Kamis, 04 November 2021

DINAMIKA POLITIK KEKAISARAN JEPANG SEJAK MEIJI HINGGA MENJELANG PERANG DUNIA II

 Dari Negeri Konstitusional Bergaya Barat yang Menjanjikan, Menuju Negara Militerisme yang Ekspansionis 

Pada abad 19, Jepang telah melewati masa transformasi besar-besaran. Hanya dalam beberapa dekade, Jepang telah berubah dari sebuah negara feodal tertutup menjadi negara modern monarki konstitusional berparlemen, dengan kaisar sebagai kepala negara (dan tokoh yang didewakan). Jepang secara aktif masuk dalam komunitas internasional dan memperluas teritorinya, tetapi disaat yang sama, Jepang, sebagai bangsa Asia, dianggap oleh barat sebagai inferior (atau setidaknya tidak dianggap setara, menurut pandangan Jepang). Segala hal ini kemudian berujung pada manuver politik Jepang yang condong ke arah militerisme dan fasisme pada tahun 1930-an.

Sejak awal 1600-an, Jepang secara politis dikuasai Keshogunan Tokugawa, sementara Kaisar saat itu tak memiliki kekuatan politis apapun. Jepang terbagi menjadi berbagai domain/wilayah yang dikuasai Daimyo (panglima perang) yang berada dibawah kekuasaan keshogunan. Diantara Daimyo tersebut, terdapat istilah Tozama Daimyo (Daimyo luar), mereka merupakan Daimyo-Daimyo yang pada sejarahnya bertempur melawan Tokugawa, dan dianggap sebagai oposisi, para Tozama inilah yang kemudian menjadi pendukung utama restorasi kekuasaan kaisar, yang juga dilatarbelakangi masuknya kekuatan kolonial barat hingga melemahkan keshogunan. Pembentukan pemerintahan baru dibawah kaisar pada tahun 1868 ini kemudain menandai awal periode Meiji, yang umumnya dikenal sebagai Restorasi Meiji.

Secara politik, domain-domain dan sistem Daimyo dihapuskan, diganti oleh sistem prefektur yang dikepalai oleh pemerintah daerah yang tunduk langsung dibawah kekuasaan pemerintah pusat, secara teknis hal ini juga menghapus sistem kelas, termasuk samurai. Segala bentuk kebijakan pemerintahan baru ini berorientasi untuk belajar dari perkembangan bangsa Barat, sehingga dapat memperkuat Jepang membuatnya setara dengan bangsa-bangsa kolonial. Misalnya, terdapat beberapa misi diplomasi Jepang di Negara Lain yang mempelajari berbagai hal. Selama perkembangannya, pemerintahan Meiji setidaknya menjalin hubungan dengan berbagai pakar asing untuk mengembangkan Jepang. Pakar hukum Prancis ikut serta menjadi penasihat dalam penyusunan hukum baru, Inggris dalam industri, dan Amerika dalam pertanian dan pendidikan, sementara tentara belajar dari model Prusia. Jepang memulai pembangunan seperangkat lembaga politik baru yang sesuai dengan prinsip negara-bangsa modern, termasuk konstitusi, dan badan legislatif nasionalnya, Imperial Diet, didirikan pada tahun 1890. Konstitusi Meiji juga disahkan dari berbagai partai politik dan parlemen yang dipilih.

Konstitusi ini dipresentasikan pada tahun 1889, menyatakan bahwa otoritas tertinggi ada pada kaisar. Kaisar mampu menunjuk menteri, mengontrol tentara dan angkatan laut, dan membubarkan parlemen jika dia pikir perlu. Dibawah hal tersebut, terdapat parlemen legislatif yang terdiri dari dua majelis. Majelis tinggi termasuk anggota bangsawan dan lainnya ditunjuk oleh kaisar, sementara perwakilan majelis rendah dipilih dengan suara mayoritas (dipilih oleh laki-laki yang membayar pajak setidaknya 15 yen saat itu, atau sekitar 5 persen dari total populasi laki-laki).

Perkembangan pemerintahan Jepang ini pun juga mempengaruhi kekuatan ekonomi dan militer. Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20, Jepang telah sanggup menekan Korea, juga meluaskan kekuasaannya di Hokkaido (pasca menumpas pemerintahan Republik Ezo yang pro-Tokugawa), kepulauan Ryukyu, hingga Formosa (Taiwan), disusul dengan kemenangannya atas China dan Rusia. Hal ini membuat Jepang merasa memiliki kekuatan diplomasi dan politik yang sama dengan bangsa barat. Tetapi intervensi barat dalam mencegah ekspansi Jepang mengambil alih semua wilayah China mendorong semakin sulitnya hubungan diplomatis Jepang dan bangsa barat.

Di dalam negeri, pemerintahan Jepang semakin “terancam” oleh ide-ide terbuka seperti pasifisme dan ideologi kiri, sementara dalam saat yang sama mereka juga ingin memperluas wilayah untuk melindungi perbatasan dan menjamin kekaisaran. Pada tahun 1900, demi menghindari masalah sayap kiri, pemerintah mengeluarkan undang-undang yang melarang pemogokan dan aktivitas serikat pekerja, hingga menutup kantor partai sosialis Jepang pada tahun 1901, pada tahun 1911, sekelompok kaum anarkis juga dieksekusi. Meski pada tahun 1912 Kaisar Meiji telah wafat pada usia 60 tahun, tetapi sosoknya dalam transformasi tradisional dan tertutup menuju kekuatan modern tetap  menjadi simbol bagi perkembangan Jepang sejak restorasi kekaisarannya.

Memasuki periode Taisho, Jepang telah menjadi negara yang stabil dan makmur, politisi partai sebagai pejabat terpilih memperoleh pengaruh selama tahun 1910an, Birokrat menjadi pejabat negeri, bekerja sama dengan Politisi memperoleh kekuasaan dan mensponsori proyek pembangunan lokal dan regional dengan kemampuan untuk memveto anggaran. Menurut konstitusi, majelis rendah parlemen harus menyetujui anggaran tersebut. Jika mereka tidak menyetujuinya, maka anggaran tahun sebelumnya akan digunakan, hal ini kemudian dimanfaatkan ketika ekonomi Jepang tumbuh dengan pengembangan militer dan berorientasi pada ekspansi. Masa ini disebut "Demokrasi Taisho", Istilah Demokrasi Taisho mengacu pada berkembangnya cara berpikir, gerakan sosial, dan perkembangan politik partai pada periode Taisho, dimana politisi sipil memegang peranan penting dalam pemerintahan. Perang Dunia I ikut mendorong perkembangan politik kepartaian di Jepang pada masa itu. Ketika politisi dari angkatan darat diangkat sebagai perdana menteri, kabinet tersebut dikecam sebagai non-konstitusional, dan turun pada 1918, digantikan oleh Hara Takashi dari Seiyūkai, perdana menteri pertama yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat. Suasana pasifisme pascaperang digaungkan dengan berbagai cara di Jepang. Partai politiknya mendukung kerja sama internasional anggota istana kekaisaran dengan kekuatan global.

Beberapa pemimpin Jepang ini lebih condong berhubungan dengan bangsa Barat sebagai kaum pasifis (anti-perang atau anti-ekspansi) dalam diplomasi. Tokoh  politik dan militer Jepang yang lain merasa tidak diperlakukan setara dalam komunitas internasional, setidaknya bangsa barat menolak klausul kesetaraan ras pasca berakhirnya perang dunia pertama, begitu pula kesetaraan dalam konferensi angkatan laut beberapa tahun setelahnya, hal ini semakin diperparah ketika Amerika Serikat mengesahkan undang-undang yang melarang warga negara Jepang menjadi imigran ke Amerika Serikat. Banyak orang Jepang memandang gerakan ini sebagai penghinaan dan bukti bahwa seluruh dunia masih memandang rendah mereka, hal yang akan berdampak dengan bentuk dan ideologi pemerintahan Jepang pada masa masa berikutnya.

Walau terdapat upaya perluasan demokratisasi politik di Jepang pada masa Taisho, hubungan Jepang dengan komunitas internasional semakin bermasalah pasca memburuknya perekonomian dalam negeri (sejalan dengan krisis ekonomi dunia pada 1920-an). Politisi pasifis yang bekerjasama dengan komunitas internasional disalahkan atas krisis ekonomi, Ekstremis sayap kanan menyerang pengusaha dan politisi, salah satunya perdana menteri Hara sebagai korbannya. Pada awal era Shōwa, kolusi antara politisi dan pejabat pemerintah ini, menyebabkan meningkatnya permasalahan internal pemerintahan dan ketidakpuasan publik dan militer pada pemilihan umum. Angkatan darat menolak menuruti kebijakan politisi partai dan menentang diplomasi internasional. Perselisihan antara politisi sipil dan militer ini semakin memanas dengan terjadinya Insiden 15 Mei 1932, pembunuhan perdana menteri dan percobaan kudeta, Peristiwa 15 Mei ini mengawali kejatuhan pengaruh partai politik di Jepang. Upaya pengembalian kekuasaan ke tangan politisi sipil juga kembali gagal dengan terjadinya Insiden 26 Februari 1936. Hal ini membuat tokoh politik pro-diplomasi menjadi semakin kehilangan pengaruh. Ekspansi Jepang dan pendirian negara boneka di Manchuria membuat Jepang mundur dari Liga Bangsa-Bangsa pada 1932, dan arah politik Jepang semakin ditentukan kekuatan militer dan industri sebagai entitas terisolasi dari dukungan komunitas internasional.

Namun, militer inipun juga bukan sebuah entitas politik tunggal. Angkatan darat dan angkatan laut sama-sama bersaing di pemerintahan dalam memperebutkan alokasi sumber daya yang terbatas. Semetara itu, di Angkatan Darat, terdapat dua faksi politik perwira. Yang satu merupakan Kodoha (Faksi Jalan Kekaisaran) diantara perwira muda yang mendukung perang ofensif melawan Uni Soviet dan Toseiha (Faksi Kontrol), yang mendorong disiplin Angkatan Darat melalui perang dengan China sebagai kebutuhan strategis (sumber daya & industri demi mendorong ekonomi). Kesamaan dari mereka, kedua faksi tersebut berpandangan bahwa pertahanan negara harus diperkuat melalui reformasi politik nasional. Kedua faksi tersebut berorientasi pada politik totaliter, fasis dan sosialis negara, yang cenderung anti terhadap partai politik sipil dan dewan perwakilan yang demokratif. Bedanya, faksi Kodoha, lebih cenderung ke arah revolusi pengembalian kekuasaan tunggal kepada kaisar, sebagai apa yang mereka sebut sebagai Restorasi Showa, sementara faksi Toseiha memandang perang membutuhkan kerja sama birokrasi dan zaibatsu (kekuatan industri) untuk memaksimalkan kapasitas industri dan militer Jepang.

