Minggu, 22 Desember 2019

Kejayaan Bismarck yang Hanya Sekejap Mata




Pendahuluann

Bismarck merupakan kapal tempur terbesar yang pernah dibuat Jerman pada masa Perang Dunia II. Nama kapal ini berasal dari nama Kanselir Jerman pada abad ke-19, Otto von Bismarck. Bismarck menjadi terkenal setelah berhasil menenggelamkan kapal perang utama Angkatan Laut Britania Raya, HMS Hood dalam Pertempuran Selat Denmark pada tahun 1941. Bismarck dan saudara kembarnya Tirpitz merupakan kapal utama Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine) di Perang Dunia II.

Kapal perang Bismarck patut mendapat perhatian serius semua sejarawan, karena ia adalah tokoh utama dari salah satu episode pertempuran paling dramatis dari Perang Dunia II. Tidak seperti kapal saudaranya, Tirpitz, atau kapal perang Jepang Yamato dan Musashi, yang semuanya tenggelam tanpa kesempatan untuk menghadapi kapal perang musuh, Bismarck bertempur dengan gagah berani melawan musuh yang jauh lebih unggul, dan akhirnya dikalahkan dalam salah satu pertempuran paling menakjubkan yang pernah terjadi. Kapal itu berduel dengan kapal penjelajah tempur Inggris Hood dan pendampingnya, kapal tempur Prince of Wales. Dalam Enam menit Hood sebagai kapal kebanggaan Inggris tenggelam setelah gudang senjatanya meledak, dan Prince of Wales terpaksa mengundurkan diri. Bukan hanya penenggelaman Hood yang membuat Bismarck mendapat tempat dalam sejarah. Tetapi besarnya sumber daya manusia dan material yang dilancarkan untuk memburu dan menghancurkan monster laut ini.

Ratusan buku, majalah, dan publikasi dari segala jenis telah ditulis tentang kapal perang yang hebat ini dalam berbagai bahasa, dan selain Titanic, tidak ada kapal lain yang banyak dibahas seperti Bismarck. Bahkan hingga hari ini, lebih dari 78 tahun kemudian, kisah unik kapal perang ini terus menarik perhatian ribuan orang di seluruh dunia dan menjadi objek bacaan yang menarik bagi penikmat angkatan laut.

Latar Belakang Pembangunan

Perjanjian Versailles tahun 1919, menyatakan dalam Pasal 181 bahwa pasukan angkatan laut Jerman yang bertugas tidak boleh melebihi enam kapal tempur, enam kapal penjelajah ringan, dua belas kapal perusak dan dua belas kapal torpedo. Selain itu, pasal 190 membatasi berat kapal utama hingga 10.000 ton. Jerman berada di bawah batasan angkatan lautnya sendiri sesuai dengan perjanjian Versailles, dan baru pada tahun 1927 diskusi dimulai di dalam Angkatan Laut Jerman mengenai pembangunan kapal utama untuk mengganti kapal lama yang telah usang.

Peristiwa politik kemudian mempengaruhi masa depan pembangunan angkatan laut Jerman. Pada 16 Maret 1935, Hitler menolak batasan persenjataan Perjanjian Versailles dengan mengumumkan perluasan angkatan bersenjata Jerman, serta membentuk Angkatan Udara baru (Luftwaffe) dan meningkatkan Angkatan Laut, yang akan dinamai sebagai Kriegsmarine. Tindakan sepihak Hitler memicu serangkaian negosiasi yang berakhir pada 18 Juni 1935, Menteri Luar Negeri Inggris Sir Samuel Hoare dan Duta Besar Jerman Joachim von Ribbentrop menandatangani Perjanjian Angkatan Laut Anglo-Jerman di London, secara resmi mencabut pembatasan Perjanjian Versailles.

Akibatnya, Jerman kemudian diizinkan untuk membangun armada laut hingga 35 persen dari total armada Inggris, dan 45 persen dalam hal kapal selam. Ini berarti bahwa Jerman dapat membangun 183.000 ton kapal tempur, dengan kata lain lima kapal tempur 35.000 ton. Setelah Hitler menolak Perjanjian Versailles pada bulan Maret, kemungkinan untuk mempersenjatai kapal dengan senjata 38 cm mulai dipertimbangkan kembali secara serius, bahkan jika itu berarti meningkatkan tonase kapal.

Lima bulan setelah penandatanganan Perjanjian Angkatan Laut Anglo-Jerman, kapal tempur "F" Ersatz Hannover (kemudian dinamai Bismarck) secara resmi dipesan dan kontrak pembangunan dimulai pada 16 November 1935 dengan perusahaan pembuat kapal Blohm & Voss yang berbasis di Hamburg. Kontrak pembangunan untuk kapal sekelasnya Kapal Tempur "G" Ersatz Schleswig-Holstein (kemudian dinamai Tirpitz) juga diajukan kemudian di galangan kapal Kriegsmarine Werft di Wilhelmshaven. Bismarck resmi dibangun pada 1 juli 1936, selesai pada 14 februari 1939 dan resmi bertugas pada 24 agustus 1940.

Bismarck dibangun dengan berat 41.700 ton dan 50.300 muatan penuh, dengan panjang keseluruhan 251 m, lebar 36 m dan sarat kapal maksimum 9.9 m. Kapal tempur ini adalah kapal tempur terbesar di Jerman. Bismarck ditenagai oleh tiga turbin uap Blohm & Voss dan dua belas ketel uap minyak Wagner, menghasilkan total 148.116 tenaga kuda (110.450 kW) dan menghasilkan kecepatan maksimum 30,01 knot (55,58 km / jam) pada uji kecepatan. Kapal ini memiliki jangkauan jelajah 8.870 mil laut (16.430 km) pada 19 knot ( 35 km / jam). Bismarck dilengkapi dengan tiga set radar pencari FuMO 23 yang dipasang pada rangefinder depan dan belakang serta bagian atas.


Bismarck dipersenjatai dengan delapan senjata SK C/34 kaliber 38 cm yang diatur dalam empat turret meriam ganda: dua turret di depan (diberi nama "Anton" dan "Bruno") dan dua di buritan (diberi nama "Caesar" dan "Dora"). Persenjataan sekunder terdiri dari dua belas senjata kaliber 15 cm L/55, enam belas kaliber 10,5 cm L/65, enam belas kaliber 3,7 cm L/83, dan dua belas senjata anti-pesawat kaliber 2 cm. 

Sabuk pelindung utama kapal setebal 320 mm yang dilapisi oleh lapisan baja di bagian atas dan utama yang masing-masing setebal 50 mm dan 100 hingga 120 mm. Meriam 38 cm dilindungi lapisan setebal 360 mm di bagian depan dan 220 mm di bagian sisi.

