Pendahuluann
Bismarck
merupakan kapal tempur terbesar yang pernah dibuat Jerman pada masa Perang
Dunia II. Nama kapal ini berasal dari nama Kanselir Jerman pada abad ke-19,
Otto von Bismarck. Bismarck menjadi terkenal setelah berhasil menenggelamkan
kapal perang utama Angkatan Laut Britania Raya, HMS Hood dalam Pertempuran
Selat Denmark pada tahun 1941. Bismarck dan saudara kembarnya Tirpitz merupakan
kapal utama Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine) di Perang Dunia II.
Kapal
perang Bismarck patut mendapat perhatian serius semua sejarawan, karena ia
adalah tokoh utama dari salah satu episode pertempuran paling dramatis dari
Perang Dunia II. Tidak seperti kapal saudaranya, Tirpitz, atau kapal perang
Jepang Yamato dan Musashi, yang semuanya tenggelam tanpa kesempatan untuk
menghadapi kapal perang musuh, Bismarck bertempur dengan gagah berani melawan
musuh yang jauh lebih unggul, dan akhirnya dikalahkan dalam salah satu
pertempuran paling menakjubkan yang pernah terjadi. Kapal itu berduel dengan
kapal penjelajah tempur Inggris Hood dan pendampingnya, kapal tempur Prince of
Wales. Dalam Enam menit Hood sebagai kapal kebanggaan Inggris tenggelam setelah
gudang senjatanya meledak, dan Prince of Wales terpaksa mengundurkan diri. Bukan
hanya penenggelaman Hood yang membuat Bismarck mendapat tempat dalam sejarah.
Tetapi besarnya sumber daya manusia dan material yang dilancarkan untuk memburu
dan menghancurkan monster laut ini.
Ratusan
buku, majalah, dan publikasi dari segala jenis telah ditulis tentang kapal
perang yang hebat ini dalam berbagai bahasa, dan selain Titanic, tidak ada
kapal lain yang banyak dibahas seperti Bismarck. Bahkan hingga hari ini, lebih
dari 78 tahun kemudian, kisah unik kapal perang ini terus menarik perhatian
ribuan orang di seluruh dunia dan menjadi objek bacaan yang menarik bagi
penikmat angkatan laut.
Latar Belakang Pembangunan
Perjanjian
Versailles tahun 1919, menyatakan dalam Pasal 181 bahwa pasukan angkatan laut
Jerman yang bertugas tidak boleh melebihi enam kapal tempur, enam kapal
penjelajah ringan, dua belas kapal perusak dan dua belas kapal torpedo. Selain
itu, pasal 190 membatasi berat kapal utama hingga 10.000 ton. Jerman berada di
bawah batasan angkatan lautnya sendiri sesuai dengan perjanjian Versailles, dan
baru pada tahun 1927 diskusi dimulai di dalam Angkatan Laut Jerman mengenai
pembangunan kapal utama untuk mengganti kapal lama yang telah usang.
Peristiwa
politik kemudian mempengaruhi masa depan pembangunan angkatan laut Jerman.
Pada 16 Maret 1935, Hitler menolak batasan persenjataan Perjanjian Versailles
dengan mengumumkan perluasan angkatan bersenjata Jerman, serta membentuk
Angkatan Udara baru (Luftwaffe) dan
meningkatkan Angkatan Laut, yang akan dinamai sebagai Kriegsmarine. Tindakan sepihak Hitler memicu serangkaian negosiasi
yang berakhir pada 18 Juni 1935, Menteri Luar Negeri Inggris Sir Samuel Hoare
dan Duta Besar Jerman Joachim von Ribbentrop menandatangani Perjanjian Angkatan
Laut Anglo-Jerman di London, secara resmi mencabut pembatasan Perjanjian
Versailles.
Akibatnya,
Jerman kemudian diizinkan untuk membangun armada laut hingga 35 persen dari
total armada Inggris, dan 45 persen dalam hal kapal selam. Ini berarti bahwa
Jerman dapat membangun 183.000 ton kapal tempur, dengan kata lain lima kapal
tempur 35.000 ton. Setelah Hitler menolak Perjanjian Versailles pada bulan
Maret, kemungkinan untuk mempersenjatai kapal dengan senjata 38 cm mulai
dipertimbangkan kembali secara serius, bahkan jika itu berarti meningkatkan
tonase kapal.