Perselisihan ini memuncak pada pasca terjadinya insiden 26 Februari 1936, ketika faksi Kodoha memberontak dengan tujuan membersihkan pemerintahan dari sisa-sisa politisi sipil dan pihak militer dari faksi lawan, meskipun peristiwa ini hampir berhasil, penolakan kaisar dalam restorasi Showa otomatis menggagalkan upaya tersebut. Faksi Kodoha jatuh, dan sisa-sisa kekuatan politik yang ada telah menentukan arah imperialisme Jepang selanjutnya, dan dalam satu tahun, Jepang telah berperang total dengan China, menandai awal perang Sino-Jepang kedua. Hal ini kemudian mendapat dorongan dari militer agar partai-partai politik yang tersisa bergabung menjadi satu organisasi, sehingga memberi pemerintah persatuan keputusan dalam satu suara tanpa adanya oposisi. Perubahan menjadi negara satu partai ini diresmikan pada 1940 di bawah pemerintahan Perdana Menteri Fumimaro Konoe, dengan ditandainya semua partai politik yang ada dibubarkan dan bergabung dalam Taisei Yokusankai (Asosiasi Pendukung Kekuasaan Kekaisaran), berbagai hal inilah yang nantinya akan menyeret Jepang hingga ke perang dunia kedua.


Referensi

1.      Ojong, P. K. 2001. Perang Pasifik. Jakarta: Kompas.

2.      Septianingrum, Anisa. 2017. Sejarah Asia Timur: Dari Masa Peradaban Kuno Hingga Modern. Yogyakarta: Sociality.

3.      Yunus, Resmiati. 2013. Jendela Peristiwa di Asia Timur. Yogyakarta: Interpena.

4.      Crowley, J. B. 1962. Japanese Army Factionalism in the Early 1930's. The Journal of Asian Studies, 21(3), 309-326.

5.      Fletcher, M. 1979. Intellectuals and fascism in early Showa Japan. The Journal of Asian Studies, 39(1), 39-63.

6.      Segal, E. 2015. Meiji and Taishō Japan: An Introductory Essay. Michigan: Michigan State University.

7.      Ryota, Murai. 2014. The Rise and Fall of Taishō Democracy: Party Politics in Early-Twentieth-Century Japan. <https://www.nippon.com/en/in-depth/a03302/> (diakses pada 8 Januari 2021)


Share:

Minggu, 25 Oktober 2020

Pengaruh Revolusi Industri Eropa pada Wilayah-Wilayah Koloni

 

Memasuki abad ke-18, Eropa telah memanfaatkan tenaga mesin sebagai alat produksi di pabrik–pabrik menggantikan tenaga manusia, ekonomi yang sebelumnya berorientasi pada agraria beralih menjadi industri. Perubahan inilah yang kemudian disebut sebagai Revolusi industri. Revolusi Industri ini membawa dampak signifikan dalam kehidupan masyarakat baik itu dalam ekonomi, politik, maupun sosial budaya.

Revolusi industri membuat negara-negara Eropa semakin membutuhkan wilayah koloni. Karena Revolusi Industri meningkatkan kapasitas produksi negara-negara Barat, maka terjadi kebutuhan yang sangat besar akan bahan mentah demi memenuhi permintaan, sementara wilayah yang luas juga membuat permintaan pasar semakin besar pula. Dengan demikian, negara-negara industri memperluas koloni di mana terdapat bahan mentah berlimpah sebagai impor bahan baku produksi dan mengekspornya kembali ke wilayah koloni sebagai barang jadi. Koloni menyediakan negara industri pasar yang siap pakai untuk membeli barang-barang mereka, karena masyarakat di koloni kurang lebihnya tidak memiliki kemampuan signifikan dalam menghasilkan produk mereka sendiri. Menguasai banyak wilayah memberi kemampuan untuk menekan kemampuan mereka dalam memproduksi barang dan menciptakan outlet pasar untuk produk mereka sendiri.

Dengan kata lain, penyebaran pengaruh dari Revolusi Industri ini menyebabkan pergeseran dalam strategi perdagangan dengan daerah koloni. Ketika sebelumnya negara Eropa menjadi pembeli utama produk kolonial (impor), pasca Revolusi Industri negara-negara industri menjadi penjual (ekspor) dengan memanfaatkan wilayah koloni sebagai pasar untuk meningkatkan volume produksi. Sejalan dengan hal ini, terjadi pergeseran permintaan komoditas yang diproduksi di daerah kolonial. Rempah-rempah, gula, dan budak menjadi kurang diminati seiring dengan kemajuan industrialisasi, digantikan dengan mulai meningkatnya permintaan bahan mentah industri (misalnya kapas, wol, bahan pewarna, dan lain sebagainya) dan komoditas perkebunan (gandum, teh, kopi, coklat, dan lain sebagainya).

Afrika pada abad ke-19 misalnya, negara Eropa menyebabkan pengaruh yang besar pada pertanian tradisional dan praktik penggembalaan. Selama berabad-abad, petani lokal telah beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan dengan kondisi tersebut. Namun, orang Eropa menganggap teknik pertanian seperti itu sia-sia dan tidak sesuai dengan tanaman ekspor yang ingin mereka tanam. Di seluruh benua Afrika, kaum imperialis mengambil alih tanah dan mengarahkan produksinya menjadi tanaman komersial untuk diekspor: seperti kapas, kopi, tebu, dan kakao. Salah satu akibat langsung dari hal ini adalah produksi pangan untuk mayoritas penduduk koloni terabaikan, dan perekonomian lokal mengalami penurunan.

Pergeseran pola perdagangan ini juga menyebabkan perubahan jangka panjang dalam kebijakan politik dan praktik pemerintahan kolonial serta akuisisi wilayah koloni.  Berbagai peninjauan ulang kebijakan juga terjadi sebagai bagian dari konflik politik nasional dari tiap negara-negara industri Eropa. Seperti misalnya monopoli perdagangan British East India Company. Berbagai ekspor komoditas yang sebelumnya diberikan hak monopoli kemudian dianggap sebagai hambatan bagi pengembangan pasar untuk produksi Inggris, sehingga pada akhirnya, kekuasaan-kekuasaan perusahaan dagang di wilayah koloni melemah dan wilayah-wilayah tersebut diambil alih secara langsung oleh negara. Keinginan untuk menciptakan pasar dan tekanan kebutuhan bahan baku dan komoditas baru tercermin dalam praktik kebijakan koloni, yang berusaha untuk menyesuaikan daerah kolonialnya dengan prioritas baru industri. Adaptasi ini akhirnya juga ikut melibatkan perubahan besar dalam sistem sosial dari berbagai wilayah-wilayah koloni Eropa di seluruh dunia.

Kemudian, akibat dari hal tersebut terjadi pergeseran total antara penduduk dan sistem kehidupan sosial budaya masyarakat pribumi menjadi sistem yang mirip dengan masyarakat Eropa. Contoh yang paling jelas terdapat pada koloni di benua Amerika. Perubahan sosial budaya masyarakat pribumi dapat terjadi karena salah satu atau gabungan dari dua alasan. Pertama, masyarakat pribumi tersisih dan terusir (dalam beberapa peristiwa tertentu, dibasmi) sehingga memberikan ruang bagi pemukim dari Eropa untuk mengakuisisi wilayah dan tanah hingga ke pedalaman dan mengembangkan industri pertanian dan perkebunan tanah-tanah ini di bawah sistem sosial yang diimpor dari negara-negara penjajah. Atau kedua, masyarakat pribumi “terpaksa” menyesuaikan dengan perubahan yang dibawa oleh negara-negara tersebut.

Ada juga kemajuan baru dalam bidang kedokteran, di bidang kesehatan semakin banyak obat-obatan ditemukan dan ilmu kedokteran berkembang menghasilkan upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan yang semakin baik. yang memungkinkan orang Eropa untuk lebih tahan terhadap penyakit-penyakit tertentu di wilayah asing, seperti malaria atau demam kuning. Dengan demikian, Revolusi industri memberikan bangsa Eropa kemampuan untuk memperluas wilayahnya lebih cepat, dengan begitu juga mempengaruhi keadaan politik di kawasan-kawasan tersebut.

Selama abad ke-18, dan semakin terlihat jelas pada abad ke-19 dan ke-20, kesenjangan antara negara-negara yang berteknologi maju dan daerah-daerah terbelakang terus meningkat meskipun teknologi modern telah menyebar ke daerah-daerah koloni. Aspek terpenting dari perbedaan ini adalah keunggulan persenjataan, karena keunggulan ini memungkinkan bangsa Eropa mampu menekan kekuasaannya pada penduduk kolonial meskipun berjumlah jauh lebih besar. Dan bersama dengan hal ini, muncul pandangan dari kekuasaan minoritas orang asing tentang rasisme dan superioritas bangsa Eropa yang memandang koloninya sebagai bangsa yang lebih inferior, hal ini juga menjadi salah satu penyebab bergesernya sistem sosial budaya pada masyarakat pribumi, seperti yang telah disebutkan diatas.

Adapun dalam beberapa masa tersebut, Ekspansi kolonial mengakibatkan perlawanan dari bangsa yang dijajah. Disisi negara koloni juga terjadi persaingan pengaruh wilayah kekuasaan hingga terjadi konflik, misalnya perang dunia. Melihat persaingan antara kekuatan penjajah ini, beserta berbagai faktor faktor lain seperti perkembangan pendidikan, kemudian timbul kesadaran berbangsa dan bernegara yang semakin kuat, sehingga memunculkan gerakan-gerakan kemerdekaan di berbagai wilayah koloni.

Bisa dikatakan, revolusi industri ini merupakan pendorong utama di balik proses globalisasi. Dalam masyarakat tradisional, seseorang atau sekelompok masyarakat dapat hidup mandiri dalam memenuhi sebagian besar kebutuhan mereka. Makanan dan pakaian dapat diambil sebagian besar dari tanah atau hewan. Pasca revolusi industri, segala bentuk kebutuhan ini baru didapatkan melalui berbagai perdagangan regional dan global yang luas dan saling mempengaruhi berbagai aspek-aspek kehidupan. Revolusi industri ini jugalah yang mempengaruhi (dan dipengaruhi) berbagai paham-paham ekonomi, seperti kapitalis-liberal atau sosialis-komunis, yang mana berbagai paham-paham ini juga akan mempengaruhi berbagai sistem politik, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat hingga beberapa dekade kedepannya.