Operasi Rheinubung dan pertemuan dengan armada Inggris

Menyusul keberhasilan yang dicapai oleh kapal-kapal jerman di Atlantik selama musim dingin 1940-1941, Komando Tinggi Angkatan Laut Jerman memutuskan untuk meluncurkan operasi yang jauh lebih ambisius. Dengan mengirim gugus tempur yang kuat terdiri dari kapal perang Bismarck, Tirpitz Scharnorst, dan Gneisenau. Sayangnya, Scharnhorst harus masuk ke dok kering untuk menjalani perbaikan mesin dan tidak akan siap setidaknya sampai bulan Juni. Di Baltik, Bismarck hampir menyelesaikan uji coba dan akan segera siap untuk pelayaran tempur pertamanya. Namun, Tirpitz, yang baru saja ditugaskan pada 25 Februari, belum menyelesaikan pelatihan, dan tidak mungkin siap pada musim semi.

Inggris tahu tentang kehadiran Scharnhorst dan Gneisenau di Brest dan bahaya yang mereka berikan, karena itu, mereka memutuskan untuk melumpuhkan kedua kapal perang ini melalui serangan udara. Pada 6 April, pesawat dari Skuadron 22 Inggris mencetak serangan torpedo di sisi kanan Gneisenau. Gneisenau rusak dan harus memasuki dok kering untuk perbaikan. Beberapa hari kemudian pada malam 10 hingga 11 April, kapal perang ini kembali dihantam. Kali ini oleh empat bom yang dijatuhkan oleh RAF dan memaksa untuk memperpanjang pekerjaan perbaikan selama berbulan-bulan. Sebagai akibat dari serangan ini, Bismarck dan Prinz Eugen menjadi satu-satunya kapal perang berat yang tersedia untuk berpartisipasi dalam serangan konvoi kapal dagang sekutu di musim semi itu.

Vice-Admiral Gunther Lutjens, pimpinan operasi rheinübung
Ada banyak alasan untuk membatalkan operasi sampai kekuatan yang lebih besar dapat disusun. Menjelang musim gugur, Tirpitz akan selesai beroperasi penuh sementara Scharnhorst dan Gneisenau di Brest akan siap kembali. Meskipun demikian, ide untuk mengirim Bismarck dan Prinz Eugen ke Atlantik pada musim semi tetap bertahan. Inggris berada dalam krisis pasokan, dan lima bulan tenang di laut hanya akan memperkuat posisinya.

Pada 22 April, Admiral Lütjens menetapkan rincian operasi yang diberi nama kode Rheinübung (Latihan Rhine), tanggal dimulainya Operasi Rheinübung ditetapkan 18 Mei dan dimulai sesuai rencana. Kedua kapal berlayar secara independen sampai mereka bergabung bersama di Pulau Rügen pada pukul 11.25 pada 19 Mei.

Pada 20 Mei pukul 13.00, kapal-kapal Jerman terlihat oleh kapal penjelajah Swedia Gotland yang melaporkan ke Stockholm. Swedia telah menerima laporan ini dan kemudian bocor ke Atase Angkatan Laut Inggris di Swedia, Kapten Henry W. Denham. Kemudian pada hari itu, dari kedutaan Inggris di Stockholm, Denham mengirim pesan ke Admiralty di London. Pada awal 21 Mei, Angkatan Laut Inggris menerima laporan dari Denham tersebut.

 Pukul 11.00 pada 21 Mei, British Coastal Command mengirim dua pesawat Spitfire dari Skotlandia untuk terbang di pesisir Norwegia dan mencari kapal-kapal Jerman. Pada 13.15, salah satu pesawat tersebut, diterbangkan oleh Perwira Michael F. Suckling, berhasil melihat dan memotret kapal-kapal Jerman di dekat Bergen dari ketinggian 8.000 meter (26.200 kaki).

Setelah menerima laporan, Panglima Armada Inggris, Laksamana Sir John Tovey memerintahkan penjelajah berat Suffolk dan Norfolk untuk berpatroli di Selat Denmark. Tak lama sebelum tengah malam pada 21 Mei, battlecruiser Hood mengibarkan bendera Laksamana Lancelot Ernest Holland bersama dengan  kapal tempur Prince of Wales meninggalkan Scapa Flow ke Hvalfjord di Islandia.

Di atas kapal Bismarck, instrumen radar depan (FuMO 23) rusak. Karena hal ini, Admiral Lütjens memerintahkan kapalnya untuk berganti posisi, dan Prinz Eugen dengan perangkat radarnya (FuMO 27) berada di depan. Artileri Bismarck yang kuat akan berfungsi untuk menjaga agar kapal penjelajah Inggris (yang sejak awal membuntuti mereka) tidak mendekat.

Pada pagi hari tanggal 24 Mei di antara Islandia dan Greenland, Gugus Tempur Jerman mempertahankan arah 220º dan kecepatan 28 knot, ketika sekitar 05.30, hydrophones Prinz Eugen menerima suara baling-baling dari dua kapal di sisi kirinya. Pada titik ini, kapal perang Inggris mendekati Gugus Tempur Jerman dengan arah 280° pada kecepatan 28 knot. Admiral Lütjens tidak punya pilihan lain selain membuka pertempuran.

Kapal Prince of Wales menargetkan Bismarck yang mengekor Prinz Eugen sekitar satu mil di belakangnya, sementara Hood menargetkan Prinz Eugen karena salah mengira bahwa ia adalah Bismarck. Tiba-tiba, pada 05.52 dari jarak sekitar 12,5 mil (23.150 meter), Hood melepaskan tembakan, diikuti oleh Prince of Wales setengah menit kemudian pada 05.53. Salvo pertama dari Prince of Wales mendarat dekat Bismarck. salvo kedua, ketiga dan keempat jatuh lagi di dekat Bismarck.

Pada pukul 06.00, Hood dan Prince of Wales mengubah arah 20º lagi ke kiri untuk membawa turret belakang mereka ke dalam pertempuran, ketika salvo kelima Bismarck mengenai Hood dari jarak kurang dari 9 mil (16.668 meter). Setidaknya satu peluru 38cm menembus sabuk besi Hood yang mencapai gudang senjata dan meledak.

The Mighty Hood, kebanggaan Angkatan Laut Kerajaan Inggris terbelah dua dan tenggelam dalam tiga menit. Bagian buritan tenggelam pertama, ujung atas dan tengah bawah, diikuti oleh bagian haluan. Itu semua terjadi begitu cepat sehingga tidak ada waktu untuk meninggalkan kapal. Dari 1.418 awak, hanya tiga yang selamat. Tiga orang yang selamat diselamatkan tiga setengah jam kemudian di laut oleh kapal perusak Electra, dan kemudian mendarat di Reykjavik.

