Rabu, 18 Desember 2019

Yamato, Sebuah Mahakarya yang Terlambat



Yamato merupakan sebuah kapal tempur yang dibangun oleh Kekaisaran Jepang dalam menyongsong Perang Dunia II. Ia digadang-gadang sebagai kapal tempur terbesar di dunia, dengan berbobot sekitar 72.000 ton muatan penuh.

Latar Belakang

Jepang, pada saat itu tak memiliki kapasitas yang mumpuni untuk membangun kapal perang dalam jumlah besar, kemampuan industri mereka masih terlampau jauh dari Amerika Serikat atau Britania Raya. Mengetahui hal ini, Jepang memilih cara lain untuk menutupi kelemahannya, yaitu membangun sebuah kapal perang superior yang mampu menghabisi berbagai kapal perang lawan sekaligus, dari sanalah gagasan pembangunan Yamato lahir.

Desain & Pembangunan

Sejak resmi keluar dari Liga Bangsa-Bangsa, Jepang mulai merancang setidaknya 24  desain kapal selama tahun 1934-1936. Desain kapal ini dirancang untuk membawa persenjataan sebesar dan sekuat mungkin, ia dipersiapkan untuk menghadapi berbagai jenis kapal musuh.


Dari berbagai desain ini dan beberapa tinjauan ulang, diputuskanlah bahwa kapal ini akan membawa setidaknya 9 (3x3) meriam utama tipe 94 kaliber 46 cm dan 12 (4x3) meriam sekunder tipe 3 kaliber 15.5 cm, ditambah dengan 12 (6x2) meriam tipe 89 kaliber 12.7 cm dan 24 (8x3) persenjataan tipe 96 kaliber 2.5 cm untuk pertahanan anti udara, kapal ini juga dilengkapi dengan 2 Catapults untuk menerbangkan pesawat intai (Nakajima E8N & Nakajima E4N).

Kapal ini juga dirancang agar mampu bertahan dari berbagai serangan musuh, dengan perlindungan sekitar 27-41 cm di lambung kapal, 19-65 cm untuk perlindungan meriam utama, 20-22.5 cm sebagai pelindung geladak, dan 30-50 cm di anjungan kapal. Yamato direncanakan akan bergerak dengan tenaga 4 baling baling dengan tenaga gabungan 4 turbin kampon dan 12 kampon pendidih RO.

Meskipun adanya oposisi dari pihak yang menganggap pembangunannya buang buang sumberdaya (dan lebih mendukung alokasi untuk pembangunan kapal induk dan pesawat AL) Proposal pembangunan total lima kapal kelas ini tetap disetujui oleh pimpinan tertinggi angkatan laut, dengan budget setidaknya 130 juta yen per kapal (1 triliun yen kurs 2015).

Yamato -sebagai kapal pertama di kelasnya- mulai dibangun pada November 1937 di Kure Naval Arsenal dengan kerahasiaan tinggi, pembangunannya ditutup layar besar untuk mencegah informasinya bocor ke dunia luar, bahkan Amerika Serikat baru mengetahui keberadaannya pada tahun 1942, ketika perang pasifik bergejolak.

Masa Bertugas

Kapal tempur yang namanya diambil dari Provinsi Yamato ini memulai ujicoba pertamanya pada Oktober 1941 dan mampu menempuh kecepatan maximum 27.4 knots (50.7 km/jam). Dikarenakan tekanan saat itu dimana jepang ikut terjun ke kancah perang dunia, Yamato mulai ditugaskan lebih cepat dari jadwal, yaitu pada 16 Desember 1941 dan bergabung dengan 2 kapal tempur kelas Nagato dalam divisi kapal tempur pertama dibawah pimpinan Kapten Gihachi Takayanagi.

Yamato kemudian dialihkan sebagai kapal bendera armada gabungan pimpinan Laksamana Isoroku Yamamoto pada Februari 1942, dan dipersiapkan untuk ikut serta dalam operasi MI, rencana untuk menyerbu pulau Midway pada 4 juni 1942. Meski begitu, sebagai kapal komando Yamato tidak ikut dalam Armada Udara Pertama (Kidō Butai) pimpinan Laksamana Chuichi Nagumo sebagai pasukan penyarang, tetapi menunggu puluhan mil dibelakang.