Lima
bulan setelah penandatanganan Perjanjian Angkatan Laut Anglo-Jerman, kapal tempur
"F" Ersatz Hannover (kemudian dinamai Bismarck) secara resmi dipesan
dan kontrak pembangunan dimulai pada 16 November 1935 dengan perusahaan pembuat
kapal Blohm & Voss yang berbasis di Hamburg. Kontrak pembangunan untuk
kapal sekelasnya Kapal Tempur "G" Ersatz Schleswig-Holstein (kemudian
dinamai Tirpitz) juga diajukan kemudian di galangan kapal Kriegsmarine Werft di
Wilhelmshaven. Bismarck resmi dibangun pada 1 juli 1936, selesai pada 14
februari 1939 dan resmi bertugas pada 24 agustus 1940.
Bismarck
dibangun dengan berat 41.700 ton dan 50.300 muatan penuh, dengan panjang
keseluruhan 251 m, lebar 36 m dan sarat kapal maksimum 9.9 m. Kapal tempur ini
adalah kapal tempur terbesar di Jerman. Bismarck ditenagai oleh tiga turbin uap
Blohm & Voss dan dua belas ketel uap minyak Wagner, menghasilkan total
148.116 tenaga kuda (110.450 kW) dan menghasilkan kecepatan maksimum 30,01 knot
(55,58 km / jam) pada uji kecepatan. Kapal ini memiliki jangkauan jelajah 8.870
mil laut (16.430 km) pada 19 knot ( 35 km / jam). Bismarck dilengkapi dengan
tiga set radar pencari FuMO 23 yang dipasang pada rangefinder depan dan belakang serta bagian atas.

Bismarck
dipersenjatai dengan delapan senjata SK C/34 kaliber 38 cm yang diatur dalam
empat turret meriam ganda: dua turret di depan (diberi nama
"Anton" dan "Bruno") dan dua di buritan (diberi nama
"Caesar" dan "Dora"). Persenjataan sekunder terdiri dari
dua belas senjata kaliber 15 cm L/55, enam belas kaliber 10,5 cm L/65, enam
belas kaliber 3,7 cm L/83, dan dua belas senjata anti-pesawat kaliber 2
cm.
Sabuk
pelindung utama kapal setebal 320 mm yang dilapisi oleh lapisan baja di bagian
atas dan utama yang masing-masing setebal 50 mm dan 100 hingga 120 mm. Meriam
38 cm dilindungi lapisan setebal 360 mm di bagian depan dan 220 mm di bagian
sisi.
Operasi Rheinubung
dan pertemuan dengan armada Inggris
Menyusul
keberhasilan yang dicapai oleh kapal-kapal jerman di Atlantik selama musim
dingin 1940-1941, Komando Tinggi Angkatan Laut Jerman memutuskan untuk
meluncurkan operasi yang jauh lebih ambisius. Dengan mengirim gugus tempur yang
kuat terdiri dari kapal perang Bismarck, Tirpitz Scharnorst, dan Gneisenau.
Sayangnya, Scharnhorst harus masuk ke dok kering untuk menjalani perbaikan
mesin dan tidak akan siap setidaknya sampai bulan Juni. Di Baltik, Bismarck
hampir menyelesaikan uji coba dan akan segera siap untuk pelayaran tempur
pertamanya. Namun, Tirpitz, yang baru saja ditugaskan pada 25 Februari, belum
menyelesaikan pelatihan, dan tidak mungkin siap pada musim semi.