Prince of Wales berada pada posisi yang tidak menguntungkan, dan pada 06.03 meluncurkan tabir asap dan mundur dari pertempuran setelah dihantam empat kali oleh Bismarck dan tiga lainnya oleh Prinz Eugen. Pada 06.09, Jerman melepaskan tembakan terakhir mereka dan pertempuran berakhir.

Selama pertempuran ini, Bismarck terhantam di sisi kiri oleh tiga peluru 14 inci. Hantaman ini menyebabkan banjirnya pembangkit listrik kiri No. 4. Ruang boiler No. 2 yang berdekatan juga terkena air. Peluru kedua mengenai haluan tepat di atas garis air. Sekitar 1.000 ton air garam masuk, dan sebagai akibatnya, beberapa ratus ton bahan bakar minyak ini terhambat di tangki bawah.

Sebagai hasil dari serangan ini, kecepatan tertinggi Bismarck menurun menjadi 28 knot. Kapal perang itu turun 3º di bagian haluan dan miring 9º ke kiri. Karena itu, gerakan kapal menyebabkan baling-baling kanan muncul dari permukaan air beberapa kali. Kerusakan itu tidak terlalu serius, Bismarck tetap mempertahankan kemampuan bertarungnya, kecepatan yang baik, dan tidak ada korban di antara para kru, hanya lima orang yang sedikit terluka. Namun, hilangnya bahan bakar itu memengaruhi tindakan yang selanjutnya.

Inggris Melancarkan Perburuan Bismarck

Setelah pertempuran di Selat Denmark, Lütjens memiliki dua opsi utama. Yang pertama adalah kembali ke Norwegia dan yang kedua melanjutkan ke Atlantik Utara. Saat ini kebanyakan orang setuju bahwa, jika memungkinkan, Lütjens seharusnya menghancurkan atau setidaknya melumpuhkan Prince of Wales yang sudah rusak, kemudian berbalik, dan menuju Trondheim, melalui Selat Denmark. Lütjens juga bisa mengambil jalur yang lebih pendek ke Bergen, melalui jalur Faeroes-Islandia, meskipun kemungkinan dicegat oleh Gugus Tempur Tovey (King George V, Repulse, dan Victorious) yang berasal dari Scapa Flow. Sebaliknya, Laksamana Jerman memilih untuk tidak mengejar Prince of Wales dan menuju Atlantik. Pada 08.01, Admiral Lütjens mengirim serangkaian pesan yang menginformasikan niatnya untuk membawa Bismarck ke Saint-Nazaire untuk diperbaiki. Prinz Eugen, yang tidak rusak, akan tinggal di Atlantik untuk menyerang konvoi musuh sendirian, Pagi-pagi sekali tanggal 24 Mei, Admiral Lütjens telah memutuskan untuk melepaskan Prinz Eugen.

 Lütjens telah memutuskan untuk membatalkan Operasi Rheinübung setidaknya untuk sementara hingga Bismarck dapat diperbaiki di pelabuhan. Pelabuhan Prancis lebih jauh dari Norwegia dan membutuhkan pengeluaran bahan bakar yang lebih besar. Lütjens mengira Prancis adalah tempat terbaik untuk melanjutkan pertempuran Atlantik sesegera mungkin mengikuti keinginan Raeder Karena dia telah berhasil memasuki Brest dengan sukses bersama Scharnhorst dan Gneisenau beberapa bulan sebelumnya.

Situasi bahan bakar di atas kapal Bismarck menjadi serius, dan pada 20.56, Lütjens memberi tahu bahwa karena kekurangan bahan bakar, ia harus melanjutkan langsung ke Saint-Nazaire. pada saat itu Bismarck memiliki kurang dari 3.000 ton bahan bakar minyak yang tersedia, kapal tempur tersebut terpaksa melambat untuk mencapai Prancis.

Pada 15.09, Laksamana Tovey memerintahkan Laksamana Muda Alban Curteis di Galatea dengan kapal induk Victorious dan empat kapal penjelajah ringan Galatea, Aurora, Kenya dan Hermione untuk membuka serangan. Pada 22.10, sekitar 120 mil dari Bismarck, Victorious meluncurkan semua pembom torpedo Skuadron ke-825 di bawah komando Letnan-Komandan Eugene Esmonde. Lindemann dan juru mudi, Hans Hansen, berhasil menghindari enam torpedo pertama ketika tiba-tiba kapal tempur itu terhantam Torpedo MK XII 18 inci di sisi kanan Bismarck dengan Kerusakannya yang kurang signifikan.

Tak lama setelah pukul 03.00, mengambil keuntungan dari kegelapan, Lütjens memanfaatkan kesempatan untuk memutuskan kontak dengan pengejarnya. Bismarck meningkatkan kecepatannya menjadi 27 knot dan bermanuver ke kanan. Akhirnya, Bismarck berhasil memutuskan kontak dan mengatur arah 130º ke tenggara, ke Saint-Nazaire.

Sehari kemudian, dua kapal terbang lepas landas dari Lough Erne di Irlandia Utara dalam misi pengintaian untuk mencari Bismarck. Sekitar pukul 10.10, Catalina dari Skuadron 209  yang dikomandoi oleh Perwira Dennis Briggs melihat kapal perang Jerman. Setelah lebih dari 31 jam sejak kontak terputus, Bismarck telah ditemukan kembali. Sayang bagi Inggris, kapal Laksamana Tovey terlalu jauh dari lokasi Jerman. King George V berada 135 mil di utara, dan Rodney berada 125 mil di timur laut. Mereka tidak akan bisa mengejar Bismarck kecuali jika kecepatannya dapat dikurangi.

Hanya Force H, di bawah komando Laksamana Sir James F. Somerville yang berlayar dari Gibraltar memiliki kesempatan untuk mencegat Bismarck. Harapan terbaik bagi Inggris adalah meluncurkan serangan udara dari kapal induk Ark Royal. Ark Royal meluncurkan 10 Swordfish pada 08.35 untuk mencoba menemukan Bismarck, dan begitu laporan pegintaian Catalina tiba, Swordfish mengubah arah untuk mencegat sesegera mungkin.

Regu pengebom Swordfish, kali ini di bawah komando Letnan-Komandan T. P. Coode, pada 20.47, Bismarck menerima setidaknya dua serangan torpedo. Satu torpedo mengenai sisi kiri tengah kapal, dan yang lain mengenai buritan di sisi. Serangan pertama tidak menyebabkan kerusakan signifikan, tetapi yang kedua menghantam kemudi yang membuatnya macet pada posisi 12º ke kiri.