 

Referensi

1.      Parvanova, D. (2017). The industrial revolution was the force behind the New Imperialism. ESSAI, 15(2), 95-99.

2.      Davut, A. T. E. Ş. (2008). INDUSTRIAL REVOLUTION: Impetus Behind the Globalization Process. YÖNETİM VE EKONOMI, 15(2) 31-48.

3.      Fajariah, M., & Suryo, D. (2020). Sejarah Revolusi Industri di Inggris Pada Tahun 1760-1830. HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, 8(1), 77-94.

4.      Baiquni, M. (2009). Revolusi industri, ledakan penduduk dan masalah lingkungan. Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan, 1(1), 38-59.

5.      Britannica. “European Expansion Since 1763”. <https://www.britannica.com/topic/Western-colonialism/European-expansion-since-1763> (diakses pada 13 Oktober 2020).

6.      Industrial Revolution Reference Library. "Social and Political Impact of the First Phase of the Industrial Revolution". <https://www.encyclopedia.com/history/encyclopedias-almanacs-transcripts-and-maps/social-and-political-impact-first-phase-industrial-revolution> (diakses pada 14 Oktober 2020).

 

p.s: iseng kuapload, ini sebenarnya cuma salah satu tugas kuliah dari almarhum dosen favoritku

Share:

Negara Kota Italia dalam Renaisans

Renaisans (kelahiran kembali) merupakan gerakan yang memengaruhi kehidupan intelektual Eropa di awal abad 14-15. Dimulai di Italia dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa pada abad ke-16, pengaruhnya dapat dilihat dalam seni, arsitektur, filsafat, sastra, musik, sains & teknologi, politik, agama, dan aspek intelektual lainnya. tokoh-tokoh Renaisans mencari realisme dan emosi manusia dalam seni menggunakan metode humanisme (dan umumnya sekuler) dalam studinya.

Pada masa Renaisans, Italia diperintah oleh sejumlah negara kota dengan perekonomian yang cukup berpengaruh di Eropa. Negara kota merupakan wilayah yang berdiri secara mandiri, dimana kota tersebut umumnya memiki kedaulatan sendiri dalam menentukan sistem politiknya. Kebanyakan orang yang tinggal di negara kota saat itu adalah pengrajin dan pedagang sebagai kelas masyarakat yang berkembang selama Renaissance. beberapa diantara yang berpengaruh dalam perkembangan Renaissans antara lain Florence, Milan, Venesia, dan Roma, tetapi beberapa lainnya di Italia juga memiliki peran yang cukup signifikan. Sebagai suatu entitas perekonomian yang cukup besar, negara-negara kota ini memainkan peran penting dalam perkembangan Renaisans. Kekayaan negara tersebut memungkinkan keluarga terkemuka untuk mendukung seniman, ilmuwan, dan filsuf dalam memacu ide-ide baru.

Florence

Florence berkembang di bagian utara semenanjung Italia, dikelilingi perbukitan dengan Sungai Arno di tengahnya. Dengan demikian, wilayah Florence berkembang di lembah perbukitan dan di sekitar sungai.

Secara ekonomi, Industri terbesar dan terkuat di kota itu adalah perbankan. Dimana tokoh-tokoh dari kota tersebut merupakan bankir terkenal dengan cabang-cabang perbankan Florentine yang tersebar di kota-kota besar Eropa. Kota ini juga menciptakan Florin, mata uang utama yang ada pada saat itu. Florence juga didukung oleh industri wol. Mereka memiliki hubungan komersial dengan Inggris dan mendapatkan wol utuh dari sana. Mereka menenun dan mewarnai wolnya sehingga produk tersebut menjadi jauh lebih berharga untuk diekspor.

Secara politis, wilayah Florence merupakan wilayah republik yang pada praktiknya menjadi persaingan beberapa keluarga saudagar-saudagar yang memegang kuat perekonomian, semisal Strozzi, Albizzi, Medici, dan lain-lain. Diantara keluarga-keluarga tersebut Medici menjadi salah satu yang paling berpengaruh dalam perkembangan Renaisans. Melalui Medici Bank, yang pertama kali dibuat pada 1397 dan berkembang menjadi yang terbesar di Eropa selama Renaisans, memungkinkan mereka untuk memegang kendali politik dan ekonomi di Eropa. keluarga Medici memperoleh kendali politik atas Florence pada tahun 1430-an, yang pada akhirnya mengarah pada berakhirnya Republik Florence dan memimpin pemerintahan mereka sebagai raja atas negara kota tersebut.

Cosimo de Medici (27 September 1389 - 1 Agustus 1464) merupakan anggota keluarga Medici pertama yang mengendalikan Florence. Meskipun Florence masih dianggap sebagai sebuah republik pada awal pemerintahan Medici, kekayaan dan kekuasaan dari Medici memungkinkan Cosimo de Medici dapat secara efektif menguasai wilayah tersebut. Hal ini membuat Cosimo de Medici mampu mendukung seni dan humanisme Renaisans awal di Florence yang membantu membuat negara kota itu sebagai pusat Renaisans Eropa. Misalnya, dia membangun banyak bangunan cikal bakal Renaisans seperti perpustakaan, gereja, dan akademi, salah satu pencapaian arsitektur awal Renaisans adalah kubah besar di Katedral Florence. Selain itu, dia menengahi negosiasi Perjanjian Lodi 1454. Perjanjian ini mengakhiri perang antara Florence dan negara kota lain seperti Venesia, Milan, Roma, dan Napoli. Cosimo juga mengoleksi buku yang menjadi Perpustakaan Medici (disebut juga Perpustakaan Laurentian) yang kemudian dikembangkan oleh Lorenzo.

Cosimo de Medici digantikan oleh putranya Piero di Cosimo de Medici (1416 - 2 Desember 1469) dan kemudian cucunya Lorenzo de Medici (1 Januari 1449 – 8 April 1492). Lorenzo de Medici melanjutkan kekuasaan kakeknya dan mensponsori beberapa seniman dan pematung Renaisans terkenal, kekuasan Lorenzo mencakup seniman seperti Piero dan Antonio del Pollaiuolo, Andrea del Verrocchio, Leonardo da Vinci, Sandro Botticelli, Domenico Ghirlandaio dan Michelangelo Buonarroti, yang berperan penting dalam pencapaian Renaisans abad ke-15. Meskipun Lorenzo tidak membuat banyak karya sendiri, dia membantu para seniman ini untuk mendapatkan komisi dari pelanggan lain.

Setelah kematian Lorenzo pada tahun 1492, putranya Piero mewarisi kekuasaan di Florence, namun kemudian diasingkan pasca invasi Charles VIII dari Perancis, dan kekuasan Medici atas Florence berakhir dengan dipulihkannya Republik. Meski begitu, pengaruh Medici masih cukup kuat di Florence, hal ini dapat dilihat melalui buku “Il Principe” (Sang Pangeran/the Prince) karya tokoh politik Renaisans dari Florence pada saat itu, Niccolo Machiavelli yang dalam bukunya masih memiliki kaitan dengan keluarga Medici.

Milan

Milan berkembang di bagian utara semenanjung Italia, dekat Pegunungan Alpen. Di Milan, ketika keluarga Sforza memegang kekuasaan, Mereka membawa kedamaian ke wilayah tersebut pasca perang Lombard (sejalan dengan perjanjian Lodi), dan dengan kedamaian muncul ide dan seni baru dari Renaisans.

kekuasaan Sforza atas Milan terjadi antara 1450 hingga 1519 dan merupakan puncak negara tersebut selama Renaisans. Pada masa ini, kota ini makmur secara ekonomi memanfaatkan letak geografisnya di Italia utara, Milan mampu mengendalikan sebagian besar perdagangan darat yang terjadi di wilayah sekitarnya melalui lokasinya di sepanjang jalan sutra, dan posisi dekat wilayah tersebut dengan Mediterania. Dari Jalur Sutra tersebut, Milan mengimpor rempah-rempah, sutra, dan pewarna, komoditas tersebut kemudian mendongkrak status ekonomi Milan. Milan juga mengekspor barang mewah saat itu, semacam tekstil, topi, dan produk sutra lainnya.

Pertumbuhan ekonomi ini memungkinkan keluarga Sforza untuk mendukung pertumbuhan Milan melalui artistik juga. Diantaranya, keluarga Sforza mendukung pembangunan Castello Sforzesco (Kastil Sforza) dan Santa Maria delle Grazie (Gereja 'Holy Mary of Grace') pada abad ke-15. Santa Maria delle Grazie adalah pusat pembelajaran di Milan, mereka mengajarkan trivium dan quadrivium. Trivium adalah seni liberal tingkat bawah, yang diterima sebagian besar atau semua orang seperti tata bahasa, logika, dan retorika. Quadrivium diajarkan kepada kebanyakan orang, tetapi tidak semua. Termasuk aritmatika, geometri, musik, dan astronomi. Quadrivium adalah topik persiapan untuk studi filsafat dan teologi.

Keluarga Sforza terkait erat dengan keluarga Medici di Florence dan hubungan ini memberi kesempatan Sforza menugaskan seniman Renaisans terkenal Leonardo da Vinci. Misalnya, da Vinci menawarkan jasanya kepada Sforza sebagai penemu untuk membantu mereka merancang dan menggunakan berbagai jenis penemuan untuk perang. Walau begitu, hubungannya dengan Milan paling baik dicontohkan dalam lukisan, yaitu ‘perjamuan terakhir’.

‘perjamuan terakhir’ adalah salah satu lukisan paling terkenal sepanjang periode waktu Renaisans. Dilukis oleh da Vinci pada 1490-an dan saat ini disimpan di Santa Maria delle Grazie di Milan. Lukisan itu dipesan oleh Ludovico Sforza yang merupakan Adipati Milan pada saat itu. Keluarga Sforza menyewa da Vinci untuk menyelesaikan pekerjaan berdasarkan rekomendasi dari Medici di Florence. Pada saat Sforza mendirikan Santa Maria delle Grazie sebagai mausoleum keluarga mereka (makam keluarga), mereka ingin ‘perjamuan terakhir’ menjadi pusat mausoleum. Hari ini, itu tetap menjadi bagian utama dalam sejarah seni Renaisans Milan.

Venesia

Venesia berkembang di sepanjang pantai bagian timur laut semenanjung Italia di Laut Adriatik. Venesia menjadi negara kota yang kuat melalui perdagangan dengan Timur Jauh melalui dominasi maritim di sekitar Adriatik dengan mengimpor produk seperti rempah-rempah dan sutra.

