Minggu, 25 Oktober 2020

Pengaruh Revolusi Industri Eropa pada Wilayah-Wilayah Koloni

 

Memasuki abad ke-18, Eropa telah memanfaatkan tenaga mesin sebagai alat produksi di pabrik–pabrik menggantikan tenaga manusia, ekonomi yang sebelumnya berorientasi pada agraria beralih menjadi industri. Perubahan inilah yang kemudian disebut sebagai Revolusi industri. Revolusi Industri ini membawa dampak signifikan dalam kehidupan masyarakat baik itu dalam ekonomi, politik, maupun sosial budaya.

Revolusi industri membuat negara-negara Eropa semakin membutuhkan wilayah koloni. Karena Revolusi Industri meningkatkan kapasitas produksi negara-negara Barat, maka terjadi kebutuhan yang sangat besar akan bahan mentah demi memenuhi permintaan, sementara wilayah yang luas juga membuat permintaan pasar semakin besar pula. Dengan demikian, negara-negara industri memperluas koloni di mana terdapat bahan mentah berlimpah sebagai impor bahan baku produksi dan mengekspornya kembali ke wilayah koloni sebagai barang jadi. Koloni menyediakan negara industri pasar yang siap pakai untuk membeli barang-barang mereka, karena masyarakat di koloni kurang lebihnya tidak memiliki kemampuan signifikan dalam menghasilkan produk mereka sendiri. Menguasai banyak wilayah memberi kemampuan untuk menekan kemampuan mereka dalam memproduksi barang dan menciptakan outlet pasar untuk produk mereka sendiri.

Dengan kata lain, penyebaran pengaruh dari Revolusi Industri ini menyebabkan pergeseran dalam strategi perdagangan dengan daerah koloni. Ketika sebelumnya negara Eropa menjadi pembeli utama produk kolonial (impor), pasca Revolusi Industri negara-negara industri menjadi penjual (ekspor) dengan memanfaatkan wilayah koloni sebagai pasar untuk meningkatkan volume produksi. Sejalan dengan hal ini, terjadi pergeseran permintaan komoditas yang diproduksi di daerah kolonial. Rempah-rempah, gula, dan budak menjadi kurang diminati seiring dengan kemajuan industrialisasi, digantikan dengan mulai meningkatnya permintaan bahan mentah industri (misalnya kapas, wol, bahan pewarna, dan lain sebagainya) dan komoditas perkebunan (gandum, teh, kopi, coklat, dan lain sebagainya).

Afrika pada abad ke-19 misalnya, negara Eropa menyebabkan pengaruh yang besar pada pertanian tradisional dan praktik penggembalaan. Selama berabad-abad, petani lokal telah beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan dengan kondisi tersebut. Namun, orang Eropa menganggap teknik pertanian seperti itu sia-sia dan tidak sesuai dengan tanaman ekspor yang ingin mereka tanam. Di seluruh benua Afrika, kaum imperialis mengambil alih tanah dan mengarahkan produksinya menjadi tanaman komersial untuk diekspor: seperti kapas, kopi, tebu, dan kakao. Salah satu akibat langsung dari hal ini adalah produksi pangan untuk mayoritas penduduk koloni terabaikan, dan perekonomian lokal mengalami penurunan.

Pergeseran pola perdagangan ini juga menyebabkan perubahan jangka panjang dalam kebijakan politik dan praktik pemerintahan kolonial serta akuisisi wilayah koloni.  Berbagai peninjauan ulang kebijakan juga terjadi sebagai bagian dari konflik politik nasional dari tiap negara-negara industri Eropa. Seperti misalnya monopoli perdagangan British East India Company. Berbagai ekspor komoditas yang sebelumnya diberikan hak monopoli kemudian dianggap sebagai hambatan bagi pengembangan pasar untuk produksi Inggris, sehingga pada akhirnya, kekuasaan-kekuasaan perusahaan dagang di wilayah koloni melemah dan wilayah-wilayah tersebut diambil alih secara langsung oleh negara. Keinginan untuk menciptakan pasar dan tekanan kebutuhan bahan baku dan komoditas baru tercermin dalam praktik kebijakan koloni, yang berusaha untuk menyesuaikan daerah kolonialnya dengan prioritas baru industri. Adaptasi ini akhirnya juga ikut melibatkan perubahan besar dalam sistem sosial dari berbagai wilayah-wilayah koloni Eropa di seluruh dunia.