Penenggelaman Bismarck

Setelah serangan torpedo udara yang merusakkan kemudi, arah Bismarck menjadi tidak menentu. Pukul 22.38, rombongan kapal perusak Polandia Piorun melihat Bismarck. Kapal perang Jerman merespons segera setelahnya dengan tiga salvo tembakan. Kapal perusak tersebut terus menyerang, tetapi Bismarck membela dirinya dengan gigih dalam kegelapan. Sepanjang malam para perusak menyerang kapal tempur Jerman tersebut, Serangan-serangan ini dilakukan di laut lepas dalam kondisi hujan deras dan jarak pandang sangat rendah, Bismarck berkali-kali bertahan dari setiap serangan dengan tembakan dari meriam utama dan sekundernya. Pada 07.00, total 16 torpedo telah ditembakkan oleh kapal perusak armada ke-4.

Di atas kapal Bismarck, suasana di anjungan begitu tegang, dan mereka tahu hanya masalah waktu sebelum Inggris menyerang mereka dengan kapal-kapal besar. King George V dan Rodney pada 08.43 akhirnya melihat Bismarck dari jarak 23.000 meter.

Rodney melepaskan tembakan pukul 08.47, diikuti oleh King George V satu menit kemudian dari jarak sekitar 20.000 meter. Bismarck membalas tembakan pada 08.49 dengan meriam depan "Anton" dan "Bruno" melawan Rodney sedangkan meriam "Cäsar" dan "Dora" tidak bisa digunakan dari buritan. Sebaliknya, Rodney memiliki sembilan persenjataan di bagian depan dan King George V menambahkan enam lagi. Dengan kata lain, tahap awal pertempuran ini terdiri dari pertukaran tembakan antara empat senjata Jerman dan lima belas milik Inggris. Bismarck benar-benar kalah senjata. Ditambah lagi, pada  pukul 08.54, Norfolk bergabung dalam pertempuran dengan delapan senjata 20,3 cm, dan pada 08.58 meriam sekunder Rodney bergabung dalam pertempuran.

Pukul 09.02, Bismarck dihantam oleh beberapa peluru yang melumpuhkan rangefinder bagian atas. Pada 09.04, Dorsetshire yang baru saja tiba, juga melepaskan tembakan. Dua kapal perang dan dua kapal penjelajah berat menembaki Bismarck. Pada 09.08, rangefinder depan dan menara "Anton" dan "Bruno" dilumpuhkan. Sehingga kontrol Bismarck bergeser ke pos komando setelah. Dari sana, Perwira Artileri Keempat, Kapitänleutnant Müllenheim-Rechberg mengarahkan empat salvo terhadap King George V. Tetapi pada sekitar 09.13, tepat ketika ia mendapatkan jangkauan, posisinya juga dihantam peluru kaliber 14 inci. Pada 09.21, meriam "Dora" dilumpuhkan setelah salah satu peluru meledak di bagian kanan. Enam menit setelahnya, meriam "Anton" atau "Bruno" menembakkan satu salvo terakhir diikuti oleh "Caesar" sepuluh menit kemudian. Hanya beberapa senjata sekunder yang masih beraksi, tetapi juga segera dihancurkan oleh kekuatan tembakan Inggris. Pada saat ini, Kapten Lindemann, memberi perintah untuk menenggelamkan dan meninggalkan kapal.


Begitu Bismarck kehilangan kemampuan tempurnya, Rodney semakin mendekat, dan dari jarak antara 2.500 dan 4.000 meter terus menembak dengan sembilan senjata 16 inci ke kedua sisi kapal tempur Jerman. Sekitar pukul 09.40, turret "Bruno" meledak dan terbakar. Pada 09.56, Rodney meluncurkan dua torpedo dari jarak 2.700 meter dengan satu kemungkinan menghantam sisi kiri. Tembakan demi tembakan menghantam Bismarck yang masih bertahan. Segera setelah pukul 10.00, Norfolk meluncurkan empat torpedo dari jarak sekitar 3.600 meter dengan satu kemungkinan menabrak sisi kanan. Di atas Bismarck hanya tersisa reruntuhan, dan para kru mulai melompat ke laut. Semua senjata dilumpuhkan, Rodney berhenti menembak pada pukul 10.16, dan Tovey yang mulai kehabisan bahan bakar, terpaksa meninggalkan medan perang.

Pada 10.20, Dorsetshire mendekat dan menembakkan dua torpedo MK VII 21 inci dari jarak 3.000 meter di sisi kanan Bismarck. Keduanya menghantam, tetapi tidak ada efek yang cukup signifikan. Kemudian, penjelajah berat Inggris bergerak kembali, dan pada 10.36 menembakkan torpedo lain dari 2.200 meter ke sisi kiri Bismarck. Pada saat itu kapal tempur Jerman tersebut miring ke kiri, dengan air telah mencapai dek atas. turret meriam kiri sekunder hampir tenggelam. Akhirnya, Bismarck terbalik dan tenggelam pada pukul 10.39.

Penemuan Bangkai Kapal dan Perkiraan Tenggelam

Bangkai Bismarck ditemukan pada 8 Juni 1989 oleh Dr. Robert Ballard, ahli kelautan yang pernah menemukan RMS Titanic. Bismarck ditemukan pada kedalaman sekitar 4.791 m, sekitar 650 km barat Brest.

Survei Ballard menyimpulkan bahwa tidak ada lapisan baja kapal yang tertembus di bawah permukaan air. Delapan lubang ditemukan di lambung kapal, satu di sisi kanan dan tujuh di sisi kiri, semuanya di atas permukaan air. Salah satu lubang terdapat di geladak, di sisi kanan haluan. Enam lubang berada di tengah kapal, tiga serpihan peluru menembus lapisan baja atas, dan satu lubang di lapisan pelindung utama. Kapal selamnya tidak mencatat tanda-tanda penembus yang melalui pelindung utama atau samping, dan kemungkinan bahwa peluru hanya menembus armor dek saja. Penyok besar yang terlihat menunjukkan bahwa banyak dari peluru 14 inci yang ditembakkan oleh King George V memantul dari pelindung baja Jerman. Sejarawan angkatan laut William Garzke dan Robert Dulin mencatat bahwa kapal perang Inggris menembaki dari jarak yang sangat dekat, lintasan yang datar dari peluru membuatnya sulit untuk mengenai target yang relatif sempit yang dilapisi oleh pelindung di atas garis air, karena peluru yang ditembakkan dari jarak pendek akan memantul ke atas atau meledak ketika terkena air.

Ballard mencatat bahwa dia tidak menemukan bukti dari ledakan internal yang terjadi ketika lambung kapal banjir. Air di sekitarnya, yang memiliki tekanan lebih besar daripada udara di lambung kapal, akan menghancurkan kapal. Sebaliknya, Ballard menunjukkan bahwa lambung berada dalam kondisi yang relatif baik; ia hanya menyatakan bahwa "Bismarck tidak meledak." Ini menunjukkan bahwa bagian dalam Bismarck kebanjiran ketika kapal tenggelam, mendukung teori scuttling. Ballard menambahkan "we found a hull that appears whole and relatively undamaged by the descent and impact". Mereka menyimpulkan bahwa penyebab langsungnya tenggelam adalah penenggelaman ruang mesin oleh krunya sendiri seperti yang diklaim oleh korban selamat dari kapal perang tersebut.