Kekayaan dan kekuasaan yang diperoleh Venesia selama Abad Pertengahan dan Renaisans, membantu menumbuhkan kelas saudagar yang kuat yang memperoleh keuntungan besar dari perdagangan. Para saudagar ini menggunakan kekayaan mereka untuk membuat karya seni dan mendukung seniman, yang menjadi dampak utama Renaisans di Italia.

Aspek penting lainnya dari kehidupan Venesia adalah Scuole Grandi, yang diterjemahkan menjadi 'Sekolah Besar'. Scuole Grandi dikenal sebagai organisasi amal dan religius yang beroperasi sebagai bagian penting dari struktur sosial Venesia. Misalnya, Scuole Grandi mengizinkan anggota dari semua kelas di masyarakat Venesia. Karena Dewan Agung yang hanya terdiri dari keluarga-keluarga kaya aristokrat Venesia, kebanyakan memandang Scuole Grandi lebih representatif karena memungkinkan orang-orang dari kelas bawah untuk mempengaruhi negara tersebut. Sebagai bagian dari fungsinya, Scuole Grandi dikenal melakukan beberapa kegiatan berbeda, termasuk mensponsori perayaan di Venesia, membagikan makanan dan pakaian kepada anggota yang lebih miskin, melakukan penguburan orang miskin, dan administrasi rumah sakit di negara itu.

Banyak orang penting muncul dari Venesia antara masa Pertengahan dan Renaisans. Salah satu tokoh penting tersebut adalah penjelajah terkenal Marco Polo (1254 - 8–9 Januari 1324), ia terkenal karena perjalanannya ke Tiongkok dan tulisan tentang petualangannya. Dalam tulisannya, dia berbicara tentang kehidupan di Asia termasuk Jalur Sutra.

Genoa

            Genoa berkembang di sepanjang pantai bagian barat laut semenanjung Italia di sebelah Laut Liguria. Kota Genoa terletak di sepanjang pantai di antara Laut Mediterania dan Pegunungan Apennine, berhadapan langsung dengan pulau Corsica, yang juga selama beberapa waktu menjadi wilayah Genoa.

Kekuatan Genoa sebagai negara kota Renaisans naik pada abad ke-15, melalui munculnya bank-bank di Genoa, seperti Bank of Saint George (dikenal sebagai Banco San Giorgio dalam bahasa Italia). Didirikan pada 1407, Bank of Saint George awalnya didanai dan didirikan oleh beberapa keluarga terkaya dan terkuat di Genoa.

Tokoh paling berpengaruh di Genoa adalah Andrea Doria. Doria merupakan seorang Laksamana yang memimpin Genoa dibawah pengaruh Spanyol sekaligus Kaisar Romawi Suci Charles V pada tahun 1528. Bank besar Genoa memainkan peran penting dalam sejarah Spanyol, Misalnya, mereka mendanai Charles V dan upayanya menuju ‘Dunia Baru’, dengan kata lain memiliki pengaruh pada ekspedisi penjelajah selama Zaman Eksplorasi.

Banyak orang penting muncul dari Genoa pada Abad Pertengahan hingga Renaisans. Salah satu tokoh penting tersebut adalah Christopher Columbus. Ia lahir pada tahun 1451 di Genoa, meskipun ia tidak tinggal lama di negara itu dan menjadi terkenal di tempat lain. Ia terkenal karena perjalanannya pada tahun 1492 yang memulai migrasi besar-besaran orang Eropa ke Amerika selama Zaman Eksplorasi. Kemunculan Columbus dari Genoa begitu penting karena menunjukkan berpengaruhnya pelayaran negara kota pada saat itu.

Roma

Roma berkembang di wilayah tengah semenanjung Italia, terletak di dekat Sungai Tiber. Sebagai negara teokrasi, Paus memerintah baik Gereja Katolik maupun negara kota Roma (Papal States). Roma menjadi pendukung seni dan Renaisans melalui dukungan kepada seniman seperti Raphael dan Michelangelo. Michelangelo bekerja sebagai arsitek di Basilika Santo Petrus dan melukis langit-langit Kapel Sistina.

Renaisans di Roma berkembang melalui kepemimpinan beberapa Paus sepanjang abad ke-15 dan ke-16. Seperti pada masa Martin V misalnya, Donatello pergi ke Roma untuk mempelajari seni klasik dan menggali reruntuhan Romawi kuno,  membantu Donatello mengembangkan pemahaman tentang patung klasik yang akan membantu membentuk dan memengaruhi seninya sendiri, dia tetap di Roma sampai 1433. Selain itu, seniman Renaisans terkenal Masaccio melakukan perjalanan ke Roma pada tahun 1423, bersama dengan mentornya Masolino.

Paus Martin V setelah kematiannya pada tahun 1431 digantikan oleh Paus Eugenius IV. Meski kepausannya merupakan masa yang cukup sulit bagi Roma, tetapi masih memiliki beberapa kontribusi besar pada Renaisans. Misalnya, dia menugaskan pematung Florentine Antonio Averulino untuk membuat dua pintu perunggu Basilika Santo Petrus, yang dia selesaikan pada tahun 1445. Paus Eugenius IV meninggal pada tahun 1447 dan digantikan oleh Paus Nicholas V Hingga 1455. Nicholas V paling dikenang dari karyanya dengan Leon Battista Alberti, yang merupakan seorang arsitek, penulis, sarjana humanis, dan penyair Italia. Karena banyak bakatnya, sejarawan menganggapnya sebagai contoh konsep Manusia Renaisans. Bersama-sama, Nicholas V dan Alberti membuat rencana untuk membangun beberapa proyek besar di Roma termasuk banyak gereja.

Paus berikutnya yang terkait dengan perkembangan Renaisans di Roma adalah Paus Sixtus IV, anggota keluarga Della Rovere yang mengabdi dari tahun 1471 hingga 1484. Beberapa seniman Renaisans terkemuka dipekerjakan untuk menyelesaikan lukisan dinding di bagian dalam kapel sistina, seperti Sandro Botticelli, Pietro Perugino, Pinturicchio, Domenico Ghirlandaio dan Cosimo Rosselli. Pada 1508 hingga 1512, Michelangelo dipekerjakan untuk mengecat langit-langit Kapel Sistina. Langit-langit Kapel Sistina telah menjadi salah satu pencapaian artistik yang paling dikenal. Ia juga mendirikan koleksi seni publik tertua di dunia yang sekarang menjadi bagian utama museum Capitoline, dan ia juga secara signifikan meningkatkan perpustakaan Vatikan hingga menjadikannya area publik.

Paus lain yang penting bagi Renaisans di Roma adalah Leo X. Ia adalah Paus dari Maret 1513 hingga kematiannya pada 1521. Paus Leo X lahir sebagai Giovanni di Lorenzo de Medici dan merupakan putra dari Lorenzo de Medici, dari keluarga Medici Florence yang telah disebutkan sebelumnya. Dia adalah pendukung seni selama Renaisans dan terkait erat dengan seniman Renaissance terkenal Raphael.

Napoli

Napoli berkembang di bagian barat daya semenanjung Italia, kota Napoli terletak di pantai semenanjung di samping Teluk Napoli, yang merupakan bagian dari Laut Tyrrhenian. Negara kota Napoli (Naples) menguasai sebagian besar Italia selatan pada masa Renaisans. Pada 1443 setelah Alfonso I menaklukkan wilayah tersebut, Dia mendukung seniman, penulis, dan filsuf Renaissance.

Alfonso I (1396 - 27 Juni 1458) adalah Raja Aragon (dikenal sebagai Alfonso V dari Aragon) di Semenanjung Iberia (sekarang Spanyol) dan dianggap sebagai tokoh signifikan dalam transformasi Napoli menjadi pusat Renaisans Italia. Dia menyukai sastra klasik dan sering mengundang para sarjana ke istananya untuk berpartisipasi dalam debat terbuka. Selain itu, dia mempromosikan dan memesan lukisan minyak, yang menjadikan negara kota itu sebagai pusat seni Renaisans. Misalnya seniman seperti Laurana, da Messina, Sannazzaro dan Poliziana. Ia terkenal membantu mendirikan Akademi Napoli, dia juga membantu mendirikan museum dan perpustakaan di seluruh kota yang sejalan dengan upaya renaisans saat itu. Pada puncak kekuasaannya, Alfonso menguasai sebagian besar wilayah di Eropa, termasuk seluruh Italia selatan, sehingga membantu memperluas pengaruh Napoli di wilayah lain.

Urbino

Urbino adalah Kota perbukitan kecil yang menjadi asal kepemimpinan adipati Federico da Montefeltro (7 Juni 1422 - 10 September 1482), ahli strategi militer handal di zaman Renaisans. Sebagai Condottieri (atau pada umumnya, tentara bayaran), ia memanfaatkan pengaruh dan pendapatan yang diperoleh dari konflik bersenjata untuk membangun kotanya menjadi pusat pembelajaran dan budaya humanis. Bangunan dan ruang publik yang dia hasilkan kepada Urbino menggambarkan arsitektur kuno yang diciptakan kembali oleh Renaisans.

Perpustakaan yang dibangun Federico adalah salah satu yang paling mengesankan di seluruh Italia abad ke-15. Stafnya diantaranya empat guru tata bahasa, logika, dan filsafat dan empat sebagai transkrip naskah yang bekerja di perpustakaan istana. Dibangun pula dua area (studioli) di mana dia dapat menikmati kegiatan humanisnya, salah satu di istana Urbino, yang lainnya di kota terdekat Gubbio, studiolo ini berisi manuskrip dan buku yang suka dibaca Federico da Montefeltro. Sehingga, bukannya digambarkan di monumen berkuda seperti condottieri pada umumnya, Federico justru lebih digambarkan sebagai seorang sastrawan.