Inggris
tahu tentang kehadiran Scharnhorst dan Gneisenau di Brest dan bahaya yang
mereka berikan, karena itu, mereka memutuskan untuk melumpuhkan kedua kapal
perang ini melalui serangan udara. Pada 6 April, pesawat dari Skuadron 22
Inggris mencetak serangan torpedo di sisi kanan Gneisenau. Gneisenau rusak dan
harus memasuki dok kering untuk perbaikan. Beberapa hari kemudian pada malam 10
hingga 11 April, kapal perang ini kembali dihantam. Kali ini oleh empat bom
yang dijatuhkan oleh RAF dan memaksa untuk memperpanjang pekerjaan perbaikan
selama berbulan-bulan. Sebagai akibat dari serangan ini, Bismarck dan Prinz
Eugen menjadi satu-satunya kapal perang berat yang tersedia untuk
berpartisipasi dalam serangan konvoi kapal dagang sekutu di musim semi itu.
 |
| Vice-Admiral Gunther Lutjens, pimpinan operasi rheinübung |
Ada
banyak alasan untuk membatalkan operasi sampai kekuatan yang lebih besar dapat
disusun. Menjelang musim gugur, Tirpitz akan selesai beroperasi penuh sementara
Scharnhorst dan Gneisenau di Brest akan siap kembali. Meskipun demikian, ide
untuk mengirim Bismarck dan Prinz Eugen ke Atlantik pada musim semi tetap
bertahan. Inggris berada dalam krisis pasokan, dan lima bulan tenang di laut hanya
akan memperkuat posisinya.
Pada
22 April, Admiral Lütjens menetapkan rincian operasi yang diberi nama kode Rheinübung (Latihan Rhine), tanggal
dimulainya Operasi Rheinübung
ditetapkan 18 Mei dan dimulai sesuai rencana. Kedua kapal berlayar secara
independen sampai mereka bergabung bersama di Pulau Rügen pada pukul 11.25 pada
19 Mei.
Pada
20 Mei pukul 13.00, kapal-kapal Jerman terlihat oleh kapal penjelajah Swedia
Gotland yang melaporkan ke Stockholm. Swedia telah menerima laporan ini dan
kemudian bocor ke Atase Angkatan Laut Inggris di Swedia, Kapten Henry W.
Denham. Kemudian pada hari itu, dari kedutaan Inggris di Stockholm, Denham
mengirim pesan ke Admiralty di London.
Pada awal 21 Mei, Angkatan Laut Inggris menerima laporan dari Denham tersebut.
Pukul
11.00 pada 21 Mei, British Coastal
Command mengirim dua pesawat Spitfire
dari Skotlandia untuk terbang di pesisir Norwegia dan mencari kapal-kapal
Jerman. Pada 13.15, salah satu pesawat tersebut, diterbangkan oleh Perwira
Michael F. Suckling, berhasil melihat dan memotret kapal-kapal Jerman di dekat
Bergen dari ketinggian 8.000 meter (26.200 kaki).
Setelah
menerima laporan, Panglima Armada Inggris, Laksamana Sir John Tovey memerintahkan penjelajah berat Suffolk dan Norfolk untuk berpatroli di Selat
Denmark. Tak lama sebelum tengah malam pada 21 Mei, battlecruiser Hood mengibarkan bendera Laksamana Lancelot Ernest
Holland bersama dengan kapal tempur
Prince of Wales meninggalkan Scapa Flow ke Hvalfjord di Islandia.
Di
atas kapal Bismarck, instrumen radar depan (FuMO 23) rusak. Karena hal ini,
Admiral Lütjens memerintahkan kapalnya untuk berganti posisi, dan Prinz Eugen
dengan perangkat radarnya (FuMO 27) berada di depan. Artileri Bismarck yang
kuat akan berfungsi untuk menjaga agar kapal penjelajah Inggris (yang sejak awal membuntuti mereka) tidak mendekat.
Pada
pagi hari tanggal 24 Mei di antara Islandia dan Greenland, Gugus Tempur Jerman
mempertahankan arah 220º dan kecepatan 28 knot, ketika sekitar 05.30, hydrophones Prinz Eugen menerima suara
baling-baling dari dua kapal di sisi kirinya. Pada titik ini, kapal perang
Inggris mendekati Gugus Tempur Jerman dengan arah 280° pada kecepatan 28 knot. Admiral Lütjens tidak punya pilihan lain selain
membuka pertempuran.