Terlepas dari sudut pandang mereka yang terkadang berbeda, para ahli ini umumnya setuju bahwa Bismarck pada akhirnya akan kandas jika Jerman tidak menenggelamkannya terlebih dulu. Ballard memperkirakan bahwa Bismarck masih bisa mengapung setidaknya satu hari ketika kapal-kapal Inggris berhenti menembak dan dapat ditangkap oleh Angkatan Laut Kerajaan, suatu teori yang didukung oleh sejarawan Ludovic Kennedy (yang bertugas pada kapal perusak HMS Tartar pada saat itu).

Penutup
Dilihat dari sudut pandang operasi, Operasi Rheinübung hampir gagal dari awal, sejak 20 Mei, Gugus Tempur Jerman sudah terdeteksi di Kattegat. Inggris telah meningkatkan kewaspadaan mereka, dan berhasil memberi sinyal gerakan Bismarck sejak keberangkatan pertamanya di perairan Norwegia. Jerman, di sisi lain, memiliki intelijen militer yang tidak memadai dan kurangnya kerja sama yang efektif dengan pasukan U-boat.


Para pakar dan sejarawan berpendapat bahwa terjadi berbagai kesalahan fatal sejak Bismarck berangkat dari Gdynia. Seharusnya Bismarck tidak berlayar melalui selat Kattegat dan Skaggerrak karena di jalur itu penuh dengan spionase Inggris, dan Akan lebih aman jika melalui Kanal Kaisar Wilhelm. Hal lainnya adalah Bismarck semestinya menambah bahan bakarnya sehingga bisa melarikan diri dari gempuran lawan.

Terlepas dari semua ini, Bismarck hampir lolos, dan dia pasti dapat melakukannya seandainya bukan karena hantaman torpedo fatal yang melumpuhkan perangkat kemudi. Seandainya Bismarck mencapai Prancis, kapal dan krunya pasti akan disambut bak pahlawan besar. Tenggelamnya Hood diikuti oleh pelarian yang sukses akan memberi Jerman capaian yang mengagumkan. Namun, tujuan utama mereka (menenggelamkan pengiriman kapal dagang musuh) tidak akan tercapai. Oleh karena itu, meskipun merusak prestise Angkatan Laut Kerajaan Inggris, serangan Bismarck masih agak gagal. Selain itu, karena kerusakan yang diterima di Selat Denmark dan serangan torpedo setelahnya, Bismarck harus masuk ke dok kering untuk perbaikan. Ini dapat mencegahnya kembali ke Atlantik karena kapal tempur tersebut tidak dapat digunakan lagi untuk setidaknya beberapa bulan ke depan.

Bagi Angkatan Laut Jerman, tenggelamnya kapal tempur Bismarck mungkin merupakan pukulan terberat perang. Meski demikian, Kriegsmarine masih memiliki kekuatan yang cukup besar dan jauh dari kekalahan. Namun, hilangnya Bismarck menandai titik balik dalam perang terhadap pengiriman kapal dagang Sekutu. Bukan hanya karena kehilangan kapal perang itu sendiri, tetapi karena konsekuensi yang ditimbulkannya. Tak lama setelah Operasi Rheinübung, Jerman mengabaikan penggunaan kapal perang permukaan untuk tujuan penyerbuan di Atlantik. Sejak saat itu, hanya beberapa kapal penjelajah tambahan yang masih tetap terlibat dalam melawan pengiriman kapal dagang sekutu, bahkan penggunaannya terbukti sulit pada akhir 1941, dan oleh karena itu Jerman memusatkan upaya mereka dalam perang U-boat. U-boat sendiri masih akan membawa kesuksesan penting, tetapi mereka juga akhirnya dikalahkan pada Mei 1943, dalam apa yang disebut sebagai titik balik dalam Pertempuran Atlantik.

Bila diibaratkan, Bismarck layaknya kembang api, perannya begitu gemilang namun hilang dalam sekejap, sepak terjangnya patut diacungi jempol dengan prestasi yang menakjubkan, namun ia harus tenggelam dalam misi pertamanya, sebuah nasib yang cukup naas untuk sebuah kapal perang yang dipersiapkan sebagai kapal pimpinan angkatan laut Jerman.






Daftar Pustaka

Brower, Jack. 2005. Anatomy of the Ship: Battleship Bismarck. Annapolis: Naval Institute Press.
Müllenheim-Rechberg, Burkard von. 2013. Battleship Bismarck: A Survivor Story. Annapolis: Naval Institute Press.
Ojong, P.K. 2008. Perang Eropa Jilid I. Jakarta: Kompas.
Oktorino, Nino. 2018. Bismarck: Monster Laut Hitler. Jakarta: Kompas.






Share:

Rabu, 18 Desember 2019

Yamato, Sebuah Mahakarya yang Terlambat



Yamato merupakan sebuah kapal tempur yang dibangun oleh Kekaisaran Jepang dalam menyongsong Perang Dunia II. Ia digadang-gadang sebagai kapal tempur terbesar di dunia, dengan berbobot sekitar 72.000 ton muatan penuh.

Latar Belakang

Jepang, pada saat itu tak memiliki kapasitas yang mumpuni untuk membangun kapal perang dalam jumlah besar, kemampuan industri mereka masih terlampau jauh dari Amerika Serikat atau Britania Raya. Mengetahui hal ini, Jepang memilih cara lain untuk menutupi kelemahannya, yaitu membangun sebuah kapal perang superior yang mampu menghabisi berbagai kapal perang lawan sekaligus, dari sanalah gagasan pembangunan Yamato lahir.

Desain & Pembangunan

Sejak resmi keluar dari Liga Bangsa-Bangsa, Jepang mulai merancang setidaknya 24  desain kapal selama tahun 1934-1936. Desain kapal ini dirancang untuk membawa persenjataan sebesar dan sekuat mungkin, ia dipersiapkan untuk menghadapi berbagai jenis kapal musuh.


Dari berbagai desain ini dan beberapa tinjauan ulang, diputuskanlah bahwa kapal ini akan membawa setidaknya 9 (3x3) meriam utama tipe 94 kaliber 46 cm dan 12 (4x3) meriam sekunder tipe 3 kaliber 15.5 cm, ditambah dengan 12 (6x2) meriam tipe 89 kaliber 12.7 cm dan 24 (8x3) persenjataan tipe 96 kaliber 2.5 cm untuk pertahanan anti udara, kapal ini juga dilengkapi dengan 2 Catapults untuk menerbangkan pesawat intai (Nakajima E8N & Nakajima E4N).

