Memasuki abad ke-18, Eropa telah memanfaatkan tenaga mesin sebagai alat
produksi di pabrik–pabrik menggantikan tenaga manusia, ekonomi yang sebelumnya
berorientasi pada agraria beralih menjadi industri. Perubahan inilah yang
kemudian disebut sebagai Revolusi industri. Revolusi Industri ini membawa
dampak signifikan dalam kehidupan masyarakat baik itu dalam ekonomi, politik, maupun
sosial budaya.
Revolusi industri membuat negara-negara Eropa semakin membutuhkan wilayah
koloni. Karena Revolusi Industri meningkatkan kapasitas produksi negara-negara
Barat, maka terjadi kebutuhan yang sangat besar akan bahan mentah demi memenuhi
permintaan, sementara wilayah yang luas juga membuat permintaan pasar semakin
besar pula. Dengan demikian, negara-negara industri memperluas koloni di mana
terdapat bahan mentah berlimpah sebagai impor bahan baku produksi dan
mengekspornya kembali ke wilayah koloni sebagai barang jadi. Koloni menyediakan
negara industri pasar yang siap pakai untuk membeli barang-barang mereka,
karena masyarakat di koloni kurang lebihnya tidak memiliki kemampuan signifikan
dalam menghasilkan produk mereka sendiri. Menguasai banyak wilayah memberi kemampuan
untuk menekan kemampuan mereka dalam memproduksi barang dan menciptakan outlet
pasar untuk produk mereka sendiri.
Dengan kata lain, penyebaran pengaruh dari Revolusi Industri ini
menyebabkan pergeseran dalam strategi perdagangan dengan daerah koloni. Ketika
sebelumnya negara Eropa menjadi pembeli utama produk kolonial (impor), pasca
Revolusi Industri negara-negara industri menjadi penjual (ekspor) dengan
memanfaatkan wilayah koloni sebagai pasar untuk meningkatkan volume produksi.
Sejalan dengan hal ini, terjadi pergeseran permintaan komoditas yang diproduksi
di daerah kolonial. Rempah-rempah, gula, dan budak menjadi kurang diminati seiring
dengan kemajuan industrialisasi, digantikan dengan mulai meningkatnya
permintaan bahan mentah industri (misalnya kapas, wol, bahan pewarna, dan lain
sebagainya) dan komoditas perkebunan (gandum, teh, kopi, coklat, dan lain
sebagainya).
Afrika pada abad ke-19 misalnya, negara Eropa menyebabkan pengaruh yang besar
pada pertanian tradisional dan praktik penggembalaan. Selama berabad-abad, petani
lokal telah beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan dengan kondisi tersebut. Namun,
orang Eropa menganggap teknik pertanian seperti itu sia-sia dan tidak sesuai
dengan tanaman ekspor yang ingin mereka tanam. Di seluruh benua Afrika, kaum
imperialis mengambil alih tanah dan mengarahkan produksinya menjadi tanaman
komersial untuk diekspor: seperti kapas, kopi, tebu, dan kakao. Salah satu
akibat langsung dari hal ini adalah produksi pangan untuk mayoritas penduduk
koloni terabaikan, dan perekonomian lokal mengalami penurunan.
Pergeseran pola perdagangan ini juga menyebabkan perubahan jangka panjang
dalam kebijakan politik dan praktik pemerintahan kolonial serta akuisisi
wilayah koloni. Berbagai peninjauan
ulang kebijakan juga terjadi sebagai bagian dari konflik politik nasional dari
tiap negara-negara industri Eropa. Seperti misalnya monopoli perdagangan British East India Company. Berbagai
ekspor komoditas yang sebelumnya diberikan hak monopoli kemudian dianggap
sebagai hambatan bagi pengembangan pasar untuk produksi Inggris, sehingga pada
akhirnya, kekuasaan-kekuasaan perusahaan dagang di wilayah koloni melemah dan
wilayah-wilayah tersebut diambil alih secara langsung oleh negara. Keinginan
untuk menciptakan pasar dan tekanan kebutuhan bahan baku dan komoditas baru
tercermin dalam praktik kebijakan koloni, yang berusaha untuk menyesuaikan
daerah kolonialnya dengan prioritas baru industri. Adaptasi ini akhirnya juga
ikut melibatkan perubahan besar dalam sistem sosial dari berbagai
wilayah-wilayah koloni Eropa di seluruh dunia.
Kemudian, akibat dari hal tersebut terjadi pergeseran total antara
penduduk dan sistem kehidupan sosial budaya masyarakat pribumi menjadi sistem
yang mirip dengan masyarakat Eropa. Contoh yang paling jelas terdapat pada
koloni di benua Amerika. Perubahan sosial budaya masyarakat pribumi dapat
terjadi karena salah satu atau gabungan dari dua alasan. Pertama, masyarakat
pribumi tersisih dan terusir (dalam beberapa peristiwa tertentu, dibasmi)
sehingga memberikan ruang bagi pemukim dari Eropa untuk mengakuisisi wilayah
dan tanah hingga ke pedalaman dan mengembangkan industri pertanian dan
perkebunan tanah-tanah ini di bawah sistem sosial yang diimpor dari
negara-negara penjajah. Atau kedua, masyarakat pribumi “terpaksa” menyesuaikan
dengan perubahan yang dibawa oleh negara-negara tersebut.
Ada juga kemajuan baru dalam bidang kedokteran, di bidang kesehatan
semakin banyak obat-obatan ditemukan dan ilmu kedokteran berkembang
menghasilkan upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan yang semakin baik. yang
memungkinkan orang Eropa untuk lebih tahan terhadap penyakit-penyakit tertentu
di wilayah asing, seperti malaria atau demam kuning. Dengan demikian, Revolusi
industri memberikan bangsa Eropa kemampuan untuk memperluas wilayahnya lebih
cepat, dengan begitu juga mempengaruhi keadaan politik di kawasan-kawasan
tersebut.
Selama abad ke-18, dan semakin terlihat jelas pada abad ke-19 dan ke-20,
kesenjangan antara negara-negara yang berteknologi maju dan daerah-daerah
terbelakang terus meningkat meskipun teknologi modern telah menyebar ke
daerah-daerah koloni. Aspek terpenting dari perbedaan ini adalah keunggulan
persenjataan, karena keunggulan ini memungkinkan bangsa Eropa mampu menekan
kekuasaannya pada penduduk kolonial meskipun berjumlah jauh lebih besar. Dan
bersama dengan hal ini, muncul pandangan dari kekuasaan minoritas orang asing
tentang rasisme dan superioritas bangsa Eropa yang memandang koloninya sebagai
bangsa yang lebih inferior, hal ini juga menjadi salah satu penyebab
bergesernya sistem sosial budaya pada masyarakat pribumi, seperti yang telah
disebutkan diatas.
Adapun dalam beberapa masa tersebut, Ekspansi kolonial mengakibatkan
perlawanan dari bangsa yang dijajah. Disisi negara koloni juga terjadi
persaingan pengaruh wilayah kekuasaan hingga terjadi konflik, misalnya perang
dunia. Melihat persaingan antara kekuatan penjajah ini, beserta berbagai faktor
faktor lain seperti perkembangan pendidikan, kemudian timbul kesadaran
berbangsa dan bernegara yang semakin kuat, sehingga memunculkan gerakan-gerakan
kemerdekaan di berbagai wilayah koloni.
Bisa dikatakan, revolusi industri ini merupakan pendorong utama di balik
proses globalisasi. Dalam masyarakat tradisional, seseorang atau sekelompok
masyarakat dapat hidup mandiri dalam memenuhi sebagian besar kebutuhan mereka.
Makanan dan pakaian dapat diambil sebagian besar dari tanah atau hewan. Pasca
revolusi industri, segala bentuk kebutuhan ini baru didapatkan melalui berbagai
perdagangan regional dan global yang luas dan saling mempengaruhi berbagai
aspek-aspek kehidupan. Revolusi industri ini jugalah yang mempengaruhi (dan
dipengaruhi) berbagai paham-paham ekonomi, seperti kapitalis-liberal atau
sosialis-komunis, yang mana berbagai paham-paham ini juga akan mempengaruhi
berbagai sistem politik, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat hingga beberapa
dekade kedepannya.
Referensi
1. Parvanova,
D. (2017). The industrial revolution was the force behind the New Imperialism. ESSAI, 15(2), 95-99.
2. Davut,
A. T. E. Ş. (2008). INDUSTRIAL REVOLUTION: Impetus Behind the Globalization
Process. YÖNETİM VE EKONOMI, 15(2) 31-48.
3. Fajariah,
M., & Suryo, D. (2020). Sejarah Revolusi Industri di Inggris Pada Tahun
1760-1830. HISTORIA: Jurnal Program Studi
Pendidikan Sejarah, 8(1), 77-94.
4. Baiquni,
M. (2009). Revolusi industri, ledakan penduduk dan masalah lingkungan. Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan,
1(1), 38-59.
5.
Britannica. “European Expansion Since 1763”. <https://www.britannica.com/topic/Western-colonialism/European-expansion-since-1763>
(diakses pada 13 Oktober 2020).
6.
Industrial Revolution
Reference Library. "Social and
Political Impact of the First Phase of the Industrial Revolution". <https://www.encyclopedia.com/history/encyclopedias-almanacs-transcripts-and-maps/social-and-political-impact-first-phase-industrial-revolution>
(diakses pada 14 Oktober 2020).
0 comments:
Posting Komentar