Kapal Prince of Wales menargetkan Bismarck yang mengekor
Prinz Eugen sekitar satu mil di belakangnya, sementara Hood menargetkan Prinz Eugen karena salah mengira bahwa ia adalah Bismarck. Tiba-tiba, pada 05.52 dari jarak
sekitar 12,5 mil (23.150 meter), Hood melepaskan tembakan, diikuti oleh Prince
of Wales setengah menit kemudian pada 05.53. Salvo pertama dari Prince of Wales
mendarat dekat Bismarck. salvo kedua, ketiga dan keempat jatuh lagi di dekat
Bismarck.
Pada
pukul 06.00, Hood dan Prince of Wales mengubah arah 20º lagi ke kiri untuk
membawa turret belakang mereka ke
dalam pertempuran, ketika salvo kelima Bismarck mengenai Hood dari jarak kurang
dari 9 mil (16.668 meter). Setidaknya satu peluru 38cm menembus sabuk besi Hood
yang mencapai gudang senjata dan meledak.
The Mighty Hood, kebanggaan Angkatan
Laut Kerajaan Inggris terbelah dua dan tenggelam dalam tiga menit. Bagian
buritan tenggelam pertama, ujung atas dan tengah bawah, diikuti oleh bagian
haluan. Itu semua terjadi begitu cepat sehingga tidak ada waktu untuk
meninggalkan kapal. Dari 1.418 awak, hanya tiga yang selamat. Tiga orang yang
selamat diselamatkan tiga setengah jam kemudian di laut oleh kapal perusak
Electra, dan kemudian mendarat di Reykjavik.
Prince
of Wales berada pada posisi yang tidak menguntungkan, dan pada 06.03
meluncurkan tabir asap dan mundur dari pertempuran setelah dihantam empat kali
oleh Bismarck dan tiga lainnya oleh Prinz Eugen. Pada 06.09, Jerman melepaskan
tembakan terakhir mereka dan pertempuran berakhir.
Selama
pertempuran ini, Bismarck terhantam di sisi kiri oleh tiga peluru 14 inci. Hantaman
ini menyebabkan banjirnya pembangkit listrik kiri No. 4. Ruang boiler No. 2
yang berdekatan juga terkena air. Peluru kedua mengenai haluan tepat di atas
garis air. Sekitar 1.000 ton air garam masuk, dan sebagai akibatnya, beberapa
ratus ton bahan bakar minyak ini terhambat di tangki bawah.
Sebagai
hasil dari serangan ini, kecepatan tertinggi Bismarck menurun menjadi 28 knot.
Kapal perang itu turun 3º di bagian haluan dan miring 9º ke kiri. Karena itu,
gerakan kapal menyebabkan baling-baling kanan muncul dari
permukaan air beberapa kali. Kerusakan itu tidak terlalu serius, Bismarck tetap
mempertahankan kemampuan bertarungnya, kecepatan yang baik, dan tidak ada korban
di antara para kru, hanya lima orang yang sedikit terluka. Namun, hilangnya
bahan bakar itu memengaruhi tindakan yang selanjutnya.
Inggris Melancarkan Perburuan Bismarck

Setelah
pertempuran di Selat Denmark, Lütjens memiliki dua opsi utama. Yang pertama
adalah kembali ke Norwegia dan yang kedua melanjutkan ke Atlantik Utara. Saat
ini kebanyakan orang setuju bahwa, jika memungkinkan, Lütjens seharusnya
menghancurkan atau setidaknya melumpuhkan Prince of Wales yang sudah rusak,
kemudian berbalik, dan menuju Trondheim, melalui Selat Denmark. Lütjens juga
bisa mengambil jalur yang lebih pendek ke Bergen, melalui jalur
Faeroes-Islandia, meskipun kemungkinan dicegat oleh Gugus Tempur Tovey (King
George V, Repulse, dan Victorious) yang berasal dari Scapa Flow. Sebaliknya,
Laksamana Jerman memilih untuk tidak mengejar Prince of Wales dan menuju
Atlantik. Pada 08.01, Admiral Lütjens mengirim serangkaian pesan yang
menginformasikan niatnya untuk membawa Bismarck ke Saint-Nazaire untuk
diperbaiki. Prinz Eugen, yang tidak rusak, akan tinggal di Atlantik untuk
menyerang konvoi musuh sendirian, Pagi-pagi sekali tanggal 24 Mei, Admiral
Lütjens telah memutuskan untuk melepaskan Prinz Eugen.