Operasi ini terbukti fatal ketika seluruh empat kapal induk pimpinan Nagumo (yang merupakan veteran Pearl Harbour) ditenggelamkan di Midway dan Yamato kemudian kembali ke Jepang, pertempuran ini dianggap sebagai tahap titik balik kekalahan Jepang di Perang Pasifik. Menanggapi kekalahan ini, Laksamana Yamamoto kemudian mengalihkan perhatiannya ke selatan, memotong jalur suplai Amerika Serikat ke Australia melalui gugusan kepulauan Solomon.

Yamato dan Musashi di Truk
Yamato mulai bertolak dari Kure ke Truk pada Agustus 1942 dan tetap menjadi kapal komando disana selama Kampanye Guadalcanal berlangsung. Menyusul kemunduran Jepang dari Guadalcanal  pada Februari 1943, Yamato kemudian digantikan oleh Musashi –kapal sekelasnya- sebagai kapal bendera, ia kemudian kembali ke jepang untuk inspeksi dan perbaikan pada bulan Mei ditahun yang sama.

Selama periode Agustus-Oktober 1943, Yamato berpindah-pindah posisi dan dipersiapkan untuk mencegah serangan dari Angkatan Laut Amerika Serikat, tetapi tak berhasil menemukan satupun armada musuh. Memasuki bulan Desember, Yamato dan Musashi yang memiliki kapasitas besar ditugaskan sebagai kapal transport pasukan.

 Karena perannya dalam satu terakhir yang tak mampu mempengaruhi jalannya perang, membuat pamornya sebagai lambang kekuatan Angkatan Laut kekaisaran Jepang turun, Yamato terkadang dijuluki sebagai hotel, disebabkan oleh fasilitasnya yang cukup mewah jika dibandingkan dengan kapal militer sebangsanya (hal ini cukup wajar karena Yamato memang dipersiapkan sebagai kapal utama dan menjadi persinggahan pejabat tinggi angkatan laut).

Pada awal tahun 1944, Yamato dipindahkan dari divisi kapal tempur pertama ke armada kedua, kemudian memasuki dok kering untuk remodel dan upgrade besar-besaran. Sebagian besar sistem radarnya diperbarui, 2 meriam sekunder triple-turret 15.5 cm diangkat dan diganti dengan 6x2 meriam anti udara 12.7 cm, persenjataan kaliber 2.5 cm yang sebelumnya berjumlah 24 ditingkatkan hingga berjumlah 162 buah secara berangsur-angsur dengan sebagian ditambah kubah pelindung.

Setelah melewati uji coba ulang pada periode Maret-April, Yamato kemudian bergabung dengan armada pimpinan Wakil Admiral Jizaburo Ozawa, dan ikut serta dalam Pertempuran Laut Filipina, salah menembak pesawat jepang yang baru kembali merupakan satu satunya peran Yamato dalam pertempuran ini.

Selama beberapa bulan kedepan, setelah menjalani perbaikan di Jepang, Yamato dan beberapa kapal tempur lain, ditemani sebelas kapal penjelajah dan kapal perusak dikirim ke selatan, hal ini disebabkan karena banyaknya kapal tanker jepang yang ditenggelamkan oleh kapal selam Amerika Serikat, sehingga sebagian besar armada Jepang ditempatkan di selatan yang dekat dengan sumber bahan bakar.

Memasuki bulan Oktober 1944, Amerika Serikat bergerak ke Filipina, memulai Pertempuran Teluk Leyte untuk memotong jalur suplai daratan utama Jepang dari wilayah selatan yang kaya akan Minyak dan Karet. Menanggapi hal ini, Komando Jepang melancarkan Operasi Shō-Gō  mengirim tiga armada dari arah yang berbeda untuk menghentikan gerak laju Angkatan Laut Amerika. Yamato ditugaskan sebagai bagian dari Armada Pasukan Tengah dibawah pimpinan Admiral Takeo Kurita yang bertolak dari arah Brunei, dimana ia berperan sebagai kapal bendera setelah tenggelamnya Penjelajah Berat Atago oleh kapal selam USS Darter & USS Dace.

Memasuki Laut Sibuyan, pesawat dari gugus tugas 38 Halsey mulai menyerang armada Kurita, pada pertempuran tak seimbang ini, Yamato dijatuhi 2 bomb dan mengalami kerusakan ringan, sementara itu Musashi mulai tenggelam setelah dihantam 17 bom dan 19 torpedo yang dipusatkan kepadanya. Halsey yang mengira Armada Kurita telah mundur dari pertempuran kemudian berbalik mengejar Armada Ozawa di utara, meninggalkan armada kecil sebagai pendukung pasukan pendarat (Taffy 3). Yamato dan armadanya kemudian melewati Selat San Bernadino memasuki Laut Samar dan bertemu dengan “Taffy 3” pimpinan Laksamana Sprague, untuk pertama kalinya (dan terakhir kali) Yamato membuka tembakan kearah kapal musuh, ikut berperan dalam menenggelamkan kapal induk kawal (CVE) USS Gambier Bay. Pada pertempuran ini, Yamato dan armadanya berkesempatan menghancurkan keseluruhan armada itu, termasuk pasukan yang akan mendarat di Filipina, Namun Laksamana Kurita justru memerintahkan armadanya untuk mundur kembali ke Brunei karena ia mengira bahwa yang ia hadapi merupakan Armada Halsey (gugus tugas 38) yang lebih besar.

Dari Brunei, Yamato ditugaskan sebagai kapal bendera armada kedua, ia diperintahkan kembali ke Jepang pada bulan November. Pada perjalanannya, Yamato dan armadanya diserang oleh kapal selam AL Amerika Serikat USS Sealion di Laut Cina Timur dan berhasil lolos dengan selamat, meninggalkan kapal tempur Kongō dan Perusak Urakaze tenggelam disana. Ia melalui perbaikan dan pembaruan persenjataan di Kure, kemudian Kapten Kosaku Aruga ditugaskan untuk memimpin Yamato. Memasuki tahun 1945, peran Yamato menjadi tidak menentu, ia terus berpindah-pindah divisi dan hanya menganggur di Kure, hingga terlibat dalam serangan udara sekutu di Kure pada bulan Maret dan mengalami kerusakan ringan.

Perwira senior Yamato sebelum Operasi Ten-Go
Pada bulan April 1945, Sekutu mulai meluncurkan Operasi Iceberg merebut Okinawa, yang dipersiapkan sebagai langkah awal untuk memulai invasi ke daratan utama Jepang. Menanggapi hal ini petinggi Jepang memutuskan untuk melancarkan segala upaya agar angkatan kekaisaran mampu menahan gerak laju sekutu, termasuk mengerahkan unit serangan khusus (tokkōtai). Kaisar Jepang Hirohito yang mendengar rencana tersebut kemudian menanyakan peran angkatan laut dalam rencana pertahanan ini, petinggi angkatan laut pun merencanakan Operasi Ten-Go. Tujuan dari operasi ini adalah dengan mengirim Yamato ditemani oleh penjelajah ringan Yahagi dan delapan perusak –dengan sedikit atau tanpa perlindungan udara- sebagai bagian dari unit serangan khusus dengan bahan bakar yang tak cukup untuk kembali, Yamato dan armadanya ditugaskan untuk menyerang armada sekutu di lepas pantai Okinawa dan mengkandaskan kapalnya sebagai artileri pantai, dan apabila kapalnya tak mampu beroperasi lagi, seluruh krunya diperintahkan untuk membantu pertahanan pasukan di darat.

Sebagian besar dari pimpinan angkatan laut, termasuk Laksamana Seiichi Ito yang ditugaskan sebagai pemimpin operasi ini sanksi akan keberhasilannya, dan menganggap bahwa aksi ini hanya akan buang buang nyawa dan sumber daya yang sudah cukup terbatas. Laksamana Muda Ryunosuke Kusaka berusaha menjelaskan bahwa serangan ini dapat mengalihkan perhatian armada sekutu dari Okinawa, terutama para petinggi jepang begitu pula Kaisar mengharapkan angkatan laut kekaisaran ikut serta dengan sebaik baiknya dalam mempertahankan Okinawa, sehingga dapat meyakinkan pimpinan angkatan laut yang sebelumnya menolak. Berdasarkan laporan, di malam sebelum keberangkatan ketika pengisian bahan bakar, secara diam diam Yamato dan armadanya diisi dengan semua sisa bahan bakar yang ada di pelabuhan, lebih banyak dari yang sebelumnya direncanakan, meskipun sebenarnya bahan bakar itu masih belum cukup untuk kembali dari Okinawa.

Keesokan harinya, pada tanggal 6 April 1945 pukul 16:00 Yamato dan armadanya berangkat dibawah pimpinan Laksamana Ito. Ketika melewati Selat Bungo, Yamato dipergoki oleh kapal selam USS Threadfin dan USS Hackleback yang kemudian melaporkan posisinya, meskipun Yamato berhasil menangkap pesan yang dikirim oleh kedua kapal selam itu, Laksamana Ito memutuskan untuk berlayar terus. Pada pagi hari pukul 10:00, demi mengecoh Armada Amerika, Yamato mengubah arah ke barat melewati Tanjung Sata di Semenanjung Osumi dengan kecepatan 20 knots (37 km/jam), tetapi kemudian mengarahkan kembali haluannya ke Okinawa ketika gagal menembak jatuh dua pesawat Martin PBM Mariner yang melaporkan posisi mereka. Di waktu yang sama pula, Laksamana Mitscher dari gugus tugas 58 yang terdiri dari beberapa kapal induk meluncurkan ratusan pesawatnya. Laksamana Spruance sebagai pimpinan armada kelima di Okinawa juga menugaskan gugus tugas 54 yang terdiri dari 6 kapal tempur, 7 kapal penjelajah, dan 21 kapal perusak untuk bersiaga apabila Yamato gagal ditenggelamkan dengan serangan udara (pada awalnya gugus tugas 54 yang ditugaskan untuk menahan Yamato, namun Laksamana Mitscher lebih dulu meluncurkan skuadron udaranya tanpa sepengetahuan Spruance).


jalur pergerakan Yamato dan armadanya

Pukul 12:34 terjadi kontak pertama antara kedua pihak, Yamato memulai dengan tembakan peluru tipe 3 anti pesawat dari meriam 46cm, diikuti oleh persenjataan anti udara lainnya. Pesawat tempur F6F Hellcat & F4U Corsair menjadi yang pertama dalam menyerang Yamato dengan berondongan senapan mesin dan serangan roket untuk mengalihkan perhatian persenjataan anti udara, sementara pesawat pengebom tukik SB2C Helldiver menjatuhkan bom dari atas, dan memberi kesempatan pesawat pengebom torpedo TBM Avenger menjatuhkan torpedonya menargetkan lambung kiri Yamato untuk meningkatkan kemungkinan kapal tersebut terbalik. Demi menghindari serangan ini, Yamato meningkatkan kecepatannya menjadi 24 knots (44 km/jam) dan memulai manuver zigzag, meski begitu, Yamato dihantam setidaknya dua bom dan satu torpedo pada serangan gelombang pertama.


Memasuki serangan gelombang kedua pada pukul 13:00, setidaknya terdapat 3 torpedo menghantam bagian kiri, membanjiri lambung kiri Yamato dan membuatnya miring 15–18 derajat ke kiri, kru kapal kemudian membanjiri bagian lambung kanan kapal untuk membuatnya tegak kembali, upaya ini berhasil, tetapi kecepatannya menurun drastis hingga 18 knots (33 km/jam). Memasuki gelombang ketiga pada pukul 13:40, diperkirakan 4 bom menghantam Yamato dan menghancurkan sebagian persenjataan 2.5cm dan membunuh krunya, 3-4 torpedo juga menghantam bagian kapal, dimana diperkirakan menghantam ruang mesin dan kemudi, merusakkan kemampuan Yamato dalam bermanuver, hantaman torpedo itu juga memperparah banjir di lambung kapal sehingga semakin menurunkan kecepatannya hingga 10 knots (19 km/jam). Pada pukul 14:02, Yamato mengalami kebakaran hebat yang tak dapat dipadamkan, ditambah dengan kemudi sulit dikendalikan, sehingga perintah untuk meninggalkan kapal mulai digaungkan, selama tiga menit Yamato semakin miring hingga menampakkan lambung kapal yang tak terlindung, enam pesawat (yang diperkirakan berasal dari USS Yorktown) kemudian menjadikan bagian ini sebagai sasaran yang setidaknya lima sasaran kena, membuat Yamato semakin miring ke kiri.


Pada pukul 14:23, Yamato terbalik, membuat meriam utama 46cm lepas dari tubuhnya, disaat yang sama, sebuah ledakan besar terjadi di bagian gudang senjata, membelah lambang kekuatan angkatan laut Kekaisaran Jepang itu menjadi dua dan menenggelamkannya 340 meter ke dasar laut, membawa pula 3055 kru kapal bersamanya, termasuk komandan armada Laksamana Seiichi Ito dan kapten kapal Kosaku Aruga. Berdasarkan laporan, ledakan tersebut cukup besar hingga menggoyahkan pesawat Amerika yang berada disana, ledakannya menghasilkan awan jamur setinggi 6100 m dan dapat dilihat dari daratan Kyushu yang berjarak 160 km.



Yahagi mendapat serangan udara
Nasib kapal pengawalnya juga tak sebaik Yamato, penjelajah Yahagi yang bergerak dengan kecepatan penuh  35 knots (65 km/jam) untuk memancing serangan dan mengalihkan perhatian dari Yamato, dihantam setidaknya 6 torpedo dan 12 bom, dimana salah satu torpedo menghantam ruang mesin dan menewaskan seluruh kru di dalamnya, menghentikan gerak lajunya, perusak Isokaze yang berniat membantunya juga terkena serangan dan tenggelam, disusul Yahagi pada pukul 14:05. Perusak Asashimo yang mengalami kerusakan mesin harus mundur, tetapi di bom dan tenggelam kemudian, Perusak Kasumi yang mengalami kerusakan parah dan tak mampu melanjutkan pertempuran, juga ditenggelamkan oleh kawannya sendiri, Perusak Hamakaze dan Suzutsuki juga mengalami kerusakan parah dan harus mundur dari pertempuran, dimana Hamakaze ditenggelamkan kemudian, sedangkan Suzutsuki berhasil kembali ke Sasebo dengan bergerak mundur setelah haluannya rusak parah. Sisa armada yang tersisa, perusak Fuyutsuki, Yukikaze, dan Hatsushimo kemudian menyelamatkan 280 korban selamat dari Yamato, begitu pula dengan 555 kru dari penjelajah Yahagi dan 800 orang lainnya dari kapal perusak lain. Berdasarkan kesaksian dari survivor Jepang, beberapa pesawat Amerika menembaki sisa sisa kru Yamato yang mengapung di air, tetapi juga menghentikan serangan mereka ketika kapal perusak jepang mengevakuasi korban selamat tersebut. Selama pertempuran ini, diperkirakan 3700 hingga 4250 personel Angkatan Laut Kekaisaran Jepang kehilangan nyawanya, sementara armada Jepang hanya mampu menembak jatuh 10 pesawat dan menewaskan 12 Personel. Pertempuran ini menjadi operasi angkatan laut terakhir, setelah Operasi Ten-Go, angkatan laut Jepang tak lagi mampu untuk menahan gerakan ofensif sekutu. Diledakkannya 2 bom atom di tanah jepang, invasi soviet di Manchuria, dan juga atas keinginan Kaisar Hirohito sendiri, Jepang pun menerima Deklarasi Postdam dan menyerah kepada sekutu pada 15 Agustus 1945, diikuti dengan penandatanganan penyerahan tanpa syarat pada 2 September 1945, di geladak kapal USS Missouri di Teluk Tokyo, secara resmi mengakhiri konflik 3 tahun 8 bulan di Pasifik.

Pasca Perang

Pada tahun 1982 dimulai ekspedisi untuk mencari bangkai kapal Yamato, ekspedisi tersebut berhasil menemukan beberapa puing puing yang belum teridentifikasi, dua tahun kemudian, dimulai ekspedisi kedua, dimana bangkai kapal Yamato berhasil dikonfirmasi atas bantuan salah satu perancang kapal tempur, Shigeru Makino. Dimana bangkai kapal Yamato terletak di 290 km barat daya Kyushu (30°22′Lintang Utara 128°04′ Bujur timur). Pada tahun 2005, dibangun Museum Yamato di Kure, tempat kelahirannya, dengan menampilkan model replika Yamato berskala 1:10.

Yamato merupakan sebuah mahakarya, ia lahir sebagai lambang angkatan laut negerinya, lahir dikala negerinya mengobarkan kecamuk perang, dan mengakhiri riwayatnya sebagai satu-satunya harapan. Sayangnya, Yamato merupakan sebuah keterlambatan, ia lahir dikala negerinya sendiri menciptakan gagasan perang yang baru, ia muncul ketika pesawat telah menguasai langit, ia datang disaat kapal induk mulai menguasai laut, dan akhirnya ia binasa dikala harapan kapal tempur untuk menguasai pertempuran hampir tak ada lagi.

Yamato tak ubahnya sebuah legenda, sepak terjangnya mungkin tak sehebat Bismarck atau tak sepanjang Iowa-Class. Tetapi perannya merupakan sesuatu yang patut diperhitungkan, usahanya dalam menghentikan gerak laju sekutu mungkin sia-sia, tetapi keberanian dalam mempertahankan tanah airnya tetap diingat hingga lebih dari 7 dekade lamanya, dan selama itu pula, status Yamato sebagai kapal tempur terbesar di dunia tak tergantikan. Bagi rakyat Jepang, Yamato merupakan simbol kekuatan bangsanya, yang tetap berjuang sampai akhir bagaikan Samurai sejati.







Share:

0 comments:

Posting Komentar