Referensi

1.      “Renaissance: Italian City-States”. ducksters.com. diakses pada 17 September 2020. <https://www.ducksters.com/history/renaissance/italian_city-states.php>

2.      CrashCourse. “Florence and the Renaissance: Crash Course European History #2” youtube.com. 19 April 2019. diakses pada 18 September 2020. <https://www.youtube.com/watch?v=tecocKSclwc&t=638s&ab_channel=CrashCourse>

3.      CrashCourse. “The Renaissance: Was it a Thing? - Crash Course World History #22”. youtube.com. 21 Juni 2012. diakses pada 18 September 2020. <https://www.youtube.com/watch?v=Vufba_ZcoR0&t=77s&ab_channel=CrashCourse>

4.      Josh. “The Most Influential City-State of the Renaissance”. prezi.com. 10 November 2015. diakses pada 21 September 2020. <https://prezi.com/ghxbdxka28tc/the-most-influential-city-state-of-the-renaissance/>

5.      Extra Credits. "Urbino - The Light of Italy: Federico da Montefeltro - Extra History". youtube.com. 16 Juli 2016. diakses pada 21 September 2020. <https://www.youtube.com/watch?v=kAfNQ_XiPjQ&t=347s&ab_channel=ExtraCredits>

6.      Huynh, Brandon. "Italian City-States". prezi.com. 10 Desember 2014. diakses pada 21 September 2020. <https://prezi.com/ye4crltxr4rn/italian-city-states/>

7.      Hahn, Hunter. "Renaissance". prezi.com. 20 Oktober 2016. diakses pada 21 September 2020. <https://prezi.com/zkhjbxlebfyp/renaissance/>

8.      The School of Life. "HISTORY OF IDEAS - The Renaissance". youtube.com. 6 November 2015. diakses pada 22 September 2020. <https://www.youtube.com/watch?v=fI1OeMmwYjU&t=710s&ab_channel=TheSchoolofLife>

9.      "Milan in the Renaissance". historycrunch.com. 18 Agustus 2018. diakses pada 22 September 2020. <https://www.historycrunch.com/milan-in-the-renaissance.html#/>

10.  "Genoa in the Renaissance". historycrunch.com. 18 Agustus 2018. diakses pada 22 September 2020. <https://www.historycrunch.com/genoa-in-the-renaissance.html#/>

11.  "Venice in the Renaissance". historycrunch.com. 18 Agustus 2018. diakses pada 22 September 2020. <https://www.historycrunch.com/venice-in-the-renaissance.html#/>

12.  "Rome in the Renaissance". historycrunch.com. 18 Agustus 2018. diakses pada 22 September 2020. <https://www.historycrunch.com/rome-in-the-renaissance.html#/>

13.  "Naples in the Renaissance". historycrunch.com. 18 Agustus 2018. diakses pada 22 September 2020. <https://www.historycrunch.com/naples-in-the-renaissance.html#/>

14.  “The Renaissance Period”. aboutroma.com. diakses pada 22 September 2020. <http://www.aboutroma.com/history-of-rome/renaissance.html>

15.  "Florence in the Renaissance". historycrunch.com. 18 Agustus 2018. diakses pada 22 September 2020. <https://www.historycrunch.com/florence-in-the-renaissance>

16.  "Milan during the Renaissance". prezi.com. 4 November 2015. diakses pada 23 September 2020. <https://prezi.com/mzxx1u5ynewy/milan-during-the-renaissance/>

17.  “Urbino”. italianrenaissanceresources.com. diakses pada 23 September 2020. http://www.italianrenaissanceresources.com/units/unit-8/essays/urbino/ (diakses pada 23 September 2020)

18.  Lindsey-Gonzales, Dominique. “Rome & Renaissance 1300's - 1500's”. 14 Juli 2015. diakses pada 23 September 2020 <https://prezi.com/8f4dte8egjz_/rome-renaissance-1300s-1500s/>

       19.  “The library of duke Federico da Montefeltro at Urbino”. Diakses pada 23 September 2020.                 <https://staikoslibraries.gr/en/renaixement/the-library-of-duke-federico-da-montefeltro-at-                        urbino.html> 



p.s: iseng kuapload, ini sebenarnya cuma salah satu tugas kuliah dari almarhum dosen favoritku

Share:

Rabu, 14 Oktober 2020

Rodrigo Diaz de Vivar, Pemimpin Pasukan Kristiani dan Muslim


Rodrigo Diaz de Vivar merupakan seorang panglima perang dari spanyol pada masa kekuasaan muslim dan Reconquista. Ia lebih dikenal dengan sebutan El Cid oleh kelompok muslim (kemungkinan dari “al-sayyid”) dan Campeador oleh umat kristiani (“the Champion”).

Rodrigo lahir pada tahun 1047 di Vivar (sekarang dekat Burgos, Spanyol) dari ibu seorang aristokrat, sedangkan ayahnya merupakan birokrat dan prajurit bernama Diego Lainez. Ia mengabdi pada putra raja Ferdinand I dari Castille, Sancho II hingga ia naik tahta pada tahun 1065. Sebelumnya Ferdinand I memutuskan akan membagikan wilayah kekuasaan pada anak-anaknya, dalam hal ini, Sancho mendapatkan kerajaan Castille, Alfonso di Leon, dan Garcia di Galicia, sementara kedua putrinya, Urraca dan Elvira mendapat masing-masing di Zamora dan Toro. Hal ini kemudian berujung Pada 1072, raja Sancho II dan saudaranya, Raja Alfonso VI dari Leon, bertempur di Golpejera. Dalam pertempuran itu, Alfonso dikalahkan dan diasingkan. Garcia II dari Galicia juga dikalahkan di Santarem kemudian.

Rodrigo ikut serta dalam setiap kampanye militer Sancho II hingga ia menyatukan kerajaan ayahnya. sayangnya, di tahun yang sama ketika Sancho mengepung Zamora yang dipimpin oleh saudarinya Urraca (setelah sebelumnya menaklukkan Toro pimpinan Elvira dengan mudah), ia terbunuh oleh Bellido Dolvos, seorang bangsawan Zamora dengan berpura pura membelot dan masuk ke kamp Sancho II. Alfonso VI yang sebelumnya diasingkan kemudian kembali dan mewarisi tahta saudaranya. Rodrigo sendiri mengabdi pada Alfonso setelah memaksanya bersumpah tak terlibat dalam pembunuhan Sancho II.

Alfonso VI (jubah merah) disumpah di Santa Gadea, Rodrigo menjadi saksi di depannya

Pada 1074, Rodrigo menikahi Jimena (kemungkinan sepupu Alfonso VI). Lima tahun kemudian, tahun 1079 ia ditunjuk sebagai perwakilan menuju Sevilla pimpinan al-Mutamid untuk menarik upeti. Di saat yang sama, emir Abdallah ibn Bulughin dari Granada, didukung oleh Garcia Ordonez yang juga sesama bawahan Alfonso VI, menyerang Sevilla. Menanggapi hal ini, Rodrigo yang bertugas di Sevilla juga ikut serta mempertahankan wilayah pimpinan al-Mutamid tersebut dalam Pertempuran Cabra, dimana ia berhasil mengalahkan dan menangkap Garcia. Atas perbuatannya dalam bertempur melawan sesamanya sendiri (dan beberapa alasan politik yang tidak pasti), pamornya dalam lingkup kerajaan Castille turun, puncaknya (kemungkinan) pada 1081, ia diasingkan.

Sebagai seorang prajurit, Rodrigo sebelumnya menawarkan pelayanan pada Berenguer II di Barcelona, dan ditolak. Ia kemudian mengabdi pada pemimpin muslim di Zaragoza bernama Yusuf al Mu’taman. Pada 1084, pasukan Zaragosa pimpinan Rodrigo berhasil mengalahkan pasukan Aragon dalam pertempuran Morella. Atas perannya dalam memimpin pasukan muslim, ia mendapat julukan El Cid (beberapa sumber juga mengatakan bahwa julukan El Cid ia dapat ketika memimpin Valencia).

Tahun 1086, pasukan Almoravids pimpinan Yusuf ibn Tashfin, menyerbu Spanyol demi membantu pasukan muslim lainnya mempertahankan Andalusia dari Alfonso VI. Menanggapi hal ini, Alfonso VI kemudian memanggil kembali Rodrigo pada 1087.

Pada tahun 1092, al-Qadir, penguasa Valencia (dibawah kekuasaan Alfonso VI) dibunuh oleh Ibn Jahhaf yang pro-Almoravid, membuat Valencia rentan oleh serangan. Saat itu, Valencia merupakan titik vital di Iberia, Yusuf sendiri berniat menjadikan kota itu sebagai basis pendaratan pasukan Almoravid (sumber muslim menyebutnya al-Murabithun). Sementara itu, Berenguer Ramon II dari Barcelona bersama dengan sekutu muslimnya dari lerida, yang berniat menguasai kota itu dua tahun sebelumnya, dikalahkan oleh Rodrigo pada pertempuran Tevar, dengan itu mengurangi ancaman dan mengkonsolidasi kekuatannya di timur Iberia.

Pedang Tizona
Pasukan Rodrigo, yang terdiri dari gabungan tentara kristiani dan muslim, mulai mengepung Valencia, setelah sebelumnya merebut wilayah wilayah kecil di sekitarnya seperti El Puig dan Quart de Poblet. Setelah melalui pengepungan selama 2 tahun, Valencia berhasil ditaklukkan pada bulan Mei 1094. Rodrigo kemudian mengambil alih kekuasaan di Valencia, yang terdiri dari penduduk kristiani dan muslim pada saat itu (termasuk juga dalam ketentaraan dan pemerintahan). Ibn Jahhaf, setelah beberapa waktu dibawah kekuasaan Rodrigo, dieksekusi. Secara resmi, Rodrigo memimpin Valencia dibawah kekuasaan Alfonso VI, tetapi kenyataannya Rodrigo memimpin atas kekuasaanya sendiri.

Selama kekuasaannya di Valencia, kota itu mendapat tekanan dari Almoravid, dibuktikan dari serangan pada 1094 dan 1097, dimana ia berhasil mengalahkan keduanya dan mempertahankan kedudukannya dalam “kepangeranan” Valencia hingga akhir hayatnya, pada 10 Juli 1099. Kota Valencia kemudian dipimpin oleh Jimena Diaz, istrinya. Setelahnya, Valencia dikepung kembali oleh tentara Almoravid, Alfonso VI yang merasa Valencia tak dapat dipertahankan, kemudian memerintahkan untuk meninggalkannya. Valencia jatuh ke tangan Almoravid pada tahun 1102, yang terus menguasainya hingga tahun  1238.

makam Rodrigo dan Jimena
Terdapat legenda yang mengatakan bahwa setelah kematian Rodrigo, Jimena menempatkan jasadnya diatas kuda perangnya, Bavieca, dengan memakaikan baju perang lengkap dengan pedang “Tizona” di tangannya. Hal ini dilakukan demi menjaga moril pasukan dalam mempertahankan Valencia. Adapula di cerita yang lain, Jasad Rodrigo dan kuda perangnya bersama dengan pasukan berkuda lain pernah memenangkan pertarungan melawan musuh.

Yang pasti pada tahun 1101, Jimena, bersama dengan jasad Rodrigo dan sisa pasukannya, mundur ke Burgos, Castille. Jasadnya dimakamkan di biara San Pedro de Cardena, dekat Burgos, kemudian makamnya (bersama dengan makam istrinya) dipindahkan lagi ke Katedral Burgos. Kuda perangnya, Bavieca juga dimakamkan di area yang sama. sementara pedangnya, Tizona, saat ini diklaim tersimpan di Museum Burgos.
  