Kapal ini juga dirancang agar mampu bertahan dari berbagai serangan musuh, dengan perlindungan sekitar 27-41 cm di lambung kapal, 19-65 cm untuk perlindungan meriam utama, 20-22.5 cm sebagai pelindung geladak, dan 30-50 cm di anjungan kapal. Yamato direncanakan akan bergerak dengan tenaga 4 baling baling dengan tenaga gabungan 4 turbin kampon dan 12 kampon pendidih RO.

Meskipun adanya oposisi dari pihak yang menganggap pembangunannya buang buang sumberdaya (dan lebih mendukung alokasi untuk pembangunan kapal induk dan pesawat AL) Proposal pembangunan total lima kapal kelas ini tetap disetujui oleh pimpinan tertinggi angkatan laut, dengan budget setidaknya 130 juta yen per kapal (1 triliun yen kurs 2015).

Yamato -sebagai kapal pertama di kelasnya- mulai dibangun pada November 1937 di Kure Naval Arsenal dengan kerahasiaan tinggi, pembangunannya ditutup layar besar untuk mencegah informasinya bocor ke dunia luar, bahkan Amerika Serikat baru mengetahui keberadaannya pada tahun 1942, ketika perang pasifik bergejolak.

Masa Bertugas

Kapal tempur yang namanya diambil dari Provinsi Yamato ini memulai ujicoba pertamanya pada Oktober 1941 dan mampu menempuh kecepatan maximum 27.4 knots (50.7 km/jam). Dikarenakan tekanan saat itu dimana jepang ikut terjun ke kancah perang dunia, Yamato mulai ditugaskan lebih cepat dari jadwal, yaitu pada 16 Desember 1941 dan bergabung dengan 2 kapal tempur kelas Nagato dalam divisi kapal tempur pertama dibawah pimpinan Kapten Gihachi Takayanagi.

Yamato kemudian dialihkan sebagai kapal bendera armada gabungan pimpinan Laksamana Isoroku Yamamoto pada Februari 1942, dan dipersiapkan untuk ikut serta dalam operasi MI, rencana untuk menyerbu pulau Midway pada 4 juni 1942. Meski begitu, sebagai kapal komando Yamato tidak ikut dalam Armada Udara Pertama (Kidō Butai) pimpinan Laksamana Chuichi Nagumo sebagai pasukan penyarang, tetapi menunggu puluhan mil dibelakang.

Operasi ini terbukti fatal ketika seluruh empat kapal induk pimpinan Nagumo (yang merupakan veteran Pearl Harbour) ditenggelamkan di Midway dan Yamato kemudian kembali ke Jepang, pertempuran ini dianggap sebagai tahap titik balik kekalahan Jepang di Perang Pasifik. Menanggapi kekalahan ini, Laksamana Yamamoto kemudian mengalihkan perhatiannya ke selatan, memotong jalur suplai Amerika Serikat ke Australia melalui gugusan kepulauan Solomon.

Yamato dan Musashi di Truk
Yamato mulai bertolak dari Kure ke Truk pada Agustus 1942 dan tetap menjadi kapal komando disana selama Kampanye Guadalcanal berlangsung. Menyusul kemunduran Jepang dari Guadalcanal  pada Februari 1943, Yamato kemudian digantikan oleh Musashi –kapal sekelasnya- sebagai kapal bendera, ia kemudian kembali ke jepang untuk inspeksi dan perbaikan pada bulan Mei ditahun yang sama.

Selama periode Agustus-Oktober 1943, Yamato berpindah-pindah posisi dan dipersiapkan untuk mencegah serangan dari Angkatan Laut Amerika Serikat, tetapi tak berhasil menemukan satupun armada musuh. Memasuki bulan Desember, Yamato dan Musashi yang memiliki kapasitas besar ditugaskan sebagai kapal transport pasukan.

 Karena perannya dalam satu terakhir yang tak mampu mempengaruhi jalannya perang, membuat pamornya sebagai lambang kekuatan Angkatan Laut kekaisaran Jepang turun, Yamato terkadang dijuluki sebagai hotel, disebabkan oleh fasilitasnya yang cukup mewah jika dibandingkan dengan kapal militer sebangsanya (hal ini cukup wajar karena Yamato memang dipersiapkan sebagai kapal utama dan menjadi persinggahan pejabat tinggi angkatan laut).

Pada awal tahun 1944, Yamato dipindahkan dari divisi kapal tempur pertama ke armada kedua, kemudian memasuki dok kering untuk remodel dan upgrade besar-besaran. Sebagian besar sistem radarnya diperbarui, 2 meriam sekunder triple-turret 15.5 cm diangkat dan diganti dengan 6x2 meriam anti udara 12.7 cm, persenjataan kaliber 2.5 cm yang sebelumnya berjumlah 24 ditingkatkan hingga berjumlah 162 buah secara berangsur-angsur dengan sebagian ditambah kubah pelindung.

Setelah melewati uji coba ulang pada periode Maret-April, Yamato kemudian bergabung dengan armada pimpinan Wakil Admiral Jizaburo Ozawa, dan ikut serta dalam Pertempuran Laut Filipina, salah menembak pesawat jepang yang baru kembali merupakan satu satunya peran Yamato dalam pertempuran ini.

Selama beberapa bulan kedepan, setelah menjalani perbaikan di Jepang, Yamato dan beberapa kapal tempur lain, ditemani sebelas kapal penjelajah dan kapal perusak dikirim ke selatan, hal ini disebabkan karena banyaknya kapal tanker jepang yang ditenggelamkan oleh kapal selam Amerika Serikat, sehingga sebagian besar armada Jepang ditempatkan di selatan yang dekat dengan sumber bahan bakar.

Memasuki bulan Oktober 1944, Amerika Serikat bergerak ke Filipina, memulai Pertempuran Teluk Leyte untuk memotong jalur suplai daratan utama Jepang dari wilayah selatan yang kaya akan Minyak dan Karet. Menanggapi hal ini, Komando Jepang melancarkan Operasi Shō-Gō  mengirim tiga armada dari arah yang berbeda untuk menghentikan gerak laju Angkatan Laut Amerika. Yamato ditugaskan sebagai bagian dari Armada Pasukan Tengah dibawah pimpinan Admiral Takeo Kurita yang bertolak dari arah Brunei, dimana ia berperan sebagai kapal bendera setelah tenggelamnya Penjelajah Berat Atago oleh kapal selam USS Darter & USS Dace.