Kemudian, akibat dari hal tersebut terjadi pergeseran total antara penduduk dan sistem kehidupan sosial budaya masyarakat pribumi menjadi sistem yang mirip dengan masyarakat Eropa. Contoh yang paling jelas terdapat pada koloni di benua Amerika. Perubahan sosial budaya masyarakat pribumi dapat terjadi karena salah satu atau gabungan dari dua alasan. Pertama, masyarakat pribumi tersisih dan terusir (dalam beberapa peristiwa tertentu, dibasmi) sehingga memberikan ruang bagi pemukim dari Eropa untuk mengakuisisi wilayah dan tanah hingga ke pedalaman dan mengembangkan industri pertanian dan perkebunan tanah-tanah ini di bawah sistem sosial yang diimpor dari negara-negara penjajah. Atau kedua, masyarakat pribumi “terpaksa” menyesuaikan dengan perubahan yang dibawa oleh negara-negara tersebut.

Ada juga kemajuan baru dalam bidang kedokteran, di bidang kesehatan semakin banyak obat-obatan ditemukan dan ilmu kedokteran berkembang menghasilkan upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan yang semakin baik. yang memungkinkan orang Eropa untuk lebih tahan terhadap penyakit-penyakit tertentu di wilayah asing, seperti malaria atau demam kuning. Dengan demikian, Revolusi industri memberikan bangsa Eropa kemampuan untuk memperluas wilayahnya lebih cepat, dengan begitu juga mempengaruhi keadaan politik di kawasan-kawasan tersebut.

Selama abad ke-18, dan semakin terlihat jelas pada abad ke-19 dan ke-20, kesenjangan antara negara-negara yang berteknologi maju dan daerah-daerah terbelakang terus meningkat meskipun teknologi modern telah menyebar ke daerah-daerah koloni. Aspek terpenting dari perbedaan ini adalah keunggulan persenjataan, karena keunggulan ini memungkinkan bangsa Eropa mampu menekan kekuasaannya pada penduduk kolonial meskipun berjumlah jauh lebih besar. Dan bersama dengan hal ini, muncul pandangan dari kekuasaan minoritas orang asing tentang rasisme dan superioritas bangsa Eropa yang memandang koloninya sebagai bangsa yang lebih inferior, hal ini juga menjadi salah satu penyebab bergesernya sistem sosial budaya pada masyarakat pribumi, seperti yang telah disebutkan diatas.

Adapun dalam beberapa masa tersebut, Ekspansi kolonial mengakibatkan perlawanan dari bangsa yang dijajah. Disisi negara koloni juga terjadi persaingan pengaruh wilayah kekuasaan hingga terjadi konflik, misalnya perang dunia. Melihat persaingan antara kekuatan penjajah ini, beserta berbagai faktor faktor lain seperti perkembangan pendidikan, kemudian timbul kesadaran berbangsa dan bernegara yang semakin kuat, sehingga memunculkan gerakan-gerakan kemerdekaan di berbagai wilayah koloni.

Bisa dikatakan, revolusi industri ini merupakan pendorong utama di balik proses globalisasi. Dalam masyarakat tradisional, seseorang atau sekelompok masyarakat dapat hidup mandiri dalam memenuhi sebagian besar kebutuhan mereka. Makanan dan pakaian dapat diambil sebagian besar dari tanah atau hewan. Pasca revolusi industri, segala bentuk kebutuhan ini baru didapatkan melalui berbagai perdagangan regional dan global yang luas dan saling mempengaruhi berbagai aspek-aspek kehidupan. Revolusi industri ini jugalah yang mempengaruhi (dan dipengaruhi) berbagai paham-paham ekonomi, seperti kapitalis-liberal atau sosialis-komunis, yang mana berbagai paham-paham ini juga akan mempengaruhi berbagai sistem politik, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat hingga beberapa dekade kedepannya.

 

Referensi

1.      Parvanova, D. (2017). The industrial revolution was the force behind the New Imperialism. ESSAI, 15(2), 95-99.

2.      Davut, A. T. E. Ş. (2008). INDUSTRIAL REVOLUTION: Impetus Behind the Globalization Process. YÖNETİM VE EKONOMI, 15(2) 31-48.

3.      Fajariah, M., & Suryo, D. (2020). Sejarah Revolusi Industri di Inggris Pada Tahun 1760-1830. HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, 8(1), 77-94.

4.      Baiquni, M. (2009). Revolusi industri, ledakan penduduk dan masalah lingkungan. Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan, 1(1), 38-59.

5.      Britannica. “European Expansion Since 1763”. <https://www.britannica.com/topic/Western-colonialism/European-expansion-since-1763> (diakses pada 13 Oktober 2020).

6.      Industrial Revolution Reference Library. "Social and Political Impact of the First Phase of the Industrial Revolution". <https://www.encyclopedia.com/history/encyclopedias-almanacs-transcripts-and-maps/social-and-political-impact-first-phase-industrial-revolution> (diakses pada 14 Oktober 2020).

 

p.s: iseng kuapload, ini sebenarnya cuma salah satu tugas kuliah dari almarhum dosen favoritku

Share:

0 comments:

Posting Komentar