Daftar Pustaka 



Share:

Minggu, 22 Desember 2019

Kejayaan Bismarck yang Hanya Sekejap Mata




Pendahuluann

Bismarck merupakan kapal tempur terbesar yang pernah dibuat Jerman pada masa Perang Dunia II. Nama kapal ini berasal dari nama Kanselir Jerman pada abad ke-19, Otto von Bismarck. Bismarck menjadi terkenal setelah berhasil menenggelamkan kapal perang utama Angkatan Laut Britania Raya, HMS Hood dalam Pertempuran Selat Denmark pada tahun 1941. Bismarck dan saudara kembarnya Tirpitz merupakan kapal utama Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine) di Perang Dunia II.

Kapal perang Bismarck patut mendapat perhatian serius semua sejarawan, karena ia adalah tokoh utama dari salah satu episode pertempuran paling dramatis dari Perang Dunia II. Tidak seperti kapal saudaranya, Tirpitz, atau kapal perang Jepang Yamato dan Musashi, yang semuanya tenggelam tanpa kesempatan untuk menghadapi kapal perang musuh, Bismarck bertempur dengan gagah berani melawan musuh yang jauh lebih unggul, dan akhirnya dikalahkan dalam salah satu pertempuran paling menakjubkan yang pernah terjadi. Kapal itu berduel dengan kapal penjelajah tempur Inggris Hood dan pendampingnya, kapal tempur Prince of Wales. Dalam Enam menit Hood sebagai kapal kebanggaan Inggris tenggelam setelah gudang senjatanya meledak, dan Prince of Wales terpaksa mengundurkan diri. Bukan hanya penenggelaman Hood yang membuat Bismarck mendapat tempat dalam sejarah. Tetapi besarnya sumber daya manusia dan material yang dilancarkan untuk memburu dan menghancurkan monster laut ini.

Ratusan buku, majalah, dan publikasi dari segala jenis telah ditulis tentang kapal perang yang hebat ini dalam berbagai bahasa, dan selain Titanic, tidak ada kapal lain yang banyak dibahas seperti Bismarck. Bahkan hingga hari ini, lebih dari 78 tahun kemudian, kisah unik kapal perang ini terus menarik perhatian ribuan orang di seluruh dunia dan menjadi objek bacaan yang menarik bagi penikmat angkatan laut.

Latar Belakang Pembangunan

Perjanjian Versailles tahun 1919, menyatakan dalam Pasal 181 bahwa pasukan angkatan laut Jerman yang bertugas tidak boleh melebihi enam kapal tempur, enam kapal penjelajah ringan, dua belas kapal perusak dan dua belas kapal torpedo. Selain itu, pasal 190 membatasi berat kapal utama hingga 10.000 ton. Jerman berada di bawah batasan angkatan lautnya sendiri sesuai dengan perjanjian Versailles, dan baru pada tahun 1927 diskusi dimulai di dalam Angkatan Laut Jerman mengenai pembangunan kapal utama untuk mengganti kapal lama yang telah usang.

Peristiwa politik kemudian mempengaruhi masa depan pembangunan angkatan laut Jerman. Pada 16 Maret 1935, Hitler menolak batasan persenjataan Perjanjian Versailles dengan mengumumkan perluasan angkatan bersenjata Jerman, serta membentuk Angkatan Udara baru (Luftwaffe) dan meningkatkan Angkatan Laut, yang akan dinamai sebagai Kriegsmarine. Tindakan sepihak Hitler memicu serangkaian negosiasi yang berakhir pada 18 Juni 1935, Menteri Luar Negeri Inggris Sir Samuel Hoare dan Duta Besar Jerman Joachim von Ribbentrop menandatangani Perjanjian Angkatan Laut Anglo-Jerman di London, secara resmi mencabut pembatasan Perjanjian Versailles.

Akibatnya, Jerman kemudian diizinkan untuk membangun armada laut hingga 35 persen dari total armada Inggris, dan 45 persen dalam hal kapal selam. Ini berarti bahwa Jerman dapat membangun 183.000 ton kapal tempur, dengan kata lain lima kapal tempur 35.000 ton. Setelah Hitler menolak Perjanjian Versailles pada bulan Maret, kemungkinan untuk mempersenjatai kapal dengan senjata 38 cm mulai dipertimbangkan kembali secara serius, bahkan jika itu berarti meningkatkan tonase kapal.

Lima bulan setelah penandatanganan Perjanjian Angkatan Laut Anglo-Jerman, kapal tempur "F" Ersatz Hannover (kemudian dinamai Bismarck) secara resmi dipesan dan kontrak pembangunan dimulai pada 16 November 1935 dengan perusahaan pembuat kapal Blohm & Voss yang berbasis di Hamburg. Kontrak pembangunan untuk kapal sekelasnya Kapal Tempur "G" Ersatz Schleswig-Holstein (kemudian dinamai Tirpitz) juga diajukan kemudian di galangan kapal Kriegsmarine Werft di Wilhelmshaven. Bismarck resmi dibangun pada 1 juli 1936, selesai pada 14 februari 1939 dan resmi bertugas pada 24 agustus 1940.

Bismarck dibangun dengan berat 41.700 ton dan 50.300 muatan penuh, dengan panjang keseluruhan 251 m, lebar 36 m dan sarat kapal maksimum 9.9 m. Kapal tempur ini adalah kapal tempur terbesar di Jerman. Bismarck ditenagai oleh tiga turbin uap Blohm & Voss dan dua belas ketel uap minyak Wagner, menghasilkan total 148.116 tenaga kuda (110.450 kW) dan menghasilkan kecepatan maksimum 30,01 knot (55,58 km / jam) pada uji kecepatan. Kapal ini memiliki jangkauan jelajah 8.870 mil laut (16.430 km) pada 19 knot ( 35 km / jam). Bismarck dilengkapi dengan tiga set radar pencari FuMO 23 yang dipasang pada rangefinder depan dan belakang serta bagian atas.


Bismarck dipersenjatai dengan delapan senjata SK C/34 kaliber 38 cm yang diatur dalam empat turret meriam ganda: dua turret di depan (diberi nama "Anton" dan "Bruno") dan dua di buritan (diberi nama "Caesar" dan "Dora"). Persenjataan sekunder terdiri dari dua belas senjata kaliber 15 cm L/55, enam belas kaliber 10,5 cm L/65, enam belas kaliber 3,7 cm L/83, dan dua belas senjata anti-pesawat kaliber 2 cm. 

Sabuk pelindung utama kapal setebal 320 mm yang dilapisi oleh lapisan baja di bagian atas dan utama yang masing-masing setebal 50 mm dan 100 hingga 120 mm. Meriam 38 cm dilindungi lapisan setebal 360 mm di bagian depan dan 220 mm di bagian sisi.

Operasi Rheinubung dan pertemuan dengan armada Inggris

Menyusul keberhasilan yang dicapai oleh kapal-kapal jerman di Atlantik selama musim dingin 1940-1941, Komando Tinggi Angkatan Laut Jerman memutuskan untuk meluncurkan operasi yang jauh lebih ambisius. Dengan mengirim gugus tempur yang kuat terdiri dari kapal perang Bismarck, Tirpitz Scharnorst, dan Gneisenau. Sayangnya, Scharnhorst harus masuk ke dok kering untuk menjalani perbaikan mesin dan tidak akan siap setidaknya sampai bulan Juni. Di Baltik, Bismarck hampir menyelesaikan uji coba dan akan segera siap untuk pelayaran tempur pertamanya. Namun, Tirpitz, yang baru saja ditugaskan pada 25 Februari, belum menyelesaikan pelatihan, dan tidak mungkin siap pada musim semi.

Inggris tahu tentang kehadiran Scharnhorst dan Gneisenau di Brest dan bahaya yang mereka berikan, karena itu, mereka memutuskan untuk melumpuhkan kedua kapal perang ini melalui serangan udara. Pada 6 April, pesawat dari Skuadron 22 Inggris mencetak serangan torpedo di sisi kanan Gneisenau. Gneisenau rusak dan harus memasuki dok kering untuk perbaikan. Beberapa hari kemudian pada malam 10 hingga 11 April, kapal perang ini kembali dihantam. Kali ini oleh empat bom yang dijatuhkan oleh RAF dan memaksa untuk memperpanjang pekerjaan perbaikan selama berbulan-bulan. Sebagai akibat dari serangan ini, Bismarck dan Prinz Eugen menjadi satu-satunya kapal perang berat yang tersedia untuk berpartisipasi dalam serangan konvoi kapal dagang sekutu di musim semi itu.

Vice-Admiral Gunther Lutjens, pimpinan operasi rheinübung
Ada banyak alasan untuk membatalkan operasi sampai kekuatan yang lebih besar dapat disusun. Menjelang musim gugur, Tirpitz akan selesai beroperasi penuh sementara Scharnhorst dan Gneisenau di Brest akan siap kembali. Meskipun demikian, ide untuk mengirim Bismarck dan Prinz Eugen ke Atlantik pada musim semi tetap bertahan. Inggris berada dalam krisis pasokan, dan lima bulan tenang di laut hanya akan memperkuat posisinya.

Pada 22 April, Admiral Lütjens menetapkan rincian operasi yang diberi nama kode Rheinübung (Latihan Rhine), tanggal dimulainya Operasi Rheinübung ditetapkan 18 Mei dan dimulai sesuai rencana. Kedua kapal berlayar secara independen sampai mereka bergabung bersama di Pulau Rügen pada pukul 11.25 pada 19 Mei.

Pada 20 Mei pukul 13.00, kapal-kapal Jerman terlihat oleh kapal penjelajah Swedia Gotland yang melaporkan ke Stockholm. Swedia telah menerima laporan ini dan kemudian bocor ke Atase Angkatan Laut Inggris di Swedia, Kapten Henry W. Denham. Kemudian pada hari itu, dari kedutaan Inggris di Stockholm, Denham mengirim pesan ke Admiralty di London. Pada awal 21 Mei, Angkatan Laut Inggris menerima laporan dari Denham tersebut.

 Pukul 11.00 pada 21 Mei, British Coastal Command mengirim dua pesawat Spitfire dari Skotlandia untuk terbang di pesisir Norwegia dan mencari kapal-kapal Jerman. Pada 13.15, salah satu pesawat tersebut, diterbangkan oleh Perwira Michael F. Suckling, berhasil melihat dan memotret kapal-kapal Jerman di dekat Bergen dari ketinggian 8.000 meter (26.200 kaki).