Memasuki Laut Sibuyan, pesawat dari gugus tugas 38 Halsey mulai menyerang armada Kurita, pada pertempuran tak seimbang ini, Yamato dijatuhi 2 bomb dan mengalami kerusakan ringan, sementara itu Musashi mulai tenggelam setelah dihantam 17 bom dan 19 torpedo yang dipusatkan kepadanya. Halsey yang mengira Armada Kurita telah mundur dari pertempuran kemudian berbalik mengejar Armada Ozawa di utara, meninggalkan armada kecil sebagai pendukung pasukan pendarat (Taffy 3). Yamato dan armadanya kemudian melewati Selat San Bernadino memasuki Laut Samar dan bertemu dengan “Taffy 3” pimpinan Laksamana Sprague, untuk pertama kalinya (dan terakhir kali) Yamato membuka tembakan kearah kapal musuh, ikut berperan dalam menenggelamkan kapal induk kawal (CVE) USS Gambier Bay. Pada pertempuran ini, Yamato dan armadanya berkesempatan menghancurkan keseluruhan armada itu, termasuk pasukan yang akan mendarat di Filipina, Namun Laksamana Kurita justru memerintahkan armadanya untuk mundur kembali ke Brunei karena ia mengira bahwa yang ia hadapi merupakan Armada Halsey (gugus tugas 38) yang lebih besar.

Dari Brunei, Yamato ditugaskan sebagai kapal bendera armada kedua, ia diperintahkan kembali ke Jepang pada bulan November. Pada perjalanannya, Yamato dan armadanya diserang oleh kapal selam AL Amerika Serikat USS Sealion di Laut Cina Timur dan berhasil lolos dengan selamat, meninggalkan kapal tempur Kongō dan Perusak Urakaze tenggelam disana. Ia melalui perbaikan dan pembaruan persenjataan di Kure, kemudian Kapten Kosaku Aruga ditugaskan untuk memimpin Yamato. Memasuki tahun 1945, peran Yamato menjadi tidak menentu, ia terus berpindah-pindah divisi dan hanya menganggur di Kure, hingga terlibat dalam serangan udara sekutu di Kure pada bulan Maret dan mengalami kerusakan ringan.

Perwira senior Yamato sebelum Operasi Ten-Go
Pada bulan April 1945, Sekutu mulai meluncurkan Operasi Iceberg merebut Okinawa, yang dipersiapkan sebagai langkah awal untuk memulai invasi ke daratan utama Jepang. Menanggapi hal ini petinggi Jepang memutuskan untuk melancarkan segala upaya agar angkatan kekaisaran mampu menahan gerak laju sekutu, termasuk mengerahkan unit serangan khusus (tokkōtai). Kaisar Jepang Hirohito yang mendengar rencana tersebut kemudian menanyakan peran angkatan laut dalam rencana pertahanan ini, petinggi angkatan laut pun merencanakan Operasi Ten-Go. Tujuan dari operasi ini adalah dengan mengirim Yamato ditemani oleh penjelajah ringan Yahagi dan delapan perusak –dengan sedikit atau tanpa perlindungan udara- sebagai bagian dari unit serangan khusus dengan bahan bakar yang tak cukup untuk kembali, Yamato dan armadanya ditugaskan untuk menyerang armada sekutu di lepas pantai Okinawa dan mengkandaskan kapalnya sebagai artileri pantai, dan apabila kapalnya tak mampu beroperasi lagi, seluruh krunya diperintahkan untuk membantu pertahanan pasukan di darat.

Sebagian besar dari pimpinan angkatan laut, termasuk Laksamana Seiichi Ito yang ditugaskan sebagai pemimpin operasi ini sanksi akan keberhasilannya, dan menganggap bahwa aksi ini hanya akan buang buang nyawa dan sumber daya yang sudah cukup terbatas. Laksamana Muda Ryunosuke Kusaka berusaha menjelaskan bahwa serangan ini dapat mengalihkan perhatian armada sekutu dari Okinawa, terutama para petinggi jepang begitu pula Kaisar mengharapkan angkatan laut kekaisaran ikut serta dengan sebaik baiknya dalam mempertahankan Okinawa, sehingga dapat meyakinkan pimpinan angkatan laut yang sebelumnya menolak. Berdasarkan laporan, di malam sebelum keberangkatan ketika pengisian bahan bakar, secara diam diam Yamato dan armadanya diisi dengan semua sisa bahan bakar yang ada di pelabuhan, lebih banyak dari yang sebelumnya direncanakan, meskipun sebenarnya bahan bakar itu masih belum cukup untuk kembali dari Okinawa.

Keesokan harinya, pada tanggal 6 April 1945 pukul 16:00 Yamato dan armadanya berangkat dibawah pimpinan Laksamana Ito. Ketika melewati Selat Bungo, Yamato dipergoki oleh kapal selam USS Threadfin dan USS Hackleback yang kemudian melaporkan posisinya, meskipun Yamato berhasil menangkap pesan yang dikirim oleh kedua kapal selam itu, Laksamana Ito memutuskan untuk berlayar terus. Pada pagi hari pukul 10:00, demi mengecoh Armada Amerika, Yamato mengubah arah ke barat melewati Tanjung Sata di Semenanjung Osumi dengan kecepatan 20 knots (37 km/jam), tetapi kemudian mengarahkan kembali haluannya ke Okinawa ketika gagal menembak jatuh dua pesawat Martin PBM Mariner yang melaporkan posisi mereka. Di waktu yang sama pula, Laksamana Mitscher dari gugus tugas 58 yang terdiri dari beberapa kapal induk meluncurkan ratusan pesawatnya. Laksamana Spruance sebagai pimpinan armada kelima di Okinawa juga menugaskan gugus tugas 54 yang terdiri dari 6 kapal tempur, 7 kapal penjelajah, dan 21 kapal perusak untuk bersiaga apabila Yamato gagal ditenggelamkan dengan serangan udara (pada awalnya gugus tugas 54 yang ditugaskan untuk menahan Yamato, namun Laksamana Mitscher lebih dulu meluncurkan skuadron udaranya tanpa sepengetahuan Spruance).


jalur pergerakan Yamato dan armadanya

Pukul 12:34 terjadi kontak pertama antara kedua pihak, Yamato memulai dengan tembakan peluru tipe 3 anti pesawat dari meriam 46cm, diikuti oleh persenjataan anti udara lainnya. Pesawat tempur F6F Hellcat & F4U Corsair menjadi yang pertama dalam menyerang Yamato dengan berondongan senapan mesin dan serangan roket untuk mengalihkan perhatian persenjataan anti udara, sementara pesawat pengebom tukik SB2C Helldiver menjatuhkan bom dari atas, dan memberi kesempatan pesawat pengebom torpedo TBM Avenger menjatuhkan torpedonya menargetkan lambung kiri Yamato untuk meningkatkan kemungkinan kapal tersebut terbalik. Demi menghindari serangan ini, Yamato meningkatkan kecepatannya menjadi 24 knots (44 km/jam) dan memulai manuver zigzag, meski begitu, Yamato dihantam setidaknya dua bom dan satu torpedo pada serangan gelombang pertama.


Memasuki serangan gelombang kedua pada pukul 13:00, setidaknya terdapat 3 torpedo menghantam bagian kiri, membanjiri lambung kiri Yamato dan membuatnya miring 15–18 derajat ke kiri, kru kapal kemudian membanjiri bagian lambung kanan kapal untuk membuatnya tegak kembali, upaya ini berhasil, tetapi kecepatannya menurun drastis hingga 18 knots (33 km/jam). Memasuki gelombang ketiga pada pukul 13:40, diperkirakan 4 bom menghantam Yamato dan menghancurkan sebagian persenjataan 2.5cm dan membunuh krunya, 3-4 torpedo juga menghantam bagian kapal, dimana diperkirakan menghantam ruang mesin dan kemudi, merusakkan kemampuan Yamato dalam bermanuver, hantaman torpedo itu juga memperparah banjir di lambung kapal sehingga semakin menurunkan kecepatannya hingga 10 knots (19 km/jam). Pada pukul 14:02, Yamato mengalami kebakaran hebat yang tak dapat dipadamkan, ditambah dengan kemudi sulit dikendalikan, sehingga perintah untuk meninggalkan kapal mulai digaungkan, selama tiga menit Yamato semakin miring hingga menampakkan lambung kapal yang tak terlindung, enam pesawat (yang diperkirakan berasal dari USS Yorktown) kemudian menjadikan bagian ini sebagai sasaran yang setidaknya lima sasaran kena, membuat Yamato semakin miring ke kiri.


Pada pukul 14:23, Yamato terbalik, membuat meriam utama 46cm lepas dari tubuhnya, disaat yang sama, sebuah ledakan besar terjadi di bagian gudang senjata, membelah lambang kekuatan angkatan laut Kekaisaran Jepang itu menjadi dua dan menenggelamkannya 340 meter ke dasar laut, membawa pula 3055 kru kapal bersamanya, termasuk komandan armada Laksamana Seiichi Ito dan kapten kapal Kosaku Aruga. Berdasarkan laporan, ledakan tersebut cukup besar hingga menggoyahkan pesawat Amerika yang berada disana, ledakannya menghasilkan awan jamur setinggi 6100 m dan dapat dilihat dari daratan Kyushu yang berjarak 160 km.



Yahagi mendapat serangan udara
Nasib kapal pengawalnya juga tak sebaik Yamato, penjelajah Yahagi yang bergerak dengan kecepatan penuh  35 knots (65 km/jam) untuk memancing serangan dan mengalihkan perhatian dari Yamato, dihantam setidaknya 6 torpedo dan 12 bom, dimana salah satu torpedo menghantam ruang mesin dan menewaskan seluruh kru di dalamnya, menghentikan gerak lajunya, perusak Isokaze yang berniat membantunya juga terkena serangan dan tenggelam, disusul Yahagi pada pukul 14:05. Perusak Asashimo yang mengalami kerusakan mesin harus mundur, tetapi di bom dan tenggelam kemudian, Perusak Kasumi yang mengalami kerusakan parah dan tak mampu melanjutkan pertempuran, juga ditenggelamkan oleh kawannya sendiri, Perusak Hamakaze dan Suzutsuki juga mengalami kerusakan parah dan harus mundur dari pertempuran, dimana Hamakaze ditenggelamkan kemudian, sedangkan Suzutsuki berhasil kembali ke Sasebo dengan bergerak mundur setelah haluannya rusak parah. Sisa armada yang tersisa, perusak Fuyutsuki, Yukikaze, dan Hatsushimo kemudian menyelamatkan 280 korban selamat dari Yamato, begitu pula dengan 555 kru dari penjelajah Yahagi dan 800 orang lainnya dari kapal perusak lain. Berdasarkan kesaksian dari survivor Jepang, beberapa pesawat Amerika menembaki sisa sisa kru Yamato yang mengapung di air, tetapi juga menghentikan serangan mereka ketika kapal perusak jepang mengevakuasi korban selamat tersebut. Selama pertempuran ini, diperkirakan 3700 hingga 4250 personel Angkatan Laut Kekaisaran Jepang kehilangan nyawanya, sementara armada Jepang hanya mampu menembak jatuh 10 pesawat dan menewaskan 12 Personel. Pertempuran ini menjadi operasi angkatan laut terakhir, setelah Operasi Ten-Go, angkatan laut Jepang tak lagi mampu untuk menahan gerakan ofensif sekutu. Diledakkannya 2 bom atom di tanah jepang, invasi soviet di Manchuria, dan juga atas keinginan Kaisar Hirohito sendiri, Jepang pun menerima Deklarasi Postdam dan menyerah kepada sekutu pada 15 Agustus 1945, diikuti dengan penandatanganan penyerahan tanpa syarat pada 2 September 1945, di geladak kapal USS Missouri di Teluk Tokyo, secara resmi mengakhiri konflik 3 tahun 8 bulan di Pasifik.

Pasca Perang

Pada tahun 1982 dimulai ekspedisi untuk mencari bangkai kapal Yamato, ekspedisi tersebut berhasil menemukan beberapa puing puing yang belum teridentifikasi, dua tahun kemudian, dimulai ekspedisi kedua, dimana bangkai kapal Yamato berhasil dikonfirmasi atas bantuan salah satu perancang kapal tempur, Shigeru Makino. Dimana bangkai kapal Yamato terletak di 290 km barat daya Kyushu (30°22′Lintang Utara 128°04′ Bujur timur). Pada tahun 2005, dibangun Museum Yamato di Kure, tempat kelahirannya, dengan menampilkan model replika Yamato berskala 1:10.

Yamato merupakan sebuah mahakarya, ia lahir sebagai lambang angkatan laut negerinya, lahir dikala negerinya mengobarkan kecamuk perang, dan mengakhiri riwayatnya sebagai satu-satunya harapan. Sayangnya, Yamato merupakan sebuah keterlambatan, ia lahir dikala negerinya sendiri menciptakan gagasan perang yang baru, ia muncul ketika pesawat telah menguasai langit, ia datang disaat kapal induk mulai menguasai laut, dan akhirnya ia binasa dikala harapan kapal tempur untuk menguasai pertempuran hampir tak ada lagi.

Yamato tak ubahnya sebuah legenda, sepak terjangnya mungkin tak sehebat Bismarck atau tak sepanjang Iowa-Class. Tetapi perannya merupakan sesuatu yang patut diperhitungkan, usahanya dalam menghentikan gerak laju sekutu mungkin sia-sia, tetapi keberanian dalam mempertahankan tanah airnya tetap diingat hingga lebih dari 7 dekade lamanya, dan selama itu pula, status Yamato sebagai kapal tempur terbesar di dunia tak tergantikan. Bagi rakyat Jepang, Yamato merupakan simbol kekuatan bangsanya, yang tetap berjuang sampai akhir bagaikan Samurai sejati.







Share: