Yamato merupakan sebuah kapal tempur
yang dibangun oleh Kekaisaran Jepang dalam menyongsong Perang Dunia II. Ia
digadang-gadang sebagai kapal tempur terbesar di dunia, dengan berbobot sekitar
72.000 ton muatan penuh.
Latar Belakang
Jepang,
pada saat itu tak memiliki kapasitas yang mumpuni untuk membangun kapal perang
dalam jumlah besar, kemampuan industri mereka masih terlampau jauh dari Amerika
Serikat atau Britania Raya. Mengetahui hal ini, Jepang memilih cara lain untuk menutupi
kelemahannya, yaitu membangun sebuah kapal perang superior yang mampu
menghabisi berbagai kapal perang lawan sekaligus, dari sanalah gagasan
pembangunan Yamato lahir.
Desain & Pembangunan
Sejak
resmi keluar dari Liga Bangsa-Bangsa, Jepang mulai merancang setidaknya 24 desain kapal selama tahun 1934-1936. Desain
kapal ini dirancang untuk membawa persenjataan sebesar dan sekuat mungkin, ia
dipersiapkan untuk menghadapi berbagai jenis kapal musuh.
![]() |
Dari
berbagai desain ini dan beberapa tinjauan ulang, diputuskanlah bahwa kapal ini
akan membawa setidaknya 9 (3x3) meriam utama tipe 94 kaliber 46 cm dan 12 (4x3) meriam sekunder tipe 3 kaliber 15.5 cm, ditambah dengan 12 (6x2) meriam tipe 89
kaliber 12.7 cm dan 24 (8x3) persenjataan tipe 96 kaliber 2.5 cm untuk
pertahanan anti udara, kapal ini juga dilengkapi dengan 2 Catapults untuk menerbangkan pesawat intai (Nakajima E8N &
Nakajima E4N).
Kapal
ini juga dirancang agar mampu bertahan dari berbagai serangan musuh, dengan
perlindungan sekitar 27-41 cm di lambung kapal, 19-65 cm untuk perlindungan
meriam utama, 20-22.5 cm sebagai pelindung geladak, dan 30-50 cm di anjungan
kapal. Yamato direncanakan akan
bergerak dengan tenaga 4 baling baling dengan tenaga gabungan 4 turbin kampon
dan 12 kampon pendidih RO.
Meskipun
adanya oposisi dari pihak yang menganggap pembangunannya buang buang sumberdaya
(dan lebih mendukung alokasi untuk pembangunan kapal induk dan pesawat AL) Proposal
pembangunan total lima kapal kelas ini tetap disetujui oleh pimpinan tertinggi
angkatan laut, dengan budget setidaknya 130 juta yen per kapal (1 triliun yen
kurs 2015).
Yamato -sebagai kapal pertama di
kelasnya- mulai dibangun pada November 1937 di Kure Naval Arsenal dengan
kerahasiaan tinggi, pembangunannya ditutup layar besar untuk mencegah
informasinya bocor ke dunia luar, bahkan Amerika Serikat baru mengetahui
keberadaannya pada tahun 1942, ketika perang pasifik bergejolak.
Masa Bertugas
Kapal
tempur yang namanya diambil dari Provinsi Yamato
ini memulai ujicoba pertamanya pada Oktober 1941 dan mampu menempuh kecepatan
maximum 27.4 knots (50.7 km/jam). Dikarenakan tekanan saat itu dimana jepang
ikut terjun ke kancah perang dunia, Yamato
mulai ditugaskan lebih cepat dari jadwal, yaitu pada 16 Desember 1941 dan
bergabung dengan 2 kapal tempur kelas Nagato dalam divisi kapal tempur pertama
dibawah pimpinan Kapten Gihachi Takayanagi.