Setelah menerima laporan, Panglima Armada Inggris, Laksamana Sir John Tovey memerintahkan penjelajah berat Suffolk dan Norfolk untuk berpatroli di Selat Denmark. Tak lama sebelum tengah malam pada 21 Mei, battlecruiser Hood mengibarkan bendera Laksamana Lancelot Ernest Holland bersama dengan  kapal tempur Prince of Wales meninggalkan Scapa Flow ke Hvalfjord di Islandia.

Di atas kapal Bismarck, instrumen radar depan (FuMO 23) rusak. Karena hal ini, Admiral Lütjens memerintahkan kapalnya untuk berganti posisi, dan Prinz Eugen dengan perangkat radarnya (FuMO 27) berada di depan. Artileri Bismarck yang kuat akan berfungsi untuk menjaga agar kapal penjelajah Inggris (yang sejak awal membuntuti mereka) tidak mendekat.

Pada pagi hari tanggal 24 Mei di antara Islandia dan Greenland, Gugus Tempur Jerman mempertahankan arah 220º dan kecepatan 28 knot, ketika sekitar 05.30, hydrophones Prinz Eugen menerima suara baling-baling dari dua kapal di sisi kirinya. Pada titik ini, kapal perang Inggris mendekati Gugus Tempur Jerman dengan arah 280° pada kecepatan 28 knot. Admiral Lütjens tidak punya pilihan lain selain membuka pertempuran.

Kapal Prince of Wales menargetkan Bismarck yang mengekor Prinz Eugen sekitar satu mil di belakangnya, sementara Hood menargetkan Prinz Eugen karena salah mengira bahwa ia adalah Bismarck. Tiba-tiba, pada 05.52 dari jarak sekitar 12,5 mil (23.150 meter), Hood melepaskan tembakan, diikuti oleh Prince of Wales setengah menit kemudian pada 05.53. Salvo pertama dari Prince of Wales mendarat dekat Bismarck. salvo kedua, ketiga dan keempat jatuh lagi di dekat Bismarck.

Pada pukul 06.00, Hood dan Prince of Wales mengubah arah 20º lagi ke kiri untuk membawa turret belakang mereka ke dalam pertempuran, ketika salvo kelima Bismarck mengenai Hood dari jarak kurang dari 9 mil (16.668 meter). Setidaknya satu peluru 38cm menembus sabuk besi Hood yang mencapai gudang senjata dan meledak.

The Mighty Hood, kebanggaan Angkatan Laut Kerajaan Inggris terbelah dua dan tenggelam dalam tiga menit. Bagian buritan tenggelam pertama, ujung atas dan tengah bawah, diikuti oleh bagian haluan. Itu semua terjadi begitu cepat sehingga tidak ada waktu untuk meninggalkan kapal. Dari 1.418 awak, hanya tiga yang selamat. Tiga orang yang selamat diselamatkan tiga setengah jam kemudian di laut oleh kapal perusak Electra, dan kemudian mendarat di Reykjavik.

Prince of Wales berada pada posisi yang tidak menguntungkan, dan pada 06.03 meluncurkan tabir asap dan mundur dari pertempuran setelah dihantam empat kali oleh Bismarck dan tiga lainnya oleh Prinz Eugen. Pada 06.09, Jerman melepaskan tembakan terakhir mereka dan pertempuran berakhir.

Selama pertempuran ini, Bismarck terhantam di sisi kiri oleh tiga peluru 14 inci. Hantaman ini menyebabkan banjirnya pembangkit listrik kiri No. 4. Ruang boiler No. 2 yang berdekatan juga terkena air. Peluru kedua mengenai haluan tepat di atas garis air. Sekitar 1.000 ton air garam masuk, dan sebagai akibatnya, beberapa ratus ton bahan bakar minyak ini terhambat di tangki bawah.

Sebagai hasil dari serangan ini, kecepatan tertinggi Bismarck menurun menjadi 28 knot. Kapal perang itu turun 3º di bagian haluan dan miring 9º ke kiri. Karena itu, gerakan kapal menyebabkan baling-baling kanan muncul dari permukaan air beberapa kali. Kerusakan itu tidak terlalu serius, Bismarck tetap mempertahankan kemampuan bertarungnya, kecepatan yang baik, dan tidak ada korban di antara para kru, hanya lima orang yang sedikit terluka. Namun, hilangnya bahan bakar itu memengaruhi tindakan yang selanjutnya.

Inggris Melancarkan Perburuan Bismarck

Setelah pertempuran di Selat Denmark, Lütjens memiliki dua opsi utama. Yang pertama adalah kembali ke Norwegia dan yang kedua melanjutkan ke Atlantik Utara. Saat ini kebanyakan orang setuju bahwa, jika memungkinkan, Lütjens seharusnya menghancurkan atau setidaknya melumpuhkan Prince of Wales yang sudah rusak, kemudian berbalik, dan menuju Trondheim, melalui Selat Denmark. Lütjens juga bisa mengambil jalur yang lebih pendek ke Bergen, melalui jalur Faeroes-Islandia, meskipun kemungkinan dicegat oleh Gugus Tempur Tovey (King George V, Repulse, dan Victorious) yang berasal dari Scapa Flow. Sebaliknya, Laksamana Jerman memilih untuk tidak mengejar Prince of Wales dan menuju Atlantik. Pada 08.01, Admiral Lütjens mengirim serangkaian pesan yang menginformasikan niatnya untuk membawa Bismarck ke Saint-Nazaire untuk diperbaiki. Prinz Eugen, yang tidak rusak, akan tinggal di Atlantik untuk menyerang konvoi musuh sendirian, Pagi-pagi sekali tanggal 24 Mei, Admiral Lütjens telah memutuskan untuk melepaskan Prinz Eugen.

 Lütjens telah memutuskan untuk membatalkan Operasi Rheinübung setidaknya untuk sementara hingga Bismarck dapat diperbaiki di pelabuhan. Pelabuhan Prancis lebih jauh dari Norwegia dan membutuhkan pengeluaran bahan bakar yang lebih besar. Lütjens mengira Prancis adalah tempat terbaik untuk melanjutkan pertempuran Atlantik sesegera mungkin mengikuti keinginan Raeder Karena dia telah berhasil memasuki Brest dengan sukses bersama Scharnhorst dan Gneisenau beberapa bulan sebelumnya.

Situasi bahan bakar di atas kapal Bismarck menjadi serius, dan pada 20.56, Lütjens memberi tahu bahwa karena kekurangan bahan bakar, ia harus melanjutkan langsung ke Saint-Nazaire. pada saat itu Bismarck memiliki kurang dari 3.000 ton bahan bakar minyak yang tersedia, kapal tempur tersebut terpaksa melambat untuk mencapai Prancis.

Pada 15.09, Laksamana Tovey memerintahkan Laksamana Muda Alban Curteis di Galatea dengan kapal induk Victorious dan empat kapal penjelajah ringan Galatea, Aurora, Kenya dan Hermione untuk membuka serangan. Pada 22.10, sekitar 120 mil dari Bismarck, Victorious meluncurkan semua pembom torpedo Skuadron ke-825 di bawah komando Letnan-Komandan Eugene Esmonde. Lindemann dan juru mudi, Hans Hansen, berhasil menghindari enam torpedo pertama ketika tiba-tiba kapal tempur itu terhantam Torpedo MK XII 18 inci di sisi kanan Bismarck dengan Kerusakannya yang kurang signifikan.

Tak lama setelah pukul 03.00, mengambil keuntungan dari kegelapan, Lütjens memanfaatkan kesempatan untuk memutuskan kontak dengan pengejarnya. Bismarck meningkatkan kecepatannya menjadi 27 knot dan bermanuver ke kanan. Akhirnya, Bismarck berhasil memutuskan kontak dan mengatur arah 130º ke tenggara, ke Saint-Nazaire.

Sehari kemudian, dua kapal terbang lepas landas dari Lough Erne di Irlandia Utara dalam misi pengintaian untuk mencari Bismarck. Sekitar pukul 10.10, Catalina dari Skuadron 209  yang dikomandoi oleh Perwira Dennis Briggs melihat kapal perang Jerman. Setelah lebih dari 31 jam sejak kontak terputus, Bismarck telah ditemukan kembali. Sayang bagi Inggris, kapal Laksamana Tovey terlalu jauh dari lokasi Jerman. King George V berada 135 mil di utara, dan Rodney berada 125 mil di timur laut. Mereka tidak akan bisa mengejar Bismarck kecuali jika kecepatannya dapat dikurangi.

Hanya Force H, di bawah komando Laksamana Sir James F. Somerville yang berlayar dari Gibraltar memiliki kesempatan untuk mencegat Bismarck. Harapan terbaik bagi Inggris adalah meluncurkan serangan udara dari kapal induk Ark Royal. Ark Royal meluncurkan 10 Swordfish pada 08.35 untuk mencoba menemukan Bismarck, dan begitu laporan pegintaian Catalina tiba, Swordfish mengubah arah untuk mencegat sesegera mungkin.

Regu pengebom Swordfish, kali ini di bawah komando Letnan-Komandan T. P. Coode, pada 20.47, Bismarck menerima setidaknya dua serangan torpedo. Satu torpedo mengenai sisi kiri tengah kapal, dan yang lain mengenai buritan di sisi. Serangan pertama tidak menyebabkan kerusakan signifikan, tetapi yang kedua menghantam kemudi yang membuatnya macet pada posisi 12º ke kiri.

Penenggelaman Bismarck

Setelah serangan torpedo udara yang merusakkan kemudi, arah Bismarck menjadi tidak menentu. Pukul 22.38, rombongan kapal perusak Polandia Piorun melihat Bismarck. Kapal perang Jerman merespons segera setelahnya dengan tiga salvo tembakan. Kapal perusak tersebut terus menyerang, tetapi Bismarck membela dirinya dengan gigih dalam kegelapan. Sepanjang malam para perusak menyerang kapal tempur Jerman tersebut, Serangan-serangan ini dilakukan di laut lepas dalam kondisi hujan deras dan jarak pandang sangat rendah, Bismarck berkali-kali bertahan dari setiap serangan dengan tembakan dari meriam utama dan sekundernya. Pada 07.00, total 16 torpedo telah ditembakkan oleh kapal perusak armada ke-4.

Di atas kapal Bismarck, suasana di anjungan begitu tegang, dan mereka tahu hanya masalah waktu sebelum Inggris menyerang mereka dengan kapal-kapal besar. King George V dan Rodney pada 08.43 akhirnya melihat Bismarck dari jarak 23.000 meter.

Rodney melepaskan tembakan pukul 08.47, diikuti oleh King George V satu menit kemudian dari jarak sekitar 20.000 meter. Bismarck membalas tembakan pada 08.49 dengan meriam depan "Anton" dan "Bruno" melawan Rodney sedangkan meriam "Cäsar" dan "Dora" tidak bisa digunakan dari buritan. Sebaliknya, Rodney memiliki sembilan persenjataan di bagian depan dan King George V menambahkan enam lagi. Dengan kata lain, tahap awal pertempuran ini terdiri dari pertukaran tembakan antara empat senjata Jerman dan lima belas milik Inggris. Bismarck benar-benar kalah senjata. Ditambah lagi, pada  pukul 08.54, Norfolk bergabung dalam pertempuran dengan delapan senjata 20,3 cm, dan pada 08.58 meriam sekunder Rodney bergabung dalam pertempuran.

Pukul 09.02, Bismarck dihantam oleh beberapa peluru yang melumpuhkan rangefinder bagian atas. Pada 09.04, Dorsetshire yang baru saja tiba, juga melepaskan tembakan. Dua kapal perang dan dua kapal penjelajah berat menembaki Bismarck. Pada 09.08, rangefinder depan dan menara "Anton" dan "Bruno" dilumpuhkan. Sehingga kontrol Bismarck bergeser ke pos komando setelah. Dari sana, Perwira Artileri Keempat, Kapitänleutnant Müllenheim-Rechberg mengarahkan empat salvo terhadap King George V. Tetapi pada sekitar 09.13, tepat ketika ia mendapatkan jangkauan, posisinya juga dihantam peluru kaliber 14 inci. Pada 09.21, meriam "Dora" dilumpuhkan setelah salah satu peluru meledak di bagian kanan. Enam menit setelahnya, meriam "Anton" atau "Bruno" menembakkan satu salvo terakhir diikuti oleh "Caesar" sepuluh menit kemudian. Hanya beberapa senjata sekunder yang masih beraksi, tetapi juga segera dihancurkan oleh kekuatan tembakan Inggris. Pada saat ini, Kapten Lindemann, memberi perintah untuk menenggelamkan dan meninggalkan kapal.


Begitu Bismarck kehilangan kemampuan tempurnya, Rodney semakin mendekat, dan dari jarak antara 2.500 dan 4.000 meter terus menembak dengan sembilan senjata 16 inci ke kedua sisi kapal tempur Jerman. Sekitar pukul 09.40, turret "Bruno" meledak dan terbakar. Pada 09.56, Rodney meluncurkan dua torpedo dari jarak 2.700 meter dengan satu kemungkinan menghantam sisi kiri. Tembakan demi tembakan menghantam Bismarck yang masih bertahan. Segera setelah pukul 10.00, Norfolk meluncurkan empat torpedo dari jarak sekitar 3.600 meter dengan satu kemungkinan menabrak sisi kanan. Di atas Bismarck hanya tersisa reruntuhan, dan para kru mulai melompat ke laut. Semua senjata dilumpuhkan, Rodney berhenti menembak pada pukul 10.16, dan Tovey yang mulai kehabisan bahan bakar, terpaksa meninggalkan medan perang.

Pada 10.20, Dorsetshire mendekat dan menembakkan dua torpedo MK VII 21 inci dari jarak 3.000 meter di sisi kanan Bismarck. Keduanya menghantam, tetapi tidak ada efek yang cukup signifikan. Kemudian, penjelajah berat Inggris bergerak kembali, dan pada 10.36 menembakkan torpedo lain dari 2.200 meter ke sisi kiri Bismarck. Pada saat itu kapal tempur Jerman tersebut miring ke kiri, dengan air telah mencapai dek atas. turret meriam kiri sekunder hampir tenggelam. Akhirnya, Bismarck terbalik dan tenggelam pada pukul 10.39.

Penemuan Bangkai Kapal dan Perkiraan Tenggelam

Bangkai Bismarck ditemukan pada 8 Juni 1989 oleh Dr. Robert Ballard, ahli kelautan yang pernah menemukan RMS Titanic. Bismarck ditemukan pada kedalaman sekitar 4.791 m, sekitar 650 km barat Brest.

Survei Ballard menyimpulkan bahwa tidak ada lapisan baja kapal yang tertembus di bawah permukaan air. Delapan lubang ditemukan di lambung kapal, satu di sisi kanan dan tujuh di sisi kiri, semuanya di atas permukaan air. Salah satu lubang terdapat di geladak, di sisi kanan haluan. Enam lubang berada di tengah kapal, tiga serpihan peluru menembus lapisan baja atas, dan satu lubang di lapisan pelindung utama. Kapal selamnya tidak mencatat tanda-tanda penembus yang melalui pelindung utama atau samping, dan kemungkinan bahwa peluru hanya menembus armor dek saja. Penyok besar yang terlihat menunjukkan bahwa banyak dari peluru 14 inci yang ditembakkan oleh King George V memantul dari pelindung baja Jerman. Sejarawan angkatan laut William Garzke dan Robert Dulin mencatat bahwa kapal perang Inggris menembaki dari jarak yang sangat dekat, lintasan yang datar dari peluru membuatnya sulit untuk mengenai target yang relatif sempit yang dilapisi oleh pelindung di atas garis air, karena peluru yang ditembakkan dari jarak pendek akan memantul ke atas atau meledak ketika terkena air.

Ballard mencatat bahwa dia tidak menemukan bukti dari ledakan internal yang terjadi ketika lambung kapal banjir. Air di sekitarnya, yang memiliki tekanan lebih besar daripada udara di lambung kapal, akan menghancurkan kapal. Sebaliknya, Ballard menunjukkan bahwa lambung berada dalam kondisi yang relatif baik; ia hanya menyatakan bahwa "Bismarck tidak meledak." Ini menunjukkan bahwa bagian dalam Bismarck kebanjiran ketika kapal tenggelam, mendukung teori scuttling. Ballard menambahkan "we found a hull that appears whole and relatively undamaged by the descent and impact". Mereka menyimpulkan bahwa penyebab langsungnya tenggelam adalah penenggelaman ruang mesin oleh krunya sendiri seperti yang diklaim oleh korban selamat dari kapal perang tersebut.

Terlepas dari sudut pandang mereka yang terkadang berbeda, para ahli ini umumnya setuju bahwa Bismarck pada akhirnya akan kandas jika Jerman tidak menenggelamkannya terlebih dulu. Ballard memperkirakan bahwa Bismarck masih bisa mengapung setidaknya satu hari ketika kapal-kapal Inggris berhenti menembak dan dapat ditangkap oleh Angkatan Laut Kerajaan, suatu teori yang didukung oleh sejarawan Ludovic Kennedy (yang bertugas pada kapal perusak HMS Tartar pada saat itu).

Penutup
Dilihat dari sudut pandang operasi, Operasi Rheinübung hampir gagal dari awal, sejak 20 Mei, Gugus Tempur Jerman sudah terdeteksi di Kattegat. Inggris telah meningkatkan kewaspadaan mereka, dan berhasil memberi sinyal gerakan Bismarck sejak keberangkatan pertamanya di perairan Norwegia. Jerman, di sisi lain, memiliki intelijen militer yang tidak memadai dan kurangnya kerja sama yang efektif dengan pasukan U-boat.


Para pakar dan sejarawan berpendapat bahwa terjadi berbagai kesalahan fatal sejak Bismarck berangkat dari Gdynia. Seharusnya Bismarck tidak berlayar melalui selat Kattegat dan Skaggerrak karena di jalur itu penuh dengan spionase Inggris, dan Akan lebih aman jika melalui Kanal Kaisar Wilhelm. Hal lainnya adalah Bismarck semestinya menambah bahan bakarnya sehingga bisa melarikan diri dari gempuran lawan.

Terlepas dari semua ini, Bismarck hampir lolos, dan dia pasti dapat melakukannya seandainya bukan karena hantaman torpedo fatal yang melumpuhkan perangkat kemudi. Seandainya Bismarck mencapai Prancis, kapal dan krunya pasti akan disambut bak pahlawan besar. Tenggelamnya Hood diikuti oleh pelarian yang sukses akan memberi Jerman capaian yang mengagumkan. Namun, tujuan utama mereka (menenggelamkan pengiriman kapal dagang musuh) tidak akan tercapai. Oleh karena itu, meskipun merusak prestise Angkatan Laut Kerajaan Inggris, serangan Bismarck masih agak gagal. Selain itu, karena kerusakan yang diterima di Selat Denmark dan serangan torpedo setelahnya, Bismarck harus masuk ke dok kering untuk perbaikan. Ini dapat mencegahnya kembali ke Atlantik karena kapal tempur tersebut tidak dapat digunakan lagi untuk setidaknya beberapa bulan ke depan.

Bagi Angkatan Laut Jerman, tenggelamnya kapal tempur Bismarck mungkin merupakan pukulan terberat perang. Meski demikian, Kriegsmarine masih memiliki kekuatan yang cukup besar dan jauh dari kekalahan. Namun, hilangnya Bismarck menandai titik balik dalam perang terhadap pengiriman kapal dagang Sekutu. Bukan hanya karena kehilangan kapal perang itu sendiri, tetapi karena konsekuensi yang ditimbulkannya. Tak lama setelah Operasi Rheinübung, Jerman mengabaikan penggunaan kapal perang permukaan untuk tujuan penyerbuan di Atlantik. Sejak saat itu, hanya beberapa kapal penjelajah tambahan yang masih tetap terlibat dalam melawan pengiriman kapal dagang sekutu, bahkan penggunaannya terbukti sulit pada akhir 1941, dan oleh karena itu Jerman memusatkan upaya mereka dalam perang U-boat. U-boat sendiri masih akan membawa kesuksesan penting, tetapi mereka juga akhirnya dikalahkan pada Mei 1943, dalam apa yang disebut sebagai titik balik dalam Pertempuran Atlantik.

Bila diibaratkan, Bismarck layaknya kembang api, perannya begitu gemilang namun hilang dalam sekejap, sepak terjangnya patut diacungi jempol dengan prestasi yang menakjubkan, namun ia harus tenggelam dalam misi pertamanya, sebuah nasib yang cukup naas untuk sebuah kapal perang yang dipersiapkan sebagai kapal pimpinan angkatan laut Jerman.






Daftar Pustaka

Brower, Jack. 2005. Anatomy of the Ship: Battleship Bismarck. Annapolis: Naval Institute Press.
Müllenheim-Rechberg, Burkard von. 2013. Battleship Bismarck: A Survivor Story. Annapolis: Naval Institute Press.
Ojong, P.K. 2008. Perang Eropa Jilid I. Jakarta: Kompas.
Oktorino, Nino. 2018. Bismarck: Monster Laut Hitler. Jakarta: Kompas.






Share: