimpin Valencia dibawah kekuasaan Alfonso VI, tetapi kenyataannya Rodrigo memimpin atas kekuasaanya sendiri.

Selama kekuasaannya di Valencia, kota itu mendapat tekanan dari Almoravid, dibuktikan dari serangan pada 1094 dan 1097, dimana ia berhasil mengalahkan keduanya dan mempertahankan kedudukannya dalam “kepangeranan” Valencia hingga akhir hayatnya, pada 10 Juli 1099. Kota Valencia kemudian dipimpin oleh Jimena Diaz, istrinya. Setelahnya, Valencia dikepung kembali oleh tentara Almoravid, Alfonso VI yang merasa Valencia tak dapat dipertahankan, kemudian memerintahkan untuk meninggalkannya. Valencia jatuh ke tangan Almoravid pada tahun 1102, yang terus menguasainya hingga tahun  1238.

makam Rodrigo dan Jimena
Terdapat legenda yang mengatakan bahwa setelah kematian Rodrigo, Jimena menempatkan jasadnya diatas kuda perangnya, Bavieca, dengan memakaikan baju perang lengkap dengan pedang “Tizona” di tangannya. Hal ini dilakukan demi menjaga moril pasukan dalam mempertahankan Valencia. Adapula di cerita yang lain, Jasad Rodrigo dan kuda perangnya bersama dengan pasukan berkuda lain pernah memenangkan pertarungan melawan musuh.

Yang pasti pada tahun 1101, Jimena, bersama dengan jasad Rodrigo dan sisa pasukannya, mundur ke Burgos, Castille. Jasadnya dimakamkan di biara San Pedro de Cardena, dekat Burgos, kemudian makamnya (bersama dengan makam istrinya) dipindahkan lagi ke Katedral Burgos. Kuda perangnya, Bavieca juga dimakamkan di area yang sama. sementara pedangnya, Tizona, saat ini diklaim tersimpan di Museum Burgos.
  
Daftar Pustaka 



Share:

0 comments:

Posting Komentar