Lütjens telah memutuskan untuk membatalkan
Operasi Rheinübung setidaknya untuk sementara hingga Bismarck dapat diperbaiki
di pelabuhan. Pelabuhan Prancis lebih jauh dari Norwegia dan membutuhkan
pengeluaran bahan bakar yang lebih besar. Lütjens mengira Prancis adalah tempat
terbaik untuk melanjutkan pertempuran Atlantik sesegera mungkin mengikuti
keinginan Raeder Karena dia telah berhasil memasuki Brest dengan sukses bersama
Scharnhorst dan Gneisenau beberapa bulan sebelumnya.
Situasi
bahan bakar di atas kapal Bismarck menjadi serius, dan pada 20.56, Lütjens
memberi tahu bahwa karena kekurangan bahan bakar, ia harus melanjutkan langsung
ke Saint-Nazaire. pada saat itu Bismarck memiliki kurang dari 3.000 ton bahan
bakar minyak yang tersedia, kapal tempur tersebut terpaksa melambat untuk
mencapai Prancis.
Pada
15.09, Laksamana Tovey memerintahkan Laksamana Muda Alban Curteis di Galatea
dengan kapal induk Victorious dan empat kapal penjelajah ringan Galatea,
Aurora, Kenya dan Hermione untuk membuka serangan. Pada 22.10, sekitar 120 mil
dari Bismarck, Victorious meluncurkan semua pembom torpedo Skuadron ke-825 di
bawah komando Letnan-Komandan Eugene Esmonde. Lindemann dan juru mudi, Hans
Hansen, berhasil menghindari enam torpedo pertama ketika tiba-tiba kapal tempur itu terhantam Torpedo MK XII 18 inci di sisi kanan Bismarck dengan Kerusakannya
yang kurang signifikan.
Tak
lama setelah pukul 03.00, mengambil keuntungan dari kegelapan, Lütjens
memanfaatkan kesempatan untuk memutuskan kontak dengan pengejarnya. Bismarck
meningkatkan kecepatannya menjadi 27 knot dan bermanuver ke kanan. Akhirnya,
Bismarck berhasil memutuskan kontak dan mengatur arah 130º ke tenggara, ke
Saint-Nazaire.
Sehari
kemudian, dua kapal terbang lepas landas dari Lough Erne di Irlandia Utara
dalam misi pengintaian untuk mencari Bismarck. Sekitar pukul 10.10, Catalina dari Skuadron 209 yang dikomandoi oleh Perwira Dennis Briggs
melihat kapal perang Jerman. Setelah lebih dari 31 jam sejak kontak terputus,
Bismarck telah ditemukan kembali. Sayang bagi Inggris, kapal Laksamana Tovey
terlalu jauh dari lokasi Jerman. King George V berada 135 mil di utara, dan
Rodney berada 125 mil di timur laut. Mereka tidak akan bisa mengejar Bismarck
kecuali jika kecepatannya dapat dikurangi.
Hanya
Force H, di bawah komando Laksamana
Sir James F. Somerville yang berlayar dari Gibraltar memiliki kesempatan untuk
mencegat Bismarck. Harapan terbaik bagi Inggris adalah meluncurkan serangan
udara dari kapal induk Ark Royal. Ark Royal meluncurkan 10 Swordfish pada 08.35 untuk mencoba menemukan Bismarck, dan begitu
laporan pegintaian Catalina tiba, Swordfish mengubah arah untuk mencegat sesegera mungkin.
Regu
pengebom Swordfish, kali ini di bawah
komando Letnan-Komandan T. P. Coode, pada 20.47, Bismarck menerima setidaknya
dua serangan torpedo. Satu torpedo mengenai sisi kiri tengah kapal, dan yang
lain mengenai buritan di sisi. Serangan pertama tidak menyebabkan kerusakan
signifikan, tetapi yang kedua menghantam kemudi yang membuatnya macet pada
posisi 12º ke kiri.