Yamato kemudian dialihkan sebagai kapal
bendera armada gabungan pimpinan Laksamana Isoroku Yamamoto pada Februari 1942,
dan dipersiapkan untuk ikut serta dalam operasi MI, rencana untuk menyerbu
pulau Midway pada 4 juni 1942. Meski begitu, sebagai kapal komando Yamato tidak ikut dalam Armada Udara
Pertama (Kidō Butai)
pimpinan Laksamana Chuichi Nagumo sebagai pasukan penyarang, tetapi menunggu
puluhan mil dibelakang.
Operasi
ini terbukti fatal ketika seluruh empat kapal induk pimpinan Nagumo (yang
merupakan veteran Pearl Harbour) ditenggelamkan di Midway dan Yamato kemudian kembali ke Jepang,
pertempuran ini dianggap sebagai tahap titik balik kekalahan Jepang di Perang
Pasifik. Menanggapi kekalahan ini, Laksamana Yamamoto kemudian mengalihkan
perhatiannya ke selatan, memotong jalur suplai Amerika Serikat ke Australia
melalui gugusan kepulauan Solomon.
![]() |
| Yamato dan Musashi di Truk |
Yamato mulai bertolak dari Kure ke Truk
pada Agustus 1942 dan tetap menjadi kapal komando disana selama Kampanye
Guadalcanal berlangsung. Menyusul kemunduran Jepang dari Guadalcanal pada Februari 1943, Yamato kemudian digantikan oleh Musashi
–kapal sekelasnya- sebagai kapal bendera, ia kemudian kembali ke jepang untuk
inspeksi dan perbaikan pada bulan Mei ditahun yang sama.
Selama
periode Agustus-Oktober 1943, Yamato
berpindah-pindah posisi dan dipersiapkan untuk mencegah serangan dari Angkatan
Laut Amerika Serikat, tetapi tak berhasil menemukan satupun armada musuh.
Memasuki bulan Desember, Yamato dan Musashi yang memiliki kapasitas besar
ditugaskan sebagai kapal transport pasukan.
Karena perannya dalam satu terakhir yang tak
mampu mempengaruhi jalannya perang, membuat pamornya sebagai lambang kekuatan
Angkatan Laut kekaisaran Jepang turun, Yamato
terkadang dijuluki sebagai hotel, disebabkan oleh fasilitasnya yang cukup mewah
jika dibandingkan dengan kapal militer sebangsanya (hal ini cukup wajar karena Yamato memang dipersiapkan sebagai kapal
utama dan menjadi persinggahan pejabat tinggi angkatan laut).
Pada
awal tahun 1944, Yamato dipindahkan dari
divisi kapal tempur pertama ke armada kedua, kemudian memasuki dok kering untuk
remodel dan upgrade besar-besaran. Sebagian besar sistem radarnya diperbarui, 2
meriam sekunder triple-turret 15.5 cm diangkat dan diganti dengan 6x2 meriam
anti udara 12.7 cm, persenjataan kaliber 2.5 cm yang sebelumnya berjumlah 24
ditingkatkan hingga berjumlah 162 buah secara berangsur-angsur dengan sebagian
ditambah kubah pelindung.
Setelah
melewati uji coba ulang pada periode Maret-April, Yamato kemudian bergabung dengan armada pimpinan Wakil Admiral
Jizaburo Ozawa, dan ikut serta dalam Pertempuran Laut Filipina, salah menembak
pesawat jepang yang baru kembali merupakan satu satunya peran Yamato dalam pertempuran ini.
Selama
beberapa bulan kedepan, setelah menjalani perbaikan di Jepang, Yamato dan beberapa kapal tempur lain,
ditemani sebelas kapal penjelajah dan kapal perusak dikirim ke selatan, hal ini
disebabkan karena banyaknya kapal tanker jepang yang ditenggelamkan oleh kapal
selam Amerika Serikat, sehingga sebagian besar armada Jepang ditempatkan di
selatan yang dekat dengan sumber bahan bakar.
Memasuki
bulan Oktober 1944, Amerika Serikat bergerak ke Filipina, memulai
Pertempuran Teluk Leyte untuk memotong jalur suplai daratan utama Jepang dari
wilayah selatan yang kaya akan Minyak dan Karet. Menanggapi hal ini, Komando
Jepang melancarkan Operasi Shō-Gō mengirim tiga armada dari arah yang berbeda untuk
menghentikan gerak laju Angkatan Laut Amerika. Yamato ditugaskan sebagai bagian dari Armada Pasukan Tengah dibawah
pimpinan Admiral Takeo Kurita yang bertolak dari arah Brunei, dimana ia
berperan sebagai kapal bendera setelah tenggelamnya Penjelajah Berat Atago oleh
kapal selam USS Darter & USS Dace.
Memasuki
Laut Sibuyan, pesawat dari gugus tugas 38 Halsey mulai menyerang armada Kurita,
pada pertempuran tak seimbang ini, Yamato
dijatuhi 2 bomb dan mengalami kerusakan ringan, sementara itu Musashi mulai tenggelam setelah dihantam
17 bom dan 19 torpedo yang dipusatkan kepadanya. Halsey yang mengira Armada
Kurita telah mundur dari pertempuran kemudian berbalik mengejar Armada Ozawa di
utara, meninggalkan armada kecil sebagai pendukung pasukan pendarat (Taffy 3). Yamato dan armadanya kemudian melewati Selat San Bernadino memasuki
Laut Samar dan bertemu dengan “Taffy 3”
pimpinan Laksamana Sprague, untuk pertama kalinya (dan terakhir kali) Yamato membuka tembakan kearah kapal
musuh, ikut berperan dalam menenggelamkan kapal induk kawal (CVE) USS Gambier Bay. Pada pertempuran ini, Yamato dan armadanya berkesempatan
menghancurkan keseluruhan armada itu, termasuk pasukan yang akan mendarat di
Filipina, Namun Laksamana Kurita justru memerintahkan armadanya untuk mundur
kembali ke Brunei karena ia mengira bahwa yang ia hadapi merupakan Armada
Halsey (gugus tugas 38) yang lebih besar.
Dari
Brunei, Yamato ditugaskan sebagai
kapal bendera armada kedua, ia diperintahkan kembali ke Jepang pada bulan
November. Pada perjalanannya, Yamato
dan armadanya diserang oleh kapal selam AL Amerika Serikat USS Sealion di Laut Cina Timur dan berhasil lolos dengan selamat,
meninggalkan kapal tempur Kongō
dan Perusak Urakaze tenggelam disana. Ia melalui perbaikan dan
pembaruan persenjataan di Kure, kemudian Kapten Kosaku Aruga ditugaskan untuk
memimpin Yamato. Memasuki tahun 1945, peran Yamato menjadi tidak
menentu, ia terus berpindah-pindah divisi dan hanya menganggur di Kure, hingga
terlibat dalam serangan udara sekutu di Kure pada bulan Maret dan mengalami
kerusakan ringan.
![]() |
| Perwira senior Yamato sebelum Operasi Ten-Go |
Pada bulan April
1945, Sekutu mulai meluncurkan Operasi Iceberg merebut Okinawa, yang dipersiapkan
sebagai langkah awal untuk memulai invasi ke daratan utama Jepang. Menanggapi hal
ini petinggi Jepang memutuskan untuk melancarkan segala upaya agar angkatan kekaisaran mampu menahan gerak laju sekutu, termasuk mengerahkan unit serangan
khusus (tokkōtai). Kaisar Jepang
Hirohito yang mendengar rencana tersebut kemudian menanyakan peran angkatan laut
dalam rencana pertahanan ini, petinggi angkatan laut pun merencanakan Operasi Ten-Go. Tujuan dari operasi
ini adalah dengan mengirim Yamato ditemani
oleh penjelajah ringan Yahagi dan
delapan perusak –dengan sedikit atau tanpa perlindungan udara- sebagai bagian
dari unit serangan khusus dengan bahan bakar yang tak cukup untuk kembali, Yamato dan armadanya ditugaskan untuk
menyerang armada sekutu di lepas pantai Okinawa dan mengkandaskan kapalnya
sebagai artileri pantai, dan apabila kapalnya tak mampu beroperasi lagi,
seluruh krunya diperintahkan untuk membantu pertahanan pasukan di darat.
Sebagian besar dari
pimpinan angkatan laut, termasuk Laksamana Seiichi Ito yang ditugaskan sebagai pemimpin
operasi ini sanksi akan keberhasilannya, dan menganggap bahwa aksi ini hanya
akan buang buang nyawa dan sumber daya yang sudah cukup terbatas. Laksamana
Muda Ryunosuke Kusaka berusaha menjelaskan bahwa serangan ini dapat mengalihkan
perhatian armada sekutu dari Okinawa, terutama para petinggi jepang begitu pula
Kaisar mengharapkan angkatan laut kekaisaran ikut serta dengan sebaik baiknya
dalam mempertahankan Okinawa, sehingga dapat meyakinkan pimpinan angkatan laut
yang sebelumnya menolak. Berdasarkan laporan, di malam sebelum keberangkatan
ketika pengisian bahan bakar, secara diam diam Yamato dan armadanya diisi dengan semua sisa bahan bakar yang ada di
pelabuhan, lebih banyak dari yang sebelumnya direncanakan, meskipun sebenarnya bahan
bakar itu masih belum cukup untuk kembali dari Okinawa.
Keesokan harinya,
pada tanggal 6 April 1945 pukul 16:00 Yamato
dan armadanya berangkat dibawah pimpinan Laksamana Ito. Ketika melewati Selat
Bungo, Yamato dipergoki oleh kapal
selam USS Threadfin dan USS Hackleback yang kemudian melaporkan
posisinya, meskipun Yamato berhasil
menangkap pesan yang dikirim oleh kedua kapal selam itu, Laksamana Ito memutuskan
untuk berlayar terus. Pada pagi hari pukul 10:00, demi mengecoh Armada Amerika,
Yamato mengubah arah ke barat
melewati Tanjung Sata di Semenanjung Osumi dengan kecepatan 20 knots (37 km/jam), tetapi kemudian mengarahkan kembali haluannya ke Okinawa ketika gagal
menembak jatuh dua pesawat Martin PBM Mariner
yang melaporkan posisi mereka. Di waktu yang sama pula, Laksamana Mitscher dari gugus
tugas 58 yang terdiri dari beberapa kapal induk meluncurkan ratusan pesawatnya.
Laksamana Spruance sebagai pimpinan armada kelima di Okinawa juga menugaskan
gugus tugas 54 yang terdiri dari 6 kapal tempur, 7 kapal penjelajah, dan 21
kapal perusak untuk bersiaga apabila Yamato
gagal ditenggelamkan dengan serangan udara (pada awalnya gugus tugas 54 yang
ditugaskan untuk menahan Yamato,
namun Laksamana Mitscher lebih dulu meluncurkan skuadron udaranya tanpa
sepengetahuan Spruance).
![]() |
| jalur pergerakan Yamato dan armadanya |
Pukul 12:34 terjadi
kontak pertama antara kedua pihak, Yamato
memulai dengan tembakan peluru tipe 3 anti pesawat dari meriam 46cm,
diikuti oleh persenjataan anti udara lainnya. Pesawat tempur F6F Hellcat & F4U Corsair menjadi yang pertama dalam
menyerang Yamato dengan berondongan
senapan mesin dan serangan roket untuk mengalihkan perhatian persenjataan anti
udara, sementara pesawat pengebom tukik SB2C Helldiver menjatuhkan bom dari atas, dan memberi kesempatan pesawat
pengebom torpedo TBM Avenger menjatuhkan
torpedonya menargetkan lambung kiri Yamato untuk meningkatkan kemungkinan kapal tersebut terbalik. Demi menghindari
serangan ini, Yamato meningkatkan
kecepatannya menjadi 24 knots (44 km/jam) dan memulai manuver zigzag, meski
begitu, Yamato dihantam setidaknya
dua bom dan satu torpedo pada serangan gelombang pertama.
Memasuki serangan
gelombang kedua pada pukul 13:00, setidaknya terdapat 3 torpedo menghantam
bagian kiri, membanjiri lambung kiri Yamato
dan membuatnya miring 15–18
derajat ke kiri, kru kapal kemudian membanjiri bagian lambung kanan kapal untuk
membuatnya tegak kembali, upaya ini berhasil, tetapi kecepatannya menurun
drastis hingga 18 knots (33 km/jam). Memasuki gelombang ketiga pada
pukul 13:40, diperkirakan 4 bom menghantam Yamato
dan menghancurkan sebagian persenjataan 2.5cm dan membunuh krunya, 3-4 torpedo
juga menghantam bagian kapal, dimana diperkirakan menghantam ruang mesin dan
kemudi, merusakkan kemampuan Yamato
dalam bermanuver, hantaman torpedo itu juga memperparah banjir di lambung kapal
sehingga semakin menurunkan kecepatannya hingga 10 knots (19 km/jam).
Pada pukul 14:02, Yamato mengalami
kebakaran hebat yang tak dapat dipadamkan, ditambah dengan kemudi sulit dikendalikan,
sehingga perintah untuk meninggalkan kapal mulai digaungkan, selama tiga menit Yamato semakin miring hingga menampakkan
lambung kapal yang tak terlindung, enam pesawat (yang diperkirakan berasal dari USS
Yorktown) kemudian menjadikan
bagian ini sebagai sasaran yang setidaknya lima sasaran kena, membuat Yamato semakin miring ke kiri.

Pada pukul 14:23, Yamato terbalik, membuat meriam utama 46cm lepas dari tubuhnya, disaat
yang sama, sebuah ledakan besar terjadi di bagian gudang senjata, membelah lambang
kekuatan angkatan laut Kekaisaran Jepang itu menjadi dua dan menenggelamkannya
340 meter ke dasar laut, membawa pula 3055 kru kapal bersamanya, termasuk
komandan armada Laksamana Seiichi Ito dan kapten kapal Kosaku Aruga. Berdasarkan laporan, ledakan tersebut cukup besar hingga menggoyahkan
pesawat Amerika yang berada disana, ledakannya menghasilkan awan jamur
setinggi 6100 m dan dapat dilihat dari daratan Kyushu yang berjarak 160 km.
![]() |
| Yahagi mendapat serangan udara |
Nasib kapal
pengawalnya juga tak sebaik Yamato,
penjelajah Yahagi yang bergerak
dengan kecepatan penuh 35 knots (65 km/jam) untuk memancing serangan dan mengalihkan
perhatian dari Yamato, dihantam
setidaknya 6 torpedo dan 12 bom, dimana salah satu torpedo menghantam ruang
mesin dan menewaskan seluruh kru di dalamnya, menghentikan gerak lajunya,
perusak Isokaze yang berniat
membantunya juga terkena serangan dan tenggelam, disusul Yahagi pada pukul 14:05. Perusak Asashimo yang mengalami kerusakan mesin harus mundur, tetapi di bom
dan tenggelam kemudian, Perusak Kasumi
yang mengalami kerusakan parah dan tak mampu melanjutkan pertempuran, juga
ditenggelamkan oleh kawannya sendiri, Perusak Hamakaze dan Suzutsuki
juga mengalami kerusakan parah dan harus mundur dari pertempuran, dimana Hamakaze ditenggelamkan kemudian,
sedangkan Suzutsuki berhasil kembali
ke Sasebo dengan bergerak mundur setelah haluannya rusak parah. Sisa armada
yang tersisa, perusak Fuyutsuki, Yukikaze, dan Hatsushimo kemudian menyelamatkan 280 korban selamat dari Yamato, begitu pula dengan 555 kru dari
penjelajah Yahagi dan 800 orang
lainnya dari kapal perusak lain. Berdasarkan kesaksian dari survivor Jepang, beberapa pesawat
Amerika menembaki sisa sisa kru Yamato
yang mengapung di air, tetapi juga menghentikan serangan mereka ketika kapal
perusak jepang mengevakuasi korban selamat tersebut. Selama pertempuran ini,
diperkirakan 3700 hingga 4250 personel Angkatan Laut Kekaisaran Jepang
kehilangan nyawanya, sementara armada Jepang hanya mampu menembak jatuh 10
pesawat dan menewaskan 12 Personel. Pertempuran ini menjadi operasi angkatan
laut terakhir, setelah Operasi Ten-Go, angkatan laut Jepang tak lagi mampu
untuk menahan gerakan ofensif sekutu. Diledakkannya 2 bom atom di tanah
jepang, invasi soviet di Manchuria, dan juga atas keinginan Kaisar Hirohito
sendiri, Jepang pun menerima Deklarasi Postdam dan menyerah kepada sekutu pada
15 Agustus 1945, diikuti dengan penandatanganan penyerahan tanpa syarat pada 2 September
1945, di geladak kapal USS Missouri di
Teluk Tokyo, secara resmi mengakhiri konflik 3 tahun 8 bulan di Pasifik.
Pasca Perang
Pada tahun 1982
dimulai ekspedisi untuk mencari bangkai kapal Yamato, ekspedisi tersebut berhasil menemukan beberapa puing puing yang belum
teridentifikasi, dua tahun kemudian, dimulai ekspedisi kedua, dimana bangkai
kapal Yamato berhasil dikonfirmasi atas
bantuan salah satu perancang kapal tempur, Shigeru Makino. Dimana bangkai kapal Yamato terletak di 290 km barat daya Kyushu (30°22′Lintang Utara 128°04′ Bujur timur). Pada tahun 2005,
dibangun Museum Yamato di Kure, tempat kelahirannya, dengan menampilkan model replika Yamato berskala 1:10.
Yamato merupakan sebuah
mahakarya, ia lahir sebagai lambang angkatan laut negerinya, lahir dikala
negerinya mengobarkan kecamuk perang, dan mengakhiri riwayatnya sebagai satu-satunya
harapan. Sayangnya, Yamato
merupakan sebuah keterlambatan, ia lahir dikala negerinya sendiri menciptakan
gagasan perang yang baru, ia muncul ketika pesawat telah menguasai langit, ia
datang disaat kapal induk mulai menguasai laut, dan akhirnya ia binasa dikala harapan
kapal tempur untuk menguasai pertempuran hampir tak ada lagi.
Yamato tak ubahnya sebuah
legenda, sepak terjangnya mungkin tak sehebat Bismarck atau tak sepanjang Iowa-Class.
Tetapi perannya merupakan sesuatu yang patut diperhitungkan, usahanya dalam
menghentikan gerak laju sekutu mungkin sia-sia, tetapi keberanian dalam
mempertahankan tanah airnya tetap diingat hingga lebih dari 7 dekade lamanya, dan selama
itu pula, status Yamato sebagai kapal
tempur terbesar di dunia tak tergantikan. Bagi rakyat Jepang, Yamato merupakan simbol kekuatan
bangsanya, yang tetap berjuang sampai akhir bagaikan Samurai sejati.
![]() |
| "Men of the Yamato" |
Daftar Pustaka
Ojong, P.K. 2008. Perang Pasifik. Jakarta: Kompas.
https://en.wikipedia.org/wiki/Japanese_battleship_Yamato
https://en.wikipedia.org/wiki/Yamato-class_battleship
https://www.youtube.com/watch?v=zYrj3gzXgeA











0 comments:
Posting Komentar