Penenggelaman Bismarck
Setelah
serangan torpedo udara yang merusakkan kemudi, arah Bismarck menjadi tidak
menentu. Pukul 22.38, rombongan kapal perusak Polandia Piorun melihat Bismarck.
Kapal perang Jerman merespons segera setelahnya dengan tiga salvo tembakan.
Kapal perusak tersebut terus menyerang, tetapi Bismarck membela dirinya dengan
gigih dalam kegelapan. Sepanjang malam para perusak menyerang kapal tempur
Jerman tersebut, Serangan-serangan ini dilakukan di laut lepas dalam kondisi
hujan deras dan jarak pandang sangat rendah, Bismarck berkali-kali bertahan dari
setiap serangan dengan tembakan dari meriam utama dan sekundernya. Pada 07.00,
total 16 torpedo telah ditembakkan oleh kapal perusak armada ke-4.
Di
atas kapal Bismarck, suasana di anjungan begitu tegang, dan mereka tahu hanya
masalah waktu sebelum Inggris menyerang mereka dengan kapal-kapal besar. King
George V dan Rodney pada 08.43 akhirnya melihat Bismarck dari jarak 23.000
meter.
Rodney
melepaskan tembakan pukul 08.47, diikuti oleh King George V satu menit kemudian
dari jarak sekitar 20.000 meter. Bismarck membalas tembakan pada 08.49 dengan
meriam depan "Anton" dan "Bruno" melawan Rodney sedangkan
meriam "Cäsar" dan "Dora" tidak bisa digunakan dari
buritan. Sebaliknya, Rodney memiliki sembilan persenjataan di bagian depan dan
King George V menambahkan enam lagi. Dengan kata lain, tahap awal pertempuran
ini terdiri dari pertukaran tembakan antara empat senjata Jerman dan lima belas
milik Inggris. Bismarck benar-benar kalah senjata. Ditambah lagi, pada pukul 08.54, Norfolk bergabung dalam
pertempuran dengan delapan senjata 20,3 cm, dan pada 08.58 meriam sekunder
Rodney bergabung dalam pertempuran.

Pukul
09.02, Bismarck dihantam oleh beberapa peluru yang melumpuhkan rangefinder bagian atas. Pada 09.04,
Dorsetshire yang baru saja tiba, juga melepaskan tembakan. Dua kapal perang dan
dua kapal penjelajah berat menembaki Bismarck. Pada 09.08, rangefinder depan dan menara "Anton" dan
"Bruno" dilumpuhkan. Sehingga kontrol Bismarck bergeser ke pos
komando setelah. Dari sana, Perwira Artileri Keempat, Kapitänleutnant Müllenheim-Rechberg mengarahkan empat salvo
terhadap King George V. Tetapi pada sekitar 09.13, tepat ketika ia mendapatkan
jangkauan, posisinya juga dihantam peluru kaliber 14 inci. Pada 09.21, meriam
"Dora" dilumpuhkan setelah salah satu peluru meledak di bagian kanan.
Enam menit setelahnya, meriam "Anton" atau "Bruno" menembakkan
satu salvo terakhir diikuti oleh "Caesar" sepuluh menit kemudian.
Hanya beberapa senjata sekunder yang masih beraksi, tetapi juga segera
dihancurkan oleh kekuatan tembakan Inggris. Pada saat ini, Kapten Lindemann,
memberi perintah untuk menenggelamkan dan meninggalkan kapal.

Begitu
Bismarck kehilangan kemampuan tempurnya, Rodney semakin mendekat, dan dari
jarak antara 2.500 dan 4.000 meter terus menembak dengan sembilan senjata 16
inci ke kedua sisi kapal tempur Jerman. Sekitar pukul 09.40, turret "Bruno" meledak dan terbakar. Pada 09.56, Rodney
meluncurkan dua torpedo dari jarak 2.700 meter dengan satu kemungkinan
menghantam sisi kiri. Tembakan demi tembakan menghantam Bismarck yang masih
bertahan. Segera setelah pukul 10.00, Norfolk meluncurkan empat torpedo dari
jarak sekitar 3.600 meter dengan satu kemungkinan menabrak sisi kanan. Di atas
Bismarck hanya tersisa reruntuhan, dan para kru mulai melompat ke laut. Semua
senjata dilumpuhkan, Rodney berhenti menembak pada pukul 10.16, dan Tovey yang
mulai kehabisan bahan bakar, terpaksa meninggalkan medan perang.
Pada
10.20, Dorsetshire mendekat dan menembakkan dua torpedo MK VII 21 inci dari
jarak 3.000 meter di sisi kanan Bismarck. Keduanya menghantam, tetapi tidak ada
efek yang cukup signifikan. Kemudian, penjelajah berat Inggris bergerak
kembali, dan pada 10.36 menembakkan torpedo lain dari 2.200 meter ke sisi kiri
Bismarck. Pada saat itu kapal tempur Jerman tersebut miring ke kiri, dengan air
telah mencapai dek atas. turret
meriam kiri sekunder hampir tenggelam. Akhirnya, Bismarck terbalik dan
tenggelam pada pukul 10.39.
Penemuan Bangkai Kapal dan Perkiraan Tenggelam
Bangkai
Bismarck ditemukan pada 8 Juni 1989 oleh Dr. Robert Ballard, ahli kelautan yang
pernah menemukan RMS Titanic. Bismarck ditemukan pada kedalaman sekitar 4.791
m, sekitar 650 km barat Brest.
Survei
Ballard menyimpulkan bahwa tidak ada lapisan baja kapal yang tertembus di bawah
permukaan air. Delapan lubang ditemukan di lambung kapal, satu di sisi kanan dan
tujuh di sisi kiri, semuanya di atas permukaan air. Salah satu lubang terdapat
di geladak, di sisi kanan haluan. Enam lubang berada di tengah kapal, tiga
serpihan peluru menembus lapisan baja atas, dan satu lubang di lapisan
pelindung utama. Kapal selamnya tidak mencatat tanda-tanda penembus yang
melalui pelindung utama atau samping, dan kemungkinan bahwa peluru hanya
menembus armor dek saja. Penyok besar yang terlihat menunjukkan bahwa banyak
dari peluru 14 inci yang ditembakkan oleh King George V memantul dari pelindung
baja Jerman. Sejarawan angkatan laut William Garzke dan Robert Dulin mencatat
bahwa kapal perang Inggris menembaki dari jarak yang sangat dekat, lintasan
yang datar dari peluru membuatnya sulit untuk mengenai target yang relatif
sempit yang dilapisi oleh pelindung di atas garis air, karena peluru yang
ditembakkan dari jarak pendek akan memantul ke atas atau meledak ketika terkena
air.
Ballard
mencatat bahwa dia tidak menemukan bukti dari ledakan internal yang terjadi
ketika lambung kapal banjir. Air di sekitarnya, yang memiliki tekanan lebih
besar daripada udara di lambung kapal, akan menghancurkan kapal. Sebaliknya,
Ballard menunjukkan bahwa lambung berada dalam kondisi yang relatif baik; ia
hanya menyatakan bahwa "Bismarck tidak meledak." Ini menunjukkan
bahwa bagian dalam Bismarck kebanjiran ketika kapal tenggelam, mendukung teori scuttling. Ballard menambahkan "we found a hull that appears whole and
relatively undamaged by the descent and impact". Mereka menyimpulkan
bahwa penyebab langsungnya tenggelam adalah penenggelaman ruang mesin oleh
krunya sendiri seperti yang diklaim oleh korban selamat dari kapal perang
tersebut.
Terlepas
dari sudut pandang mereka yang terkadang berbeda, para ahli ini umumnya setuju
bahwa Bismarck pada akhirnya akan kandas jika Jerman tidak menenggelamkannya
terlebih dulu. Ballard memperkirakan bahwa Bismarck masih bisa mengapung
setidaknya satu hari ketika kapal-kapal Inggris berhenti menembak dan dapat
ditangkap oleh Angkatan Laut Kerajaan, suatu teori yang didukung oleh sejarawan
Ludovic Kennedy (yang bertugas pada kapal perusak HMS Tartar pada saat itu).
Penutup
Dilihat dari sudut pandang operasi, Operasi Rheinübung hampir gagal dari awal, sejak 20 Mei,
Gugus Tempur Jerman sudah terdeteksi di Kattegat. Inggris telah meningkatkan
kewaspadaan mereka, dan berhasil memberi sinyal gerakan Bismarck sejak
keberangkatan pertamanya di perairan Norwegia. Jerman, di sisi lain, memiliki
intelijen militer yang tidak memadai dan kurangnya kerja sama yang efektif
dengan pasukan U-boat.
Para
pakar dan sejarawan berpendapat bahwa terjadi berbagai kesalahan fatal sejak
Bismarck berangkat dari Gdynia. Seharusnya Bismarck tidak berlayar melalui
selat Kattegat dan Skaggerrak karena di jalur itu penuh dengan spionase Inggris,
dan Akan lebih aman jika melalui Kanal Kaisar Wilhelm. Hal lainnya adalah
Bismarck semestinya menambah bahan bakarnya sehingga bisa melarikan diri dari
gempuran lawan.
Terlepas
dari semua ini, Bismarck hampir lolos, dan dia pasti dapat melakukannya
seandainya bukan karena hantaman torpedo fatal yang melumpuhkan perangkat
kemudi. Seandainya Bismarck mencapai Prancis, kapal dan krunya pasti akan
disambut bak pahlawan besar. Tenggelamnya Hood diikuti oleh pelarian
yang sukses akan memberi Jerman capaian yang mengagumkan. Namun, tujuan utama mereka
(menenggelamkan pengiriman kapal dagang musuh) tidak akan tercapai. Oleh karena
itu, meskipun merusak prestise Angkatan Laut Kerajaan Inggris, serangan Bismarck masih agak gagal. Selain itu, karena kerusakan yang diterima
di Selat Denmark dan serangan torpedo setelahnya, Bismarck harus masuk ke dok
kering untuk perbaikan. Ini dapat mencegahnya kembali ke Atlantik karena kapal
tempur tersebut tidak dapat digunakan lagi untuk setidaknya beberapa bulan ke
depan.
Bagi
Angkatan Laut Jerman, tenggelamnya kapal tempur Bismarck mungkin merupakan
pukulan terberat perang. Meski demikian, Kriegsmarine masih memiliki kekuatan yang cukup besar dan jauh dari
kekalahan. Namun, hilangnya Bismarck menandai titik balik dalam perang terhadap
pengiriman kapal dagang Sekutu. Bukan hanya karena kehilangan kapal perang itu
sendiri, tetapi karena konsekuensi yang ditimbulkannya. Tak lama setelah
Operasi Rheinübung, Jerman
mengabaikan penggunaan kapal perang permukaan untuk tujuan penyerbuan di
Atlantik. Sejak saat itu, hanya beberapa kapal penjelajah tambahan yang masih
tetap terlibat dalam melawan pengiriman kapal dagang sekutu, bahkan
penggunaannya terbukti sulit pada akhir 1941, dan oleh karena itu Jerman
memusatkan upaya mereka dalam perang U-boat. U-boat sendiri masih akan membawa
kesuksesan penting, tetapi mereka juga akhirnya dikalahkan pada Mei 1943, dalam apa yang disebut sebagai titik balik dalam
Pertempuran Atlantik.
Bila
diibaratkan, Bismarck layaknya kembang api, perannya begitu gemilang namun
hilang dalam sekejap, sepak terjangnya patut diacungi jempol dengan prestasi
yang menakjubkan, namun ia harus tenggelam dalam misi pertamanya, sebuah nasib
yang cukup naas untuk sebuah kapal perang yang dipersiapkan sebagai kapal
pimpinan angkatan laut Jerman.
Daftar Pustaka
Brower, Jack. 2005. Anatomy of the Ship: Battleship Bismarck.
Annapolis: Naval Institute Press.
Müllenheim-Rechberg,
Burkard von. 2013. Battleship Bismarck: A
Survivor Story. Annapolis: Naval Institute Press.
Ojong, P.K. 2008. Perang Eropa Jilid I. Jakarta: Kompas.
Oktorino, Nino. 2018.
Bismarck: Monster Laut Hitler.
Jakarta: